OOT
Banyak yang ingin diceritakan
macam-macam yang ingin ditulis
mungkin belum saatnya…
Kawan-kawan blogger,
untuk sementara saya akan mentas dari dunia perbloggeran
sampai ketemu lain kali ya…
I luv U just d’ Y U R…!
Pernah merasa bersalah menjadi diri sendiri? Saya sering. Terutama jika berkaitan dengan karakter dan watak asli saya yang beberapa negatif dan semi negatif. Bukannya tak mau memperbaiki, sampai saat ini saya masih berupaya mencari kebenaran dan pembenaran. Tak setiap orang bisa berubah dengan cepat, apalagi jika dihadapkan dengan latar belakang dan cerita masa lalu yang begitu dalam. Berat rasanya harus meninggalkan apa-apa yang telah menjadi bagian hidup dan jiwa kita.
Karena itu, saya membuat blog ini. Selain menjadi muara saya untuk banyak bercerita, menyalurkan sifat narsis saya (bakat jadi seleb? Ought!), juga menjadi alibi kenapa saya seperti ini atau seperti itu, yang mungkin dimata ikhwah fillah saya sangat berbeda dari karakter akhwat kebanyakan. Yeah, akhirnya saya mengakui itu. Perasaan yang sudah lama saya pendam. Saya ingin menghindar dari prasangka, tanya dan tuduhan wartawan gosip dan infotainment karena semua kenyataan berawal dari sana *hehehe… jadi ilfil ya, rasain!* Continue reading this entry »
Psikologi Suami Istri, Memahami Karakter Dasar Pria dan Wanita
Awal Ramadhan lalu saya sempatkan untuk membaca buku Psikologi Suami Istri milik teman saya. Sudah dua-tiga bulan berada di tangan saya, namun hal lain lebih menyita perhatian saya dari buku itu. Karena buku 700 halaman itu lumayan memakan tempat di rak buku, saya harus segera mengembalikannya, dengan konsekuensi membacanya terlebih dahulu. Rasanya sayang jika ada ilmu dan pengetahuan baru untuk saya lewatkan begitu saja.
Sedikit mengikhtisarkan isi buku tersebut, karena memang tidak bisa di sebut resensi. Seratus halaman pertama saya baca dengan susah payah, karena saya teramat jenuh dan bosan membaca pembahasan yang bagi saya berulang-ulang dan bertele-tele. Memang ada beberapa tipe penulis yang seperti itu. Namun memang bukan salah si penulis, karena memang kadang saya merasa memiliki energi lebih untuk memikirkan atau melakukan sesuatu sehingga sering irama saya tidak sama dengan orang lain, dengan penulis buku yang saya baca atau dengan partner aktivitas. Hal ini kadang menjadi sumber kejengkelan saya karena menuduh orang lain terlalu lambat dan sebagainya. Begitu juga untuk selera musik, meski bisa menikmati lagu-lagu melow, saya lebih sering mendengarkan musik dengan beat cepat, diiringi dentum drum yang dinamis dan atraktif, lengkap dengan bass dan suara pelengkap lain dari mixer dan turn table. Lagu jedug-jedug lah… Seorang sahabat sampai berkata, “Tolong kopikan lagu ya, mana aja yang kamu nggak suka,” karena dia lebih menyukai lagu-lagu berirama lembut. Continue reading this entry »
=oo00 dimulai dengan ilmu 00oo=
Sebuah forum diskusi pada sebuah grup di Facebook menulis topik ini.
Ikhwan Searching For Akhwat: Passive or Active Mode?
“Ada dua ‘mode pencarian’ yang ada saat ini :
Mode 1, Passive Mode. Si ikhwan masih bersikap pasif, saklek mengikuti tata cara umum. Dia nungguin MRnya ngasih alternatif2 biodata2 untuk dipilih, baru dia pilih dari biodata2 yg ditawarin itu.
Mode 2, Active mode. Si ikhwan bersikap aktif dan berinisiatif sendiri dlm mencari akhwat idamannya. Dia cari kesana-kemari melalui berbagai media atau event, inget2 temen lama, dsb. Trus klo udah dapet baru dia laporan sama MR klo dia udah dapet calon idamannya.
“Nah, pertanyaannya, menurut antum mana cara yg paling baik, aktif mode or pasif mode kah? Berikan alasannya, plus minusnya, dsb. Dan jujur, antum sendiri lebih prefer untuk pake cara yg mana?” Continue reading this entry »
setujukah bila komen di blog ini ditiadakan?
saya memang agak parno, entah kenapa saya merasa kurang nyaman dengan keberadaan komen di blog ini. padahal sejak awal saya menginginkan blog ini adalah sisi lain diri saya, yang mungkin tak dapat saya tunjukkan saat bertemu teman2 di dunia nyata. atau tempat berbagi, di mana fitrah seorang wanita menyukai untuk bercerita meski tak membutuhkan solusi.
saya merasa komen ini memberi efek yang kurang baik untuk independensi pemikiran atau ide yang akan saya posting di blog ini. membuat saya tak lagi semau gua dan apa adanya. but, sebagai blogger, kadang saya merasa kecewa jika tidak dapat menulis komen diblog teman, misalnya karena harus login dengan id dari penyedia fasilitas. maka saya membutuhkan masukan.
so, setujukah teman-teman bila form komen dalam blog ini ditiadakan?
dari zaman sekarang sampai tempo doeloe…
Cerita unik yang layak berita atau patut jadi bahan cerita memang bisa ditemukan dimana-mana. But, aku nggak pernah nyangka kalau sebagian dari cerita unik itu banyak menghiasi kehidupanku. Ini contohnya….
Jadi istri ketiga tentu bukan impian kembang desa berwajah india itu. Apalagi sang suami yang pembalap motocross itu juga menggondol status preman dan ditakuti banyak orang. Komplit deh… jeleknya! Namun takdir telah digariskan. Sampai bertahun kemudian, belum kulihat keadilan yang seharusnya dia dapat dari sebuah institusi informal bernama poligami itu. Meski kemudian dari pernikahan mereka aku memiliki ponakan yang sangat lucu dan kusayang diantara belasan ponakan yang lain. Continue reading this entry »
Jangan Patah Hati Dulu, Bila Ditolak Akhwat
Para ikhwan sebaiknya membaca tulisan ini, apalagi jika berada di usia pernikahan. Para akhwat baca juga ya, untuk melengkapi dan mengevaluasi tulisan ini.
Ada beragam reaksi ikhwan saat ditolak akhwat, entah itu ditolak untuk bertaaruf, atau ditolak setelah taaruf dilakukan dan yang pasti ditolak meminjam handphone bukan bagian dari pembahasan ini. Mengikuti kebiasaan peradaban dunia, di mana kaum pria dituntut pro aktif untuk mencari dan meminta kesediaan kepada calon pasangan hidupnya, sudut pandang inilah yang saya ambil.
Di beberapa bagian dunia dan beberapa kasus yang berbeda, judul postingan ini bisa dibalik, “Jangan Patah Hati Dulu, Bila Ditolak Ikhwan”, meski mungkin argumentasi dibawah khas banget akhwat. Dominasi logika pada ikhwan dan perasaan pada akhwat tentunya banyak berpengaruh.
Sebagaimana seorang ikhwanyang membutuhkan keberanian ekstra, tekad dan kepercayaan diri saat mengungkapkan niatnya, akhwatpun merasa serba salah ketika hendak menyampaikan tanggapan atau jawaban. Continue reading this entry »
