~~blinking to the word~~



Pacaran Islami, Yang Bener Aja!

[tanggapan atas tulisan yang dimuat dalam fauzansa.wordpress.com]

Dari judulnya saja pasti sudah bisa diketahui saya berada pada pihak yang berbeda dengan isi tulisan tersebut. Saya rasa, penulis adalah orang sangat rasional dan mementingkan logika. Ya, mungkin saya memang tidak memiliki argumen yang se-ilmiah dia, tapi dengan mengeluarkan pikiran yang ada diotak saya dan bisa berbagi pengalaman dengan teman-teman, tentu bukan sesuatu yang merugikan.

Dalam tulisannya penulis mengemukakan argumen yang membawa kita pada kisah-kisah sahabiah (sayang saat saya menulis ini, saya lupa membawa kopian tulisannya). Penulis mengatakan tidak adanya hadis yang menyatakan bahwa pacaran dilarang secara tegas, sebagai pijakan untuk mengatakan bahwa pacaran bersifat netral. Afwan, saya tidak sedang menganalisa tulisan, jadi mungkin apa yang disampaikan tidak menanggapi poin per poin dari tulisan itu.

Yang saya catat adalah penulis lupa bahwa larangan ber-’pacaran’, selama ini diidentikkan dengan mendekati zina, karena lebih dari satu dua hal yang telah dibantah dalam tulisannya. Secara tegas, Rasullullah telah menyebutkan bahwa manusia pasti akan terbawa ke dalam zina (kecil); zina hati, zina mata, zina telinga, zina kaki. Ini terjadi karena sifat fitrah manusia yang memiliki kecenderungan terhadap lawan jenis. Saat seseorang membiarkan zina-zina kecil bertebaran, bukan tidak mungkin dia akan menganggap remeh terjadinya zina yang sesungguhnya (amargo wis kulino).

Kemudian lebih ekstrim lagi Allah telah melarang kaum muslimin untuk berikhtilat, bercampur baur antara kaum pria dan wanita, meski untuk tujuan yang jelas, misalnya belajar. Apalagi khalwat yang jelas-jelas hanya berdua. Disini saya beranggapan khalwat bukan sekedar berdua di taman yang sepi atau di rumah kosong. Rame-rame, di halaman masjid, kalau berpasang-pasangan tidak ada bedanya, bukan?

Diluar itu sebagai seorang muslim yang sadar diri (insya Allah, kabulkan ya Rabb…) dan cukup paham terhadap Ad-Dien, ada beberapa hal yang dianjurkan untuk dilakukan sebagai mana generasi salafy telah melakukannya (kok jadi seperti tips ya, nggak papalah, saya belum menemukan kalimat yang lebih pas), misalnya tidak berlebihan dalam melakukan sesuatu yang mubah, karena hal itu dapat memperkeruh hati (misalnya mendengarkan musik, rihlah). Apalagi melakukan sesuatu yang subhat, (bagi saya, dalam tulisan tersebut kita diposisikan sebagai seorang yang berada di persimpangan jalan alias ragu-ragu), karena hal yang subhat lebih dekat kepada haram.

Saat membaca tulisan itu, sungguh menurut saya kacau sekali sebenarnya. Meski menggunakan bahasa yang runtut, kisah-kisah yang kasat mata, argumen yang panjang, tetap tercermin ada banyak sisi-sisi lain yang belum diketahui oleh penulis. Semoga bukan karena kita berusaha memandangnya dengan satu frame saja. Semoga bukan karena kita terpengaruh oleh provokator teman-teman Islam Liberal, tetapi ikhlas diniatkan untuk keridhaan Allah semata.

Saya percaya, frens fillah yang merasa bangga sebagai seorang muslim, tidak akan mengambil resiko konyol terpeleset pada hal yang bukan haq. Mudah-mudahan Allah membuka hati kita untuk terus mencari kebenaran. Semoga dengan upaya kita untuk menjaga pandangan, Allah akan mengkeruniai dengan manisnya iman.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.(QS. Al-Ahzab : 36 )


    Lacak Balik & Ping Balik

  1. Berduaan dengan pacar, haramkah? « Pacaran Islami diping balik di/pada 2 years, 2 months ago
  2. Lacak Balik & Ping Balik

  3. Kalau Johnnie Walker Lagi Ta’aruf « The Satrianto Show! diping balik di/pada 1 year, 11 months ago
  4. Lacak Balik & Ping Balik

  5. Pacaran Ga Haram Kok!! « Parking Area diping balik di/pada 1 year, 11 months ago
  6. Lacak Balik & Ping Balik

  7. postingan best seller « ~~Depth Lagoon~~ diping balik di/pada 1 year, 1 month ago

Komentar

  1. Aswad berkata:

    Wah tetanggaku emang sip…
    Sy pernah berdebat sengit sm beliau (fauzansa)
    Menurut beliau yg harus diperangi bukan pacaran, tp ‘metode pacaran’nya. Dengan dalih bahwa tidak ada hadist yg memuat kata ‘pacaran’.
    Nah, waktu itu sy balik nanya kalo memang ‘pacaran islami’ itu adalah pacaran yg ga berkhalwat, ga pandang2an, ga bersentuhan, ga menggangu ibadah, nah terus pacarannya kayak gimana?
    SMS? Telepon? Bukankah itu bentuk lain dari khalwat juga?
    So, pacaran islami? Mana ada….

    Telah Dituliskan 3 years, 6 months ago
  2. fauzansa berkata:

    Oi, yan, emang bedanya ta’aruf sama pacaran apa? kalo saya sih, nggak ada bedanya. ta’aruf adalah salah satu metode pacaran kok (entah via murabbi ato nggak).

    Sebelum kalian menyalahkan suatu artikel, liat dulu batasan permasalahannya. Liat dulu definisi yang diberikan kayak apa. Kalo kita mbahas dengan definisi yang lain, ini kayak yang satu ngomong apel yang lain ngomong jeruk. Ya nggak nyambung tho. Wong jelas beda.

    kalo masalah SMS dan telepon, bagaimana mungkin dikatakan sebagai khalwat. wong mereka terpisah jarak kok. khalwat definisi nabi ya berdua-duaan dalam satu tempat. ini khan tempatnya udah lain. jangan mengada-ada ah. ntar malah bid’ah lo. trus, kalo nulis surat gimana? apa jaman nabi yang udah ada surat ada larangan berkirim-kiriman surat? gak ada khan. kalo cuman smsan ato chatting sih, no problemo. kalo masalah telepon, yang penting jangan ngomong jorok aja.

    Telah Dituliskan 3 years, 6 months ago
  3. fauzansa berkata:

    Apakah yang dimaksud dengan khalwat?
    Anas bin Malik berkata, جاءت امرأة من الأنصار إلى النبي صلى الله عليه وسلم ?خلا بها ?قال والله إنكم لأحب الناس إلي “Datang seorang wanita dari kaum Ansor kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pun berkhalwat dengannya, lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Demi Allah kalian (kaum Anshor) adalah orang-orang yang paling aku cintai?12
    Imam Al-Bukhori memberi judul hadits ini dengan perkataannya,باب ما يجوز أن يخلو الرجل بالمرأة عند الناس “Bab : Dibolehkannya seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita jika di hadapan khalayak?
    Ibnu Hajar berkata, “Imam Al-Bukhori menyimpulkan hukum (dalam judul tersebut dengan perkataannya) “dihadapan khalayak? dari perkataan Anas bin Malik dari riwayat yang lain13 “Maka Nabipun berkhalwat dengannya di sebagian jalan atau sebagian السكك (sukak)?. Dan السكك, adalah jalan digunakan untuk berjalan yang biasanya selalu dilewati manusia?
    Ibnu Hajar berkata, “Yaitu ia tidak berkhalwat dengan wanita tersebut hingga keduanya tertutup dari pandangan khalayak (tersembunyi dan tidak kelihatan-pen), namun maksudnya dibolehkan khalwat jika (mereka berdua kelihatan oleh khalayak) namun suara mereka berdua tidak terdengar oleh khalayak karena ia berbicara dengannya perlahan-lahan, contohnya karena suatu perkara yang wanita tersebut malu jika ia menyebutkan perkara tersebut di hadapan khalayak?
    Ibnu Hajar menjelaskan bahwasanya ada khalwat yang diharamkan dan ada khalwat yang diperbolehkan,
    1.Khalwat yang diperbolehkan adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersama wanita tersebut, yaitu memojok dengan suara yang tidak di dengar oleh khalayak namun tidak tertutup dari pandangan mereka. Hal ini juga sebagaimana penjelasan Al-Muhallab, “Anas tidak memaksudkan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berkhalwat dengan wanita tersebut hingga tidak kelihatan oleh orang-orang sekitar Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tatkala itu, namun Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berkhalwat dengan wanita tersebut hingga orang-orang disekitarnya tidak mendengar keluhan wang wanita dan pembicaraan yang berlangsung antara Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan wanita tersebut. Oleh karena itu Anas mendengar akhir dari pembicaraan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan wanita tersebut lalu iapun menukilnya (meriwayatkannya) dan ia tidak meriwayatkan pembicaraan yang berlangsung antara Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan wanita itu karena ia tidak mendengarnya?14
    2.Khalwat yang diharamkan adalah khalwat (bersendiriannya) antara lelaki dan wanita sehingga tertutup dari pandangan manusia.15
    Syaikh Sholeh Alu Syaikh berkata:
    ((والخلوة المحرمة هي ما كانت مع إغلاق لدار أو حجرة أو سيارة ونحو ذلك أو مع استتار عن الأعين، ?هذه خلوة محرمة وكذا ضبطها ال?قهاء))
    “Dan khalwat yang diharamkan adalah jika disertai dengan menutup (mengunci) rumah atau kamar atau mobil atau yang semisalnya atau tertutup dari pandangan manusia (khalayak). Inilah khalwat yang terlarang, dan demikianlah para ahli fikh mendefinisikannya.?
    Jadi khalwat yang diharamkan ada dua bentuk sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Sholeh Alu Syaikh. Dan bukanlah merupkan kelaziman bahwa ruangan yang tertutup melazimkan juga tertutupnya dari pandangan khalayak.

    Sumber: http://ksai-aluswah.org/?pilih=lihat&id=208&PHPSESSID=dec0983dc2709e8800bb97ebc1833565

    Telah Dituliskan 3 years, 6 months ago
  4. 2t berkata:

    Kalo rosul itu kan orang yang paling tahu ya, jadi wajar kalo banyak yang ingin menanyakan sesuatu kepada beliau. Bukan berarti antara mereka berdua ada something special kan?
    Menurut ana, saat kita melihat sirah, ya jangan plek ngikutin tanpa melihat konteksnya. Kalo dulu mereka membersihkan gigi memakai siwak, apa dijaman ini kita juga mau memakai siwak dengann alasan nyunah? Intinya kan bukan di siwaknya tapi di membersihkan giginya. Disana juga tidak ada keterangan tentang jarak usia rosul dan wanita tersebut. Dan ana yakin dengan sikap itu bukan berarti rosul menganjurkan. Yang pasti, wanita tersebut bukan calon istri rosul kan? afwan, baru bisa nanggapin. bersyukurlah karena ada yang menanggapi antum, berarti masih ada yang care dengan antum. itulah indahnya ukhuwah. “Mintalah fatwa pada hatimu…”

    Telah Dituliskan 3 years, 6 months ago
  5. Frian Abu Azzam berkata:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Istilah pacaran sebenarnya tidak ada batasan bakunya, namun umumnya yang namanya pacaran itu apalagi di zaman permisif dan hedonis sekarang ini- tidak lain adalah hubungan lain jenis non mahram dengan segala aktifitas maksiatnya dari khalwat, zina mata, zina telinga dan sampai zina kemaluan.

    Bahkan beberapa penelitian di berbagai tempat menyebutkan bahwa sebagian besar pasangan pacaran itu memang telah melakukan hubungan tidak senonoh mulai dari bercumbu, berpelukan, berciuman sampai persetubuhan. Parahnya, semua itu umumnya dilakukan oleh para mahasiswa yang nota bene terpelajar dan calon pemimpin bangsa.

    Jadi hampir bisa dikatakan bahwa pacaran itu tidak lain adalah zina atau minimal mendekati wilayah zina yang memang haram dan dilarang oleh semua agama.

    Sedangkan taaruf justru sangat berbeda dengan pacaran. Ta’aruf adalah sesuatu yang syar’i dan memang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan taaruf adalah dari segi tujuan dan manfaat. Pacaran tujuannya lebih kepada kenikmatan sesaat, zina dan maksiat. Sedang taaruf jelas sekali tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan.

    Dalam pacaran, mengenal dan mengetahui hal-hal tertentu calon pasangan dilakukan dengan cara yang sama sekali tidak memenuhi kriteria sebuah pengenalan. Ibarat seorang yang ingin membeli mobil second tapi tidak melakukan pemeriksaan, dia Cuma memegang atau mengelus mobil itu tanpa pernah tahu kondisi mesinnya. Bahkan dia tidak menyalakan mesin atau membuka kap mesinnya. Bagaimmana mungkin dia bisa tahu kelemahan dan kelebihan mobil itu.

    Sedangkan taaruf adalah seperti seorang montir mobil ahli yang memeriksa mesin, sistem kemudi, sistem rem, sistem lampu dan elektrik, roda dan sebagainya. Bila ternyata cocok, maka barulah dia melakukan tawar menawar.

    Ketika taaruf, seseorang baik pihak laki atau wanita berhak untuk bertanya yang mendetail, seperti tentang penyakit, kebiasaan buruk dan baik, sifat dan lainnya. Kedua belah pihak harus jujur dalam menyampaikannya. Karena bila tidak jujur, bisa berakibat fatal nantinya.

    Namun secara teknis, untuk melakukan pengecekan, calon pembeli tidak pernah boleh untuk membawa pergi mobil itu sendiri. Silahkan periksa dengan baik dan kalau tertarik, mari bicara harga.

    Dalam upaya taaruf dengan calon pasangan, pihak laki dan wanita dipersilahkan menanyakan apa saja yang kira-kira terkait dengan kepentingan masing-masing nanti selama mengarungi kehidupan. Tapi tentu saja semua itu harus dilakukan dengan adab dan etikanya. Tidak boleh dilakukan cuma berdua saja. Harus ada yang mendampingi dan yang utama adalah wali atau keluarganya, bukan guru atau ustaznya. Jadi ta’aruf bukanlah bermesraan berdua, tapi lebih kepada pembicaraan yang bersifat realistis untuk mempersiapkan sebuah perjalanan panjang berdua.

    Disinilah letak perbedaan antara pacaran dengan taaruf. Pacaran adalah jalan-jalan asyik berdua, jajan, nonton, bermesraan dan bercumbu. Sama sekali tidak ada porsi tentang persiapan real untuk hidup. Bahkan pacaran cenderung bohong dan menipu, karena umumnya masing-masing pihak ingin tampil wah di depan pasangannya. Bedak, gincu, parfum, pakaian bagus, mobil dan segala asesoris lainnya adalah sesuatu yang ditonjolkan. Semua sangat jauh dari kehidupan real nanti dalam keluarga. Padahal setelah menikah, justru semua itu akan ditinggalkan dan masing-masing baru akan tampil dengan wajah dan kelakuan aslinya. Padahal dahulu hal-hal seperti itu tidak pernah dibahas dalam masa pacaran, karena semua waktunya tersita untuk jatuh cinta.

    Wallahu A’lam Bish-Showab,

    Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

    http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=222

    Telah Dituliskan 3 years, 6 months ago
  6. Frian Abu Azzam berkata:

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh,
    Alhamdulillah wash-shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ba’du

    Khalwat

    Khalwat itu berasal dari kata (khalaa- yakhluu-khalwatan) yang maknanya menyepi, menyendiri, mengasingkan diri bersama dengan seseorang tanpa kesertaan orang lain. Secara istilah, khalwat sering digunakan untuk hubungan antara dua orang dimana mereka menyepi dari pengetahuan atau campur tangan pihak lain, kecuali hanya mereka berdua.

    Orang yang berdoa pada malam hari menitikkan air mata sambil mengadu kepada Allah di saat orang-orang sedang asyik tidur, juga disebut berkhalwat. Yaitu merasakan kebersamaan dengan Allah SWT tanpa kesertaan orang lain. Seolah di dunia ini hanya ada dirinya saja dengan Allah SWT.

    Dalam hubungan pergaulan antara laki-laki dan perempuan, ketika mereka asyik dengan urusan mereka berdua saja, atau berbicara hanya empat mata berdua, tanpa menghendaki ada keikut-sertaan orang lain disebut berkhalwat.

    Berkhalwatnya laki-laki dan wanita yang bukan mahram adalah hal yang diharamkan di dalam syariat Islam. Dan Rasulullah SAW telah bersabda untuk memastikan keharamannya

    Jangan sekali-kali seorang lak-laki menyendiri (khalwat) dengan wanita kecuali ada mahramnya. Dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya. (HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, Tabrani, Baihaqi dll).

    Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan. (Riwayat Ahmad)

    Jangan sekali-kali salah seorang di antara kamu menyendiri dengan seorang perempuan, kecuali bersama mahramnya.

    Secara tegas Islam mengharamkan terjadinya khalwat, yaitu menyepinya dua orang yang berlainan jenis dan bukan mahram dari penglihatan, pendengaran dan kesertaan orang lain. Rasulullah SAW telah menyebutkan bahwa bila hal itu terjadi, maka yang ketiga adalah syetan.

    Wallahu a’lam bish-shawab
    Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh

    Ahmad Sarwat, Lc.

    Telah Dituliskan 3 years, 6 months ago
  7. MuRad berkata:

    To Frian:
    antum itu kayaknya menutup mata dg apa yg udah ditulis fauzan. sudah cukup jelas dan bahkan lebih lengkap daripada apa yg Antum tulis.

    ini kutipan tulisan Antum:

    Disinilah letak perbedaan antara pacaran dengan taaruf. Pacaran adalah jalan-jalan asyik berdua, jajan, nonton, bermesraan dan bercumbu. Sama sekali tidak ada porsi tentang persiapan real untuk hidup. Bahkan pacaran cenderung bohong dan menipu, karena umumnya masing-masing pihak ingin tampil wah di depan pasangannya. Bedak, gincu, parfum, pakaian bagus, mobil dan segala asesoris lainnya adalah sesuatu yang ditonjolkan.

    Antum ini memang fanatik atau tdk baca tulisan Fauzan? jelas sekali Antum sedang ingin membuat definisi sendiri tentang pacaran dan kemudian mengharamkan pacaran yg menurut definisi Antum. Fauzan jelas menulis bahwa pacaran islami itu ya adalah hubungn yg tidak melibatkan apa2 yg diharamkan Islam. bukan seperti yg Antum tulis. Aneh Antum ini, beri komentar tapi gak nyambung dg dialognya. audzubillah min dzalik. yang Antum tulis itu adalah metoda pacaran yg tidak islami, sementar Fauzan membahas tentang pacaran itu haram atau halal tergantung bagaimana metodenya. gak nyambung dg komentar Antum. atau Antum ini arogan dan tutup mata pada dalil yg sudah diungkapkan Fauzan? ya baca dulu dan buang skeptisme Antum tentang pacaran, gunakan logika yg bersih dari prasangka dan gunakan metoda ushul fiqh yg benar, jangn asal tolak saja begitu dengar kata pacaran.
    saya kecewa sama Antum, Antum banyak menguasai dalil tapi agak terbelakang di bidang logika interpretasi masalah. shg menggunakan dalil secara salah temapat dan salah target.

    Telah Dituliskan 3 years, 6 months ago
  8. Frian Abu Azzam berkata:

    To MuRad :

    Assalamu’alaikum

    Syukron atas tanggapannya….
    syukron juga atas “pujiannya” (terbelakang di bidang logika interpretasi masalah)….

    akh MuRad yg ana cintai krn Alloh, “pujian” antum terhadap ana, sangat ana hargai. Krn “pujian” yg diberikan dari seorang saudara insyaAlloh bernilai baik disisi Alloh SWT.
    Mungkin ana hanya ingin sedikit meluruskan “pujian” antum.
    Yang ana tulis di atas adalah bukan definisi ana, tapi definisi dari pakar ilmu hadist, tafsir Qur’an dan fiqih Islam.
    Mungkin ana tidak terlalu teliti membaca tulisan Fauzan krn memang tulisan ana bukan dalam posisi menanggapi, tapi sepertinya antum juga tidak terlalu teliti membaca tulisan ana.
    di baris paling akhir ana memcantumkan :
    http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=222

    Jadi itu bukan definisi ana. Tapi ana sangat mendukung dan sangat setuju dengan definisi para pakar tersebut.
    Apakah antum tidak melihat bahaya yg akan timbul, kalau ada istilah “Pacaran Islami” ?
    menurut ana yg bodoh ini, istilah tersebut akan berdampak “melanggengkan” budaya barat yg sedang dipraktekkan oleh para muda-mudi kita.
    Antum yg cerdas dan pandai ini pasti sudah sering melihat dan mendengar berita2 yang berkaitan dengan ABORSI dan bayi baru lahir yg dibuang oleh ibunya karena hasil hubungan gelap ?.

    Tulisan yg ana muat diatas, sekali lagi bukan untuk menanggapi fauzan, tetapi hanya sekedar menambah wacana tentang PACARAN yg sedang kita bahas. Kalau antum bilang tdk nyambung, karena sekali lagi memang ana tidak dalam posisi menanggapi.

    Wassalamu’alaikum.

    Telah Dituliskan 3 years, 6 months ago
  9. MuRad berkata:

    To Frian;

    ya itu tadi Antum sudah membuat DEFINISI sepihak tentang pacaran,bahwa pacaran itu PASTI melanggar hukum syariat. PACARAN itu apa definisinya? sehingga Antum yakin 100% bahwa pacaran akan menimbulkan atau setidaknya mendekati zina?
    Antum tidak bisa menyebutkan definisi ya jangan memfatwakan, nanti lucu dan jadi bid’ah.
    Kalau antum melakukan generalisasi dan berpendapat bahwa pandangan umum masyarakat bahwa pacaran itu ya yang mendekati zina tadi, maka Antum sedang melakukan ketidak adilan terhadap hukum “musik islami”.
    Coba Antum tanya pada masyarakat umum, apa definisi mereka tentang musik? saya kira lebih 80% akan menyebutkan bahwa musik ya apa yang kita lihat sehari2 di TV. penyanyi tanpa menutup aurat, syair porno, dan lepas dari keTuhanan. Sehingga definisi umum tentang musik ya musik itu haram. tapi munculya “musik islami” tidak pernah dipermasalahkan akan merusak citra kata “islami” di belakangnya. Aneh kemudian kalau kita menulis “pacaran islami” pasti dianggap akan merusak citra kata “islami” di belakangnya. padahal kalau mau digali secara epistemologis, pacaran dan musik itu statusnya sama yaitu netral. bahkan musik lebih rendah, karena ada beberapa ulama yg mengharamkan musik secara substansi (artinya apapun bentuknya, musik itu haram). semantara pacaran sendiri belum pernah ada ulama yg secara epistemologi mendefinisikannya, lalu bagaimana mungkin sesuatu yg tidak didefinisikan diharamkan? seperti halnya saya mengatakan benda “X” itu haram dimakan, tapi apakah benda “X” itu saya tidak tahu. ini kan sangat aneh.
    jika kemudian pacaran dikaitkan dengan khalwat, bersentuhan, kemudian zina. itu bukanlah pacaran itu sendiri. itu adalah metoda berpacaran. substansi pacaran tidak bertanggung jawab atas ekses yg ditimbulkan karena metoda melakukannya. seperti halnya “silaturahmi” jika saya menggunakan metoda berpikir yang sama dengan cara Antum mengaharamkan pacaran, maka saya dapt membuat hukum “silaturahmi” itu haram.
    Mau Antum lihat? Baik saya tunjukkan, Antum mengharamkan pacaran karena BIASANYA mereka yang berpacaran akan berkhalwat, kemudian, bersentuhan, kemudian seterusnya sehingga menjadi zina.
    Akan saya pakai metoda Antum pada “silaturahmi”. silaturahmi haram karena BIASANYA mereka yang bersilaturahmi akan banyak bercerita, kemudian mereka bulai berceriat tentang orang lain, kemudian mereka mulai ghibah, dan akhirnya akan muncul fitnah2 dari silaturahmi itu. maka silaturahmi haram karena berpeluang besar akan memunculkan fitnah atau setidaknya ghibah.
    Antum lihat, jela sekali bahwa sebenarnya silaturahmi itu halal bahkan sunnah, jelasnya substansi silaturahmi TIDAK BERTANGGUNG JAWAB atas ekses ghibah dan fitnah yang timbul dari pelakunya.
    demikian juga pacaran, pacaran TIDAK BERTANGGUNG JAWAB atas ekses mendekati bahkan melakukan zina yg dilakukan pelakunya.
    Pacran sendiri artinya secar epistemologis adalah INTERAKSI PRA-MARITAL YANG DILANDASI RASA SALING MENCINTAI. adapun perbuatan mendekati zina bukanlah pacarn itu sendiri, tetapi METODA orang berpacaran.
    sehingga yang disebut PACARAN ISLAMI adalah pacaran yang TIDAK MENGGUNAKAN METODA YANG MELANGGAR SYARIAT ISLAM.
    Sudah cukup jelas? atau Antum masih taklid dengan pendapat ulama Antum?
    terserah saja… Kita dikarunia aql untuk tahu benar dan salah serta kita dikarunia hati untuk ridha menerima kebenaran itu.

    Telah Dituliskan 3 years, 6 months ago
  10. LoHan UGM berkata:

    To MuRad :

    Lo selalu pakai logika ya….
    Lo anak buahnya Ulil Ladalah Ya ? (JIL)
    Sakit lo ya….

    Telah Dituliskan 3 years, 6 months ago
  11. Wakakak berkata:

    To MuRad :

    Hei bung…..
    kalo ngasih contoh hati2 ya…
    mosok Silaturrahim disamakan dengan Pacaran….
    sepertinya kamu ya yang ahli bid’ah…bukan frian…
    atau mungkin kamu yang silaturahminya model begitu….kamu laki2 or perempuan seh…
    sok cerdas ya kamu…
    kamu gak takut, setiap pernyataan kamu akan diminta pertanggungjawaban dihadapan Alloh…
    si frian seh aman dia, karena dia ngambil pendapan dari syariaonline….
    hati2 bung, benih2 perusak Islam, ada dalam diri anda…

    Telah Dituliskan 3 years, 6 months ago
  12. Frian Abu Azzam berkata:

    To : MuRad

    Assalamu’alaikum

    Islam itu dalam berhukum selalu mempertimbangkan, lebih banyak mana antara manfaat dan mudharatnya.
    Khamr sedikit manfaatnya dan lebih banyak mudharatnya, akhirnya khamr pun diharamkan.
    Rokok, blm terlihat manfaatnya, tetapi banyak sekali mudharatnya. Kemudian ulama dunia pun mengharamkan rokok.
    Pacaran yang antm selalu bela mati2an ini apakah selama ini antm melihat lebih banyak manfaatnya atau mudharatnya…?
    tolong antm jawab dengan jujur sesuai dengan realita yg ada dan kita saksikan bersama2.

    Janganlah antm lari ke hal2 yg lain dulu, karena kita sedang membahas pacaran….

    Ada apa dengan antm sehingga begitu bersemangat membela hubungan lawan jenis yg tidak ada nashnya ini ?

    Apakah antm siap dihadapan Alloh untuk mempertanggungjawabkan pemikiran antm ?

    istighfar akhi….istighfar…

    [17.36] Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

    Wassalamu’alaikum

    Telah Dituliskan 3 years, 6 months ago
  13. MuRad berkata:

    Wakakak…

    Silly Dude, very silly berarti sampeyan sama sekali tidak bisa memahami ANALOGI gue. dalam tulisan itu saya mengANALOGIkan METODA mendeterminasi hukum pacaran pada hukum silaturahmi. jika metoda SESAT itu digunakan pada kasus “silaturahmi” maka hukum silaturahmi bisa menjadi haram. padahal tidak. inilah yang saya maksud menetukan hukum dengan metoda yang salah, alias LOGICAL FALACY.

    Frian…
    saya tidak lari dr masalah, saya cuma selai lagi cuma memberikan ANALOGI METODA mengambilan hukum pacaran pada silaturahmi, tolong dibaca lagi. saya tidak berkepentingan membela pacarannya, tapi saya membela kepentingan metoda ushul fiqh dalam menurunkan suatu hukum dari suatu masalah. jangan serampangan seperti itu. kalau ada yang bilang syariah online itu pasti bener ya paling diketawain sama ahli fiqh, syarol bukan satu2nya kebenaran. saya TIDAK pernah menghalalkan hubungan yang MENDEKATI ZINA. tapi saya MENOLAK jika secara GENERALISIR ada yang mengatakan bahwa pacaran PASTI akan mendekati zina sehingga hukumnya haram.
    saya kasih CONTOH sekali lagi ya biar lebih gamblang, ingat ini CONTOH bukan pengaburan masalah.
    Mengendarai sepeda motor secara umum hukumnya apa? MUBAH bukan? tapi dengan METODA yang Antum gunakan untuk mengharamkan pacaran, saya dapat membuat hukum naik sepeda motor SECARA UMUM menjadi haram.
    1. Naik sepeda motor DAPAT menyebabkan kecelakaan
    2. Naik sepeda motor merupakan CARA penjahat melakukan tindakan kriminal
    3. Naik motor sering dijadikan ajang MAKSIAT boncengan lain mahram
    4. Naik motor dapat MENIMBULKAN ujub, dan riya.
    maka mengingat banyaknya MUDHARAT yang disebabkan naik motor, dan dengan mengambil pedoman bahwa mencegah mudharat diutamakan dari mengambil manfaat, hukum naik motor adalah HARAM. Aneh? lha iya aneh, karena naik motor SEHARUSNYA tidak bertanggung jawab terhadap ekses negatif darinya.

    Saya mengusulkan, jangan kampanye JANGAN PACARAN, tapi lebih tepat JANGAN DEKATI ZINA, karena pacaran bukan perbuatan mendekati zina, dan pacaran tidak bertanggung jawab terhadap ekses negatif orang yang berpacaran denganmetoda yang tidak syar’i.

    LoHan…
    semoga Anda tetap bisa hidup tanpa logika, sayangnya tidak ada manusia hidup normal tanpa logika, kecuali orang gila dan orang koma yang hidup dg peralatn penunjang hidup. Logika itu substansial bagi manusia, dan kita hanya bisa masuk Islam secara kafah jika pakai logika. baca artikel “pakai akal dunks” di fauzansa.wordpress.com sangat membantu Anda untuk memahami apa itu logika. orang JIL itu tidak pakai logika, mereka cuma sekumpulan orang aneh yag tertipu oleh KESALAHAN LOGIKA orang barat dan mereka sendiri.

    what ever, kalau emang sudah memutuskan untuk taqlid dan enggan berpikir ya berarti siap2lah menerima murka Allah…

    Telah Dituliskan 3 years, 6 months ago
  14. fauzansa berkata:

    memang susah berfikir jernih kalo hati sudah tertutup. Hanya orang-orang terbuka dan berhati jujur saja yang dapat menerima kebenaran. Orang-orang kolot akan susah menerima kebenaran, sebagaimana mereka susah menerima kesalahan. Karena itu, ketika mereka salah, mereka nggak akan bisa benar. Ketika mereka benar, beruntunglah mereka karena benar. Tapi, siapa yang bisa menjamin kebenaran sejati? Apakah kita akan beriman hanya berbekal keberuntungan?

    Saya bantu lagi masalah pacaran ini. Yang dihalalkan melalui pernikahan adalah seks. Masalah mendekati zina adalah masalah seks. Saling berkasih-kasihan adalah masalah cinta, bukan masalah seks. Nah, kalo berkasih-kasihan itu dilakukan dengan aktivitas seksual yang diharamkan, maka jadinya haram.

    Ini yang coba dikatakan MuRad. Kadangkala teman-teman susah membedakan aktivitas seks dengan aktivitas kasih sayang. Memang seringkali keduanya berjalan bersamaan, tetapi kadangkala tidak begitu. Nah, ketika aktivitas seks yang haram itu tidak ada, yang ada hanya aktivitas kasih sayang, saat itulah kita melihat yang namanya pacaran Islami.

    Trus, semua kembali kepada teman-teman sendiri. Kalo teman-teman merasa bahwa pacaran tidak mungkin dilakukan tanpa aktivitas seksual yang haram, maka pacaran itu memang haram bagi anda. Tapi, kalo anda merasa sangat mungkin melakukan pacaran tanpa melakukan aktivitas seksual yang diharamkan (tidak menjaga pandangan, bersentuhan, berkhalwat, tidak merendahkan suara, membuka aurat, dan ngomong jorok) maka pacaran itu boleh bagi anda.

    Sekali lagi, ini masalah metode. Kok kayaknya susah banget sih memahami yang kayak gini? Ini adalah hal yang sangat simpel yang tidak perlu pemikiran terlalu mendalam. Kecuali bagi orang-orang jumud. Eh, salah, mereka nggak mikir ding.

    Apa kalian nggak mikiiir?
    Afalaa ya’qiluun?

    Telah Dituliskan 3 years, 6 months ago
  15. syam berkata:

    a’ssalmualaikum, apa yang saya ingin utarakan disini pacaran ataupun berkasih kasihan itu langsung tidak baik. ia boleh mendekati zina da membawa kepadanya. buat apalah kita hendak berjinak-jinak dengan perkara yang amatperlu kita takuti, disini semuanya bergantung pada niat. kalau kita hendak menggunakan motor, niat nya kemana kita? itu yang penting. kalau kita berniat jahat dan tidak baik lalu mati kemalangan dan dihadapkan ke hadapan dengan yang terakhir kita lakukan ialah menaiki motorsikal untuk ke disko. samalah juga dengan berpacar, kalau kita mati semasa melakukan sesuatu yang jelas boleh mendekati zina, kemana agaknya kita akan pergi semasa menghadap allah. sms dan surat-menyurat antara lain jantina jugak buleh membawa kepada maksiat.

    Telah Dituliskan 3 years, 4 months ago
  16. jiwakitamerdeka berkata:

    Dan ingatlah pesanan dari Al-Quran:

    Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.(QS. Al-Ahzab : 36 )

    BERCOUPLE BUKAN BUDAYA UMAT ISLAM
    YANG BERIMAN

    BERCOUPLE, setiap kali kita mendengarnya akan terlintas di benak kita sepasang insan yang sedang mabuk cinta dan dilanda asmara. Saling mengungkapkan rasa sayang serta rindu, yang kemudiannya memasuki sebuah biduk pernikahan.
    Lalu kenapa harus dipermasalahkan? Bukankah
    cinta itu fitrah setiap anak adam? Bukankah setiap
    orang memerlukan masa penyesuaian sebelum
    pernikahan?

    CINTA, Fitrah Setiap Manusia,
    MANUSIA diciptakan oleh ALLAH SWT dengan
    membawa fitrah (insting) untuk mencintai lawan
    jenisnya. Sebagaimana firman-NYA; Dijadikan
    indah pada (pandangan) manusia kecintaan
    kepada apa-apa yang diingini, iaitu wanita-wanita,
    anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas,
    perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan
    sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia,
    dan di sisi ALLAH lah tempat kembali yang baik
    (Syurga). (Ali Imran: 14).

    Berkata Imam Qurthubi: ALLAH SWT memulai
    dengan wanita kerana kebanyakan manusia
    menginginkannya, juga kerana mereka merupakan
    jerat-jerat syaitan yang menjadi fitnah bagi kaum
    lelaki, sebagaimana sabda Rasulullah
    SAW; Tiadalah aku tinggalkan setelahku selain
    fitnah yang lebih berbahaya bagi lelaki daripada
    wanita. (Hadis Riwayat Bukhari, Muslim, Tirmidzi,
    Ibnu Majah)

    Oleh kerana cinta merupakan fitrah manusia, maka
    ALLAH SWT menjadikan wanita sebagai perhiasan
    dunia dan nikmat yang dijanjikan bagi orang-orang
    beriman di syurga dengan bidadarinya.

    Dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a. berkata;
    Rasulullah SAW bersabda; Dunia ini adalah
    perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah
    wanita yang solehah. (Hadis Riwayat Muslim,
    NasaI, Ibnu Majah, Ahmad, Baihaqi)

    ALLAH berfirman; Di dalam syurga-syurga itu ada
    bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.
    (ar-Rahman: 70)

    Namun, Islam tidak membiarkan fitnah itu
    mengembara tanpa batasannya. Islam telah
    mengatur dengan tegas bagaimana menyalurkan
    cinta, juga bagaimana batasan pergaulan antara
    dua insan berlawanan jenis sebelum nikah, agar
    semuanya tetap berada pada landasan etika dan
    norma yang sesuai dengan syariat.

    ETIKA PERGAULAN DAN BATAS PERGAULAN DI
    ANTARA LELAKI DAN WANITA MENURUT ISLAM.

    1.Menundukkan pandangan:
    ALLAH memerintahkan kaum lelaki untuk
    menundukkan pandangannya, sebagaimana firman-
    NYA; Katakanlah kepada laki-laki yang
    beriman: Hendaklah mereka menahan
    pandangannya dan memelihara kemaluannya. (an-
    Nuur: 30)
    Sebagaimana hal ini juga diperintahkan kepada
    kaum wanita beriman, ALLAH berfirman; Dan
    katakanlah kepada wanita yang
    beriman: Hendaklah mereka menahan
    pandangannya dan memelihara kemaluannya. (an-
    Nuur: 31)
    2.Menutup Aurat;
    ALLAH berfirman dan jangan lah mereka
    mennampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa
    nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka
    melabuhkan kain tudung ke dadanya. (an-Nuur: 31)
    Juga Firman-NYA; Hai nabi, katakanlah kepada
    isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-
    isteri orang mukmin: Hendaklah mereka
    melabuhkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.
    Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah
    dikenali, kerana itu mereka tidak diganggu. Dan
    ALLAH adalah Maha Pengampun lagi Maha
    Penyayang. (an-Nuur: 59).
    Perintah menutup aurat juga berlaku bagi semua
    jenis. Dari Abu Daud Said al-Khudri r.a. berkata:
    Rasulullah SAW bersabda: Janganlah seseorang
    lelaki memandang aurat lelaki, begitu juga dengan
    wanita jangan melihat aurat wanita.
    3.Adanya pembatas antara lelaki
    dengan wanita;
    Kalau ada sebuah keperluan terhadap kaum yang
    berbeza jenis, harus disampaikan dari balik tabir
    pembatas.
    Sebagaimana firman-NYA; Dan apabila kalian
    meminta sesuatu kepada mereka (para wanita)
    maka mintalah dari balik hijab. (al-Ahzaab: 53)
    4.Tidak berdua-duaan Di Antara Lelaki
    Dan Perempuan;
    Dari Ibnu Abbas r.a. berkata: Saya mendengar
    Rasulullah SAW bersabda: Janganlah seorang
    lelaki berdua-duaan (khalwat) dengan wanita
    kecuali bersama mahramnya. (Hadis Riwayat
    Bukhari & Muslim)
    Dari Jabir bin Samurah berkata; Rasulullah SAW
    bersabda: Janganlah salah seorang dari kalian
    berdua-duan dengan seorang wanita, kerana
    syaitan akan menjadi ketiganya. (Hadis Riwayat
    Ahmad & Tirmidzi dengan sanad yang sahih)
    5.Tidak Melunakkan Ucapan
    (Percakapan):
    Seorang wanita dilarang melunakkan ucapannya
    ketika berbicara selain kepada suaminya. Firman
    ALLAH SWT; Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian
    tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu
    bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam
    berbicara (berkata-kata yang menggoda) sehingga
    berkeinginan orang yang ada penyakit di dalam
    hatinya tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan
    yang baik. (al-Ahzaab: 32)
    Berkata Imam Ibnu Kathir; Ini adalah beberapa
    etika yang diperintahkan oleh ALLAH kepada para
    isteri Rasulullah SAW serta kepada para wanita
    mukminah lainnya, iaitu hendaklah dia kalau
    berbicara dengan orang lain tanpa suara merdu,
    dalam pengertian janganlah seorang wanita
    berbicara dengan orang lain sebagaimana dia
    berbicara dengan suaminya. (Tafsir Ibnu Kathir
    3/350)
    6.Tidak Menyentuh Kaum Berlawanan
    Jenis;
    Dari Maqil bin Yasar r.a. berkata; Seandainya
    kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu
    masih lebih baik daripada menyentuh kaum wanita
    yang tidak halal baginnya. (Hadis Hasan Riwayat
    Thabrani dalam Mujam Kabir)
    Berkata Syaikh al-Abani Rahimahullah; Dalam
    hadis ini terdapat ancaman keras terhadap orang-
    orang yang menyentuh wanita yang tidak halal
    baginya. (Ash-Shohihah 1/448) Rasulullah SAW
    tidak pernah menyentuh wanita meskipun dalam
    saat-saat penting seperti membaiat dan lain-
    lainnya. Dari Aishah berkata; Demi ALLAH,
    tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan
    wanita sama sekali meskipun saat membaiat.
    (Hadis Riwayat Bukhari)

    Inilah sebahagian etika pergaulan lelaki dan wanita
    selain mahram, yang mana apabila seseorang
    melanggar semuanya atau sebahagiannya saja
    akan menjadi dosa zina baginya, sebagaimana
    sabda Rasulullah SAW; Dari Abu Hurairah r.a. dari
    Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya
    ALLAH menetapkan untuk anak adam bahagiannya
    dari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina mata
    dengan memandang, zina lisan dengan berbicara,
    sedangkan jiwa berkeinginan serta berangan-
    angan, lalu farji yang akan membenarkan atau
    mendustakan semuanya. (Hadis Riwayat Bukhari,
    Muslim & Abu Daud)
    Padahal ALLAH SWT telah melarang perbuatan
    zina dan segala sesuatu yang boleh mendekati
    kepada perbuatan zina. Sebagaimana Firman-
    NYA; Dan janganlah kamu mendekati zina,
    sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan
    yang keji dan jalan yang buruk. (al-Isra: 32)

    Hukum Bercouple

    SETELAH memerhatikan ayat dan hadis tadi, maka
    tidak diragukan lagi bahawa bercouple itu haram,
    kerana beberapa sebab berikut:

    1.Orang yang bercouple tidak mungkin
    menundukkan pandangannya terhadap kekasihnya.
    2.Orang yang bercouple tidak akan
    boleh menjaga hijab.
    3.Orang yang bercouple biasanya
    sering berdua-duaan dengan pasangan
    kekasihnya, baik di dalam rumah atau di luar rumah.
    4.Wanita akan bersikap manja dan
    mendayukan suaranya saat bersama kekasihnya.
    5.Bercouple identik dengan saling
    menyentuh antara lelaki dan wanita, meskipun itu
    hanya berjabat tangan.
    6.Orang yang bercouple, boleh
    dipastikan selalu membayangkan orang yang
    dicintainya.

    Dalam kamus bercouple, hal-hal tersebut adalah
    lumrah dilakukan, padahal satu hal saja cukup
    untuk mengharamkannya, lalu apatah lagi
    kesemuanya atau yang lain-lainnya lagi?

    Fatwa Ulama

    Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin ditanya
    tentang hubungan cinta sebelum nikah.
    Jawab beliau; Jika hubungan itu sebelum nikah,
    baik sudah lamaran atau belum, maka hukumnya
    adalah haram, kerana tidak boleh seseorang untuk
    bersenang-senang dengan wanita asing (bukan
    mahramnya) baik melalui ucapan, memandang,
    atau berdua-duaan. Sebagaimana Rasulullah SAW
    bersanda: Janganlah seorang lelaki bedua-duaan
    dengan seorang wanita kecuali ada bersama-
    sama mahramnya, dan janganlah seseorang
    wanita berpergian kecuali bersama mahramnya.
    Syaikh Abdullah bin abdur Rahman al-Jibrin
    ditanya; Jika ada seseorang lelaki yang
    berkoresponden dengan seorang wanita yang
    bukan mahramnya, yang pada akhirnya mereka
    saling mencintai, apakah perbuatan itu haram?
    Jawab beliau; Perbuatan itu tidak diperbolehkan,
    kerana boleh menimbulkan syahwat di antara
    keduanya, serta mendorongnya untuk bertemu dan
    berhubungan, yang mana koresponden semacam
    itu banyak menimbulkan fitnah dan menanamkan
    dalam hati seseorang untuk mencintai penzinaan
    yang akan menjerumuskan seseorang pada
    perbuatan yang keji, maka dinasihati kepada setiap
    orang yang menginginkan kebaikan bagi dirinya
    untuk menghindari surat-suratan, pembicaraan
    melalui telefon, serta perbuatan semacamnya demi
    menjaga agama dan kehormatan dirinya.
    Syaikh Jibrin juga ditanya; Apa hukumnya kalau
    ada seorang pemuda yang belum menikah
    menelefon gadis yang juga belum menikah?
    Jawab beliau; Tidak boleh berbicara dengan
    wanita asing (bukan mahram) dengan
    pembicaraan yang boleh menimbulkan syahwat,
    seperti rayuan, atau mendayukan suara (baik
    melalui telefon atau lainnya). Sebagaimana firman
    ALLAH SWT; Dan janganlah kalian melembutkan
    suara, sehingga berkeinginan orang-orang yang
    berpenyakit di dalam hatinya. (al-Ahzaab: 32).
    Adapun kalau pembicaraan itu untuk sebuah
    keperluan, maka hal itu tidak mengapa apabila
    selamat daripada fitnah, akan tetapi hanya sekadar
    keperluan.

    Syubhat Dan Jawapan Yang Sebenarnya

    Keharaman bercouple lebih jelas dari matahari di
    siang hari. Namun begitu masih ada yang
    berusaha menolaknya walaupun dengan dalil yang
    sangat rapuh, antaranya:

    Tidak Boleh dikatakan semua cara bercouple itu
    haram, kerana mungkin ada orang yang bercouple
    mengikut landasan Islam, tanpa melanggar syariat

    Jawabnya: Istilah bercouple berlandaskan Islam
    itu Cuma ada dalam khayalan, dan tidak pernah
    ada wujudnya. Anggap sajalah mereka boleh
    menghindari khalwat, menyentuh serta menutup
    aurat. Tetapi tetap tidak akan boleh menghindari
    dari saling memandang, atau saling
    membayangkan kekasihnya dari masa ke semasa.
    Yang mana hal itu jelas haram berdasarkan dalil
    yang kukuh.

    Biasanya sebelum memasuki alam perkahwinan,
    perlu untuk mengenal terlebih dahulu calon
    pasangan hidupnya, fizikal, karaktor, yang mana
    hal itu tidak akan boleh dilakukan tanpa bercouple,
    kerana bagaimanapun juga kegagalan sebelum
    menikah akan jauh lebih ringan daripada kalau
    terjadi setelah menikah.

    Jawabnya: Memang, mengenal fizikal dan karaktor
    calon isteri mahupun suami merupakan satu hal
    yang diperlukan sebelum memasuki alam
    pernikahan, agar tidak ada penyesalan di kemudian
    hari. Namun, tujuan ini tidak boleh digunakan untuk
    menghalalkan sesuatu yang telah sedia haramnya.

    Ditambah lagi, bahawa orang yang sedang jatuh
    cinta akan berusaha bertanyakan segala yang baik
    dengan menutupi kekurangannya di hadapan
    kekasihnya. Juga orang yang sedang jatuh cinta
    akan menjadi buta dan tuli terhadap perbuatan
    kekasihnya, sehingga akan melihat semua yang
    dilakukannya adalah kebaikan tanpa cacat.
    Sebagaimana diriwayatkan dari Abu
    Darda; Cintamu pada sesuatu membuatmu buta
    dan tuli.

    Fenomena Couple

    Dalam situasi terkini, fenomena pergaulan bebas
    dan pengabaian terhadap nilai-nilai murni Islam
    berlaku pada tahap yang amat membimbangkan.
    Kebanyakan umat Islam kini tidak lagi menitik
    beratkan nilai-nilai dan adab-adab sopan yang
    dianjurkan oleh Islam melalui al-Quran dan sunnah
    rasul-NYA. Mereka bukan setakat
    mengabaikannya dan menganggap perkara itu
    tidak penting, bahkan mereka menganggapkannya
    sebagai satu perkara yang menyusahkan aktiviti
    mereka yang menurutkan nafsu dan perasaan
    semata-mata itu. Nauzubillah

    Marilah kita sama-sama menjauhi perkara yang
    seumpama itu dan mejauhi hal-hal yang telah
    dilarang (haram). Tegakkanlah yang benar dan
    katakanlah salah kepada yang batil. Janganlah
    berhujah untuk membenarkan perkara yang telah
    terang haramnya di sisi ALLAH.

    dipetik dari :
    http://alinsyirah.blogdrive.com/
    Ingat bahawa: Kebenaran itu dari Tuhanmu. Peganglah betul2.

    Telah Dituliskan 3 years, 4 months ago
  17. MuRad berkata:

    Njawab nih:

    1.Orang yang bercouple tidak mungkin menundukkan pandangannya terhadap kekasihnya.

    Ini Logical fallacy lagi ya? Generalisasi yang amat parah selalu diderita sama pengusung anti pacaran

    2.Orang yang bercouple tidak akan boleh menjaga hijab.

    Apalagi ini… kata2 ini lebih parah daripada “setiap peminum syrup tidak akan boleh tidak akan menderita influenza”… benar untuk sebagian TIDAK PERNAH bisa menjadi kebenaran umum.

    3.Orang yang bercouple biasanya sering berdua-duaan dengan pasangan
    kekasihnya, baik di dalam rumah tau di luar rumah.

    BIASANYA garis bawahi kata2 ini. samasekali jahat kalu sebuah kata BIASANYA menjadi dasar hukum. biasanya kalau orang masuk toko memakai jaket akan mencuri, kalau Anda masuk toko dengan jaketr dan kemudian si pemilik toko menuduh Anda mencuri, apakah Anda kan terima tuduhan ini?

    4.Wanita akan bersikap manja dan
    mendayukan suaranya saat bersama kekasihnya.

    parah benar logical fallacy Anda, generalisasi yang amat berbahaya.

    5.Bercouple identik dengan saling
    menyentuh antara lelaki dan wanita, meskipun itu hanya berjabat tangan.

    Sama saja dengan yang di atas, generalisasi yang buruk. lagi pula berjabat tangan bukanlah sesuatu yg mutlak keharamannya, bahkan Dr. Yusuf Qardhawi menghalalkannya

    6.Orang yang bercouple, boleh
    dipastikan selalu membayangkan orang yang dicintainya.

    bukankah dalam doa rabithah kita juga membayangkan orang yang kita cintai? membayangkan seseorang tidak selalu berhubungn dengan fantasi seksual, tidak bisa menjadi jalan untuk mengharamkannya.

    Suadahlah saya bosan diskusi dengan orang2 yg sama sekali tidak mau berpikir dan hanya taklid pada pendapat ulama tertentu.

    Telah Dituliskan 3 years, 4 months ago
  18. ilyas hamzah berkata:

    org2 yg berkapel sudah pasti akan melakukan zina.cuma masa yg berlainan saja.

    1.mata akan menatap dengan nafsu.
    2.tangan akan merayap di tubuh.
    3.mulut akan bercumbu.
    4.nah!bila sudah terangsang,zina pun berlaku.

    Telah Dituliskan 3 years, 3 months ago
  19. ilyas hamzah berkata:

    cara2 menghindar zina:

    1.menundukkan pandangan
    2.ingat kpd allah
    3.menjauhi tempat2 maksiat
    4.berdoa kpd allah.
    5.menutup aurat dgn sempurna

    insyaallah selamat dunia akhirat

    Telah Dituliskan 3 years, 3 months ago
  20. pujiatisari berkata:

    Saya mungkin orang yang kurang berpengetahuan tentang islam,yang saya mau tanya, sebenarnya khalwat itu apa? dan bagaimana pacaran yang islami itu?

    Telah Dituliskan 2 years, 5 months ago
  21. syifa berkata:

    khalwat artinya berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram [mahram=laki2 yang haram dinikahi] tanpa orang lain. mahram tidak hanya di ruang tertutup di tempat2 ramai juga dapat terjadi. dan bisa juga terjadi di dunia maya misalnya via chat. dalam islam tidak ada pacaran. jika seseorang menyukai lawan jenis, hanya ada dua pilihan : menahan nafsunya atw menikahinya. jika niat ke pernikahan sudah mantap, baru dilakukan taaruf atw perkenalan secara langsung, jelas dan mendetail [sampe ke riwayat penyakit juga boleh ditanyain lho...] coba buka syariahonline.com [kalo ga salah]

    Telah Dituliskan 2 years, 4 months ago
  • klikharry berkata:

    ha…ha…., pergi ah
    *lari sambil senyum-senyum sendiri*

    Telah Dituliskan 2 years, 2 months ago
  • Kaezzar berkata:

    Tanya dong? afwan masih dangkal ilmunya :p

    1. Pernah liat kutipan hadits yg mengatakan kalo Rasul juga suka maen ke shabat lawan jenis, bukan muhrim, tiap lewat depan rumahnya

    Kalo itu khalwat bukan ya? Koz disitu diceritain mereka cuma berbincang2 berdua aja dalem rumah…ataw jgn2 Hadits ini doif?

    2. Kalo misalkan di dalem taaruf apa bisa dipastikan kedua pelaku akan berkata jujur?

    Di komen di atas kan disebut kalo di dalem pacaran yg sering kliatan cuma bagus2nya…n kfakta di lapangan emang saya liat banyak yg gitu. tapi yg g jaim ma pasangannya juga banyak ko, n temen saya ada yg bilang,
    “awalnya emang biasanya gitu, tp ntar pasti bakalan keliatan ko sisi negatif dari kedua pihak”…

    trus jadi gimana ya? jadi bingung ni…koz lagi dalem masa hunting jodoh n_n

    Segitu dulu deh, makasih ya…

    Telah Dituliskan 2 years, 2 months ago
  • syifa berkata:

    Kaezzar,
    1. Rasul ga mungkin khalwat, pasti ada orang lain atw memang status khaditsnya yang perlu dipertanyakan.
    2. tidak bisa dipastikan. tapi lebih baik jujur. kalo bohong pun akhirnya ketahuan pas berrumah tangga, bikin kecewa n bisa mengganggu keharmonisan rumah tangga. pilih yang mana? mungkin bener semakin sering bareng, keliatan jeleknya.but proses ke arah sana biasanya kurang aman. apalagi qta pasti pinginnya pendamping hidup yang soleh, mending ga lewat pacaran.batas waktu max khitbah (melamar-setelah taaruf) n nikah lebih baik kalo ga lama juga. mis 3-6 bulan.

    Telah Dituliskan 2 years, 2 months ago
  • Kaezzar berkata:

    1. Hehe..lupa lengkapnya gimana, tapi kalo g salah isinya
    Rasul selalu mampir tiap lewat rumah ummu salam/sulaim (lupa namanya..)
    Trus dari kutipan lain, kayanya Rasul juga pernah tidur di sana dan diseka keringatnya

    2. iya mba Syifa, justru itu yg aga dikuatirin, kalo udah merit tapi tyt baru ketauan “belangnya” gimana? masalahnya pernah ada contoh kasus gitu, mereka kaya tarauf gitu, tapi akhirnya setelah berapa bulan cerai

    segitu dulu aja, takut kebanyakan nanya n_n

    Telah Dituliskan 2 years, 2 months ago
  • Helmi berkata:

    Assalaamu ‘Alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
    Salam Knal nih dari saya terutama yang punya Bolg dan yang punya judul posting PACARAN ISLAMI. Kenapa sih selalu membahas pacaran islami, pacaran islami, pacaran islami torus torus, toruuuus. eh maksud saya terus, terus. Gara-gara artikel tentang “Pacaran Islami” semuanya jadi begini, bahas dong yang lain-lain jangan cuma bahas Pacaran Islami, Pacaran Islami, Pacaran Islami. Feminim amat sih kalau selalu bahas tentang Pacaran Islami, Pacaran Islami, kesannya hampir sama kalau membahas tentang cara-cara memasak, cara merawat bayi, dsb.

    Kalo ada diantara kita-kita ini yang nantinya punya anak (keturunan), mau ngajarin ke anak-anak kita tentang pemahaman PACARAN ISLAMI atawa PACARAN ISLAMI kepada mereka (anak-anaknya) atawa dengan siapapun dan melalui media apapun silahkan saja. Tapi kalau saya sih nantinya, jika Tuhan menganugerahkan bagi saya seorang anak atawa beberapa orang anak, iiiiiiiiiigh jijik deh rasanya kalau saya ajarin mereka tetang pemahaman “PACARAN ISLAMI”-isme (makanan kali’ kok bisa jijik?), bahkan saya ingin mencuci otak anak saya tersebut kemudian mengisikan ke-toaknya bahwa “Wahai Anakku…..! PACARAN ISLAMI atawa Isme-nya&semacamnya, jangan pernah kau jadikan JUDUL TULISAN, karena judul tersebut adalah judul……..? takut deh dengarrRR “PACARAN ISLAMI……” HOROR Tahuuu!! Ntar Iblis bertepuk-tepuk tangan, Gimana?

    Pesan Saya (dari seorang-anak ingusan):
    Ntar saya mengaduin sama ayah dan ibu (ORTU) tentang orang yang punya tulisan mengenai PACARAN ISLAMI supaya si dia Itu dimarahin, bahwa “aYah…! iBu’…! si Itu Sih “?” gara-gara artikelnya tentang PACARAN ISLAMI saya jadi ketakutan

    Islam telah mengajarkan saya kesetian terhadap pasangan hidupku (yang halal) sebelum saya menikahinya, dan siapakah jodoh saya tersebut? Allah maha tahu. Saya ingin supaya Pasangan Hidupku kelak bangga memeliki saya, Karena cinta pertamaku setelah Allah, Rasulullah, Orang tuaku dan PASANGAN HIDUP adalah PASANGAN HIDUP HALALKU yang setelah terikat akad nikah dengan akad nikah yang syar’i

    PACARAN ISLAMI? iiiiiiiiiigh Jijik, Takut, LATEN.
    PACARAN ISLAMI = praktek prilaku PERSELINGKUHAN terhadap pasangan hidup kita, sebelum kita akad nikah
    PACARAN ISLAMI = Feminisme
    PACARAN ISLAMI = paham “tulang rusk bengkok”
    PACARAN ISLAMI = paham pemuja dan pengumbar perasaan
    PACARAN ISLAMI = paham yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an & Sunnah, (ternyata anak ingusan seperti saya pandai juga yah… NGETIK kata Al-Qur’an & Sunnah )
    PACARAN ISLAMI = Dhalaalah = (yang punya Posting tentang PACARAN ISLAMI mungkin lebih tahu artinya)
    PACARAN ISLAMI = bukan pemahaman Saya (anak ingusan)

    Untuk Fauzansa, MurRad, banyak-banyak belajarlah….supayah bertambah pintar dan dapat mengajarkan saya (anak ingusan) tentang kebenaran menurut….”?” selama kita bersepakat bahwa PACARAN ISLAMI itu adalah suatu ungkapan yang HOROR. SEPAKAT kah….?

    Wassalaam
    Demi Allah, saya senang mengenal Anda melalu Blog Anda,
    emilhkhakha@yahoo.com

    Telah Dituliskan 2 years, 2 months ago
  • Kaezzar berkata:

    Assalamualaikum wr wb

    @Helmi

    Waduuh, ko jadi caci maki gitu, istighfar mas…

    Bukannya kalo ada saudaranya yang g tau or nanya, mereka yg berilmu selayaknya malah ngasih pengertian?
    Bukankah orang pintar tempatnya bertanya?

    Bukannya kalo beda pendapat itu sebuah hal yang wajar?
    Sahabat pun sering berbeda pendapat, tapi tidak ada caci maki diantara mereka, apalagi merasa benar sendiri

    Saya tidak mengenal Fauzan, MurRad atau siapapun…tapi layakkah kita sebagai sesama muslim sampai harus mengatakan kata2 di atas?

    Bukankah telah diperingatkan kepada kita bahwa janganlah kita memperolok suatu golongan atau kaum karena bisa jadi mereka ternyata lebih baik dari kita?

    Kalau di kalangan manusia sepintar dan seahli sahabat saja ada perbedaan (padahal mereka adalah generasi bimbingan Rasul langsung), dan mereka menghargainya, kenapa justru di kalangan kita sekarang ini, kita tak mencontoh apa yang dilaukan Rasul dan sahabat?

    A melihat suatu benda, dia katakan : “itu lingkaran”
    B melihat suatu benda, dia katakan : “itu segitiga”
    Apakah A dan B akan berbeda pendapat ?
    Ya…Jelas!!!
    Tapi ketika A melihat dari sudut pandang B, ia berkata : “kau benar”
    Dan ketika B melakukan hal yang sama, ia berkata : “kau juga benar”
    Lalu mereka berdua berdiskusi dan menemukan sebuah fakta nyata tentang kebenaran…” mereka berdua benar ” dan ada sebuah kebenaran baru yang lahir…
    Karena ternyata benda yang mereka lihat adalah sebuah KERUCUT…

    Tak malukah kita ketika berkata : “sayalah yang benar”
    Padahal yang hakiki hanyalah milik Allah
    Akan sangat disayangkan bila kita hanya melihat semua hal dari satu sisi
    Karena bisa jadi apa yang kita lihat (yakini) ternyata hanyalah satu sisi dari sebuah kebenaran absolut milik Allah

    Bukankah karena itu kita diperintahkan untuk bertanya dan belajar?

    Afwan kalau ada salah atau kata yang kurang berkenan

    Wassalam

    Telah Dituliskan 2 years, 2 months ago
  • Pacaran Islami berkata:

    @syifa
    1- apakah kita perlu mempertanyakan hadits shahih riwayat Bukhari?
    2- pengertian Anda mengenai khlawat kurat tepat, sehingga Anda membuat kesimpulan yang keliru mengenai khalwatnya Nabi; lihat http://pacaranislami.wordpress.com/2007/04/15/berduaan-dengan-pacar-haramkah/

    @kaezzar, MuRad, fauzansa
    kami merasa salut atas tanggapan kalian

    Telah Dituliskan 2 years, 2 months ago
  • chiko berkata:

    pacaran tu hrm!!!!!!

    Telah Dituliskan 2 years, 2 months ago
  • Rialita berkata:

    kl menurut saya c pacaran islami bisa dikatakan ada dan bisa dikatakan pula tidak ada karena semua tergantung pada niat seseorang yang melakukannya.jika niatnya untuk memperbaiki sikap yang selama ini dinilai negatif dan dapat diperbaiki dengan hubungan seperti pacaran islami ya tdk apa,tp kalo sudah mengarah kepada zina,ya amit-amit deh…

    Telah Dituliskan 2 years, 1 month ago
  • silvy berkata:

    ana sich bkn org yg pntr2 amat soal agama,tp kl bicarain soal pacaran ana jadi inget Q.S an-nur 30,31.nah di situ kan kita dah disuruh tuk jaga pandangan, kita dilarang tuk mandangin org yg bukan mukhrim kita, jd pandangan aja dilarang, apalagi pacaran.truzz jd inget jg nich ma sabda rasul bahwa tidak ada yang lebih bernilai dari hubungan dua orang yang berlainan jenis kecuali “pernikahan”,bukan pacaran….:-)

    Telah Dituliskan 2 years, 1 month ago
  • mas agus berkata:

    to pendukung pacaran islami:
    dengan nash yang menyebutkan bahwa Rasulullah pun pernah berkhalwat dengan wanita yang bukan muhrim, dengan dalil yang jelas dan shahih.
    pertanyaannya: apakah Rasulullah itu berkhalwat dengan “PACAR”-nya??? Apakah Ali ra dengan Fatimah ra berpacaran (islami)? Apakah pacaran (islami) itu bernilai ibadah?

    Telah Dituliskan 2 years, 1 month ago
  • nandar el makassary berkata:

    ana mw minta tolong cariin akhwat yg sdh siap untuk menikah. ana tunggu kabarnya lewat sms ke 085255496907

    Telah Dituliskan 2 years ago
  • rizal berkata:

    assalamu’alaikum afwan ana mau minta tolong carikan akhwat yang sudah siap untuk menikah. ana ikhwa umur 21 tahun. ana tunggu kabarnya lewat sms ke no. 085241403534.
    syukran

    Telah Dituliskan 2 years ago
  • Heri Setiawan berkata:

    Yup… saya sependapat dengan mas Agus…

    Telah Dituliskan 2 years ago
  • kaezzar berkata:

    Assalamualaikum wr wb

    @Mba Silvy
    bukannya di situ kita disuruh untuk menundukkan sebagian pandangan kita, dan bukan semua pandangan?
    kan g semua pandangan ke non muhrim itu haram kan?

    “…lalu kemaluan membenarkan atau menggagalkan…”

    coba lihat deh…ada kata2 di atas di bagian belakang hadits itu

    lagian, apa dulu Rasul selalu menghindari tatapan dgn non muhrim?
    lalu bagaimana caranya Beliau berdagang dan menjawab ketika ada seorang wanita non muhrim yang datang dan bertanya padanya, apakah Rasul langsung memalingkan pandangannya?

    @Mas Agus

    Maaf kalau saya salah keterbatasan pengetahuan, tp apa dulu Rasul juga pernah membawa murabbi lalu bertukar biodata, dan tanya jawab selama 3 bulan untuk mengenal calon istrinya?

    Perbedaan zaman akan melahirkan individu yang berbeda2 pula mas
    Dilihat dari sikon zaman, cara kilat atau perjodohan memang relatif lebih efektif, apalagi perkataan sumber2 yang ditanya ataupun si calon memang relatif lebih dapat dipercaya. Lagipula ada prioriras yg relatif “harus” didahulukan pada masa itu, yaitu penyebaran Islam (bukan berarti skrg ngga perlu loh). So, dengan mempertimbangkan fakta2 di atas, rasanya wajar kalau mereka lebih “memilih jalan kilat”

    Zaman ini?
    Bisakah semua dari kita “dipaksa” untuk menempuh jalan kilat?
    Ketemu, duduk dgn murabbi dan si calon, tanya ini itu then…
    i ll marry you…
    Bisa anda jamin semua orang akan berkata jujur di saat “sesi” tanya jawab
    dengan si calon bersama murabbi? seberapa banyak seseorang bisa jujur membuka kekurangan dirinya di hadapan calon yg ingin dia daparkan dan di hadapan org lain (murabbi or mahram si calon) ?
    ketika seseorang menganggap dirinya penyabar, tapi apa jadinya ternyata di mata orang lain ia tidak sesabar yg dibayangkan?
    persepsi org lain akan karakter diri kita belum tentu sesuai dengan apa yang kita bayangkan mas

    kenapa ada diantara kita ada yang lebih memilih untuk pacaran (pacaran loh, bukan kegiatan ngesex-nya, kegiatan pegang sana sini-nya, ataw kegiatan kissing2an-nya)
    karena di dalam situasi non formal seperti jalan2, diskusi, ataw omongan2 spontan beserta sikap sebagai respon terhadap sesuatu, karakter seseorang lebih mudah terbaca

    saya bisa saja mengatakan diri saya rajin, penyabar dan pengertian di depan calon dan murabbi. tapi ketika saya dihadapkan dengan situasi tertentu…omongan dan sikap sayalah yang akan membuktikan…apakah benar, saya seperti apa yang saya katakan?
    dengan intensitas bertemu yang jarang di dalam taaruf, kesempatan untuk bertemu sikon2 dapat yg menjadi pembukti, relatif lebih kecil

    mungkin tidak masalah kalau kita memang sudah lama mengenal si calon sebelumnya lewat berbagai kesempatan seperti teman kuliah, organisasi atau teman main. tp bagaimana dgn mereka yg belum kita kenal?

    itulah mengapa sebagian dr kita ada yg memilih untuk mecoba cara lain yaitu dengan berpacaran. tapi kenapa di zaman sekarang ini sampai lahir istilah pacaran islami? kenapa harus sampai ada embel2 islami di belakangnya?
    karena sebagian dari mereka yg berpacaran, tidak mau kegiatan yg mereka lakukan diisi atau dilakukan dengan cara2 yg tidak islami

    kalau dilihat dari tata bahasanya, istilah itu ditujukan untuk purifikasi arti yang telah bergeser dari makna awal, dimana kegiatan pacaran tidak sampai melibatkan hal2 yg dilarang. apakah anda pernah mendengar istilah “arisan islami” ? sampai sekarang rasanya belom deh hehehe…karena kegiatan arisan yg dikenal dan disepakati oleh mayoritas memang dari dulu ya seperti itu2 aja…duduk, kumpul2, kocok arisan, kasihin duit, makan, bubar…
    jadi g perlu ditempeli kata “islami”. kalau suatu saat nanti di dalam kegiatan arisan dibumbui dgn sex dan kegiatan2 yg melanggar syariat, bukan ngga mungkin anda akan mendengar istilah…”arisan islami”…

    see…do you get my point, or any comment ???
    maaf kalau ada kata2 yg salah atau menyinggung

    wassalam
    kaezzar

    Telah Dituliskan 1 year, 12 months ago
  • kabayan berkata:

    bismillah…

    hehehe… pis yo….
    sy bingung knapa umat islam selalu mendebatkan n memperpanjang masalah…
    dari dulu (kata tmen saya) sampe sekarang, masi hobi debat kusir…
    yang haram itu menyakiti hati sesama… hehehe…

    tanya hati nurani aja, kira2 ini bener ato engga
    insy4jji d kasi jawabannya…

    klo toh ada orang, ulama ato ahli tafsir yang menjelaskan sesuatu, dan di sinyalir kliru menurut km2 smua, ya mohon d maklumi lah, namanya juga orang…..
    zaman dulu elemen terkecil adalah biji, kmaren atom nah skarang ada yang lebih kecil lagi… nah loh…
    mungkin intinya kebenaran yang mutlak hanya milik 4jji swt…

    saran saya, cari sumber yang banyak aja, hargai lah bliau mencari ilmu sesuai dengan kmampuannya, dan saya yakin mreka ud berbuat semaksimal mungkin (ini terlepas dari adanya upaya penyesatan…)

    smuanya tergantung dari niat… berbaik sangka ins4jji akan lebih baik…
    yang mo pacaran ya sana pacaran… yang engga ya jangan …
    hehehe, makin ga jelas y…

    hehehe, maap y klo ada salah2 kata, klo ga suka tulisan ini d delete aja,…

    Telah Dituliskan 1 year, 11 months ago
  • kaezzar berkata:

    Assalamualaikum wr wb

    kalo debat, sepanjang itu masih sehat, kayanya malah bagus loh
    kita jd bisa tau byk hal ttg ini itu yg tadinya kita g tau
    yaa itung2 cari ilmu gitu hehehehe

    wah satuju atu kabayan :p
    tp yg sayang sayangkan, banyak org yg selalu memberikan judgment sebelum mereka mendengar atau mengetahui detil alasan dibaliknya
    akibatnya, perbedaan yg seharusnya merupakan hal yg wajar, malah “masalah”…

    yaah, tiap org memang berbeda, dan g semua dari kita kadang bisa menerima perbedaan dgn lapang dada… :)

    wassalam

    Telah Dituliskan 1 year, 11 months ago
  • nesya berkata:

    assalamualaikum..

    pacaran secara islami ?????!!!! ada koq menurutku iaitu pacaran setelah nikah… beneran dech ga zina, asyik,ibadah lagi… ga percaya??????? coba aja..

    Telah Dituliskan 1 year, 11 months ago
  • Shelling Ford berkata:

    pacaran itu nggak haram!
    nggak haram!
    nggak haram!
    nggak haram!
    yang haram itu kalo pacarannya dinner bareng sambil maem daging babi!
    kekekekekekekekekeke…

    tapi bener kok, GA ADA SATUPUN DALIL YANG MENYEBUTKAN MEMBOLEHKAN PACARAN!
    lha wong “pacaran” istilah dalam bahasa indonesia, kok. dalil2 kan pake bahasa timur tengah semuanya ;)

    logiknya jadi sama kayak: nggak ada satupun dalil yang mengharamkan johnnie walker ataupun jim beam. jadi boleh2 aja kita mengkonsumsi kedua jenis minuman itu. yg haram itu khamr, soale :D wakwakwakwak!

    Telah Dituliskan 1 year, 11 months ago
  • the23wind berkata:

    hwuuuaaa…sejak kapan pacaran islami di legalkan???

    Telah Dituliskan 1 year, 11 months ago
  • aroel berkata:

    sebenernya arti pacaran islami kembali pada pribadi masing2,kadang2 katanya pacaran islami but prakteknya dah terbang2. tapi siapa tau da orang yang bisa menahan napsunya ampe merit… heee he kayaknya langka tuchh1!!!!

    Telah Dituliskan 1 year, 11 months ago
  • Shelling Ford berkata:

    insya allah saya deh yg nahan :D

    Telah Dituliskan 1 year, 11 months ago
  • Fatih berkata:

    Assalaamu’alaikum brothers and sisters.
    Saya bukan orang yang pintar dalam ilmu agama, namun ijinkan saya berbagi suara. Batasan-batasan antara musik yang diharamkan dan dihalalkan sangat jelas sekali. Batasan-batasan tersebut didukung oleh pendapat para ulama yang berlandaskan evidence dalam Alqur’an dan Alhadits. Nah, sekarang tolong jelaskan kepada saya tentang batasan-batasan pacaran yang Islami itu seperti apa yang tentunya didukung oleh evidence yang ada dalam Alqur’an dan Alhadits.
    Brothers and sisters, jangankan berpacaran, yang tidak berpacaran pun ketika melihat lawan jenis disertai dengan nafsu, telah masuk dalam batasan haram karena itu sudah masuk dalam batasan zina. Apalagi mengingat-ingat lawan jenis yang pernah dilihat bahkan sampai menutupi ingatan kita akan the creator, Allah, dan itu juga masuk dalam batasan zina. Dalam melakukan ta’aruf pun bisa keluar dari batasan halal kalau menghadapi lawan jenis disertai dengan nafsu.
    Nah, terlepas dari aktifitas-aktifitas pacaran yang tidak Islami (definisi yang anda telurkan diatas) seperti berduaan, bersentuhan, berpegangan, berpelukan, berciuman, bersenggama, bersetubuh, apa kira-kira aktifitas-aktifitas orang yang berpacaran Islami yang tentunya tidak keluar dari batasan halal? Kalau anda bilang hanya sms atau telepon yang mana kedua pasangan berpacaran tersebut di tempat yang terpisah, maka yang perlu dipertanyakan adalah apa yang anda bicarakan? Orang yang tidak berpacaran pun, kalau isi pembicaraannya berbau maksiat, bisa jatuh kepada haram. Maka yang harus dibahas disini adalah bagaimana hukumnya berbicara seperti itu, bukan masalah pacaran lagi.
    Kalau kita ulas kembali tujuan dari pacaran, apa sebenarnya tujuan pacaran itu? Untuk saling mengenal? Adakah seorang scientist yang expert dalam bidang psychology atau psychiatry misalnya bisa menjamin anda mengenal betul pasangan anda dalam proses berpacaran yang meskipun itu berlangsung 1 abad misalnya? Kalau ada siapa? I want to know who she/he is and I really want to see her/him. Karena pada kenyataannya pun, extremely impossible kita bisa mengenal seseorang dengan sesungguhnya mengenal selama kita tidak tinggal bersama. Kemudian jika kita melihat tujuan dari ta’aruf, adalah mengenal lawan jenis yang available untuk dinikahi dan proses ini pun ada aturan main berdasarkan hukum syara’ dan bahkan pengambilan keputusan bersedia menikahi atau dinikahi tidak hanya melibatkan faktor akal semata tetapi sangat sangat dianjurkan pula melibatkan faktor kekuasaan Yang Maha Tahu melalui ritual ibadah, istikhoroh.
    Jadi brothers and sisters, kalau pacaran Islami tersebut anda approach dengan logika, maka saya menggunakan logical approacment juga dalam mengungkapkan disagreement saya tentang hal itu. Insya Allah ketemu lagi brothers and sisters, dan ingat selalu brothers and sisters, no dignity without Islam, no Islam without syari’ah, no syari’ah without khilafah. Sambut konferensi khilafah di Jakarta pada bulan Agustus besok dengan semangat fi sabilillah. Wassalam dari saya, Fatih, Wiley Park, Sydney, Aussie.

    Telah Dituliskan 1 year, 11 months ago
  • kaezzar berkata:

    @Fatih

    >>>Brothers and sisters, jangankan berpacaran, yang tidak berpacaran pun ketika melihat lawan jenis disertai dengan nafsu, telah masuk dalam batasan haram karena itu sudah masuk dalam batasan zina. Apalagi mengingat-ingat lawan jenis yang pernah dilihat bahkan sampai menutupi ingatan kita akan the creator, Allah, dan itu juga masuk dalam batasan zina. Dalam melakukan ta’aruf pun bisa keluar dari batasan halal kalau menghadapi lawan jenis disertai dengan nafsu.>>>

    Tapi justru disitulah kesalahannya…
    Karena anda sudah mengidentikkan pacaran dgn hal2 haram semisal pegang2an, ciuman, sampai bersetubuh segala
    Kalau ini saya rasa, entah dia dalihnya pacaran ataw taaruf sekalipun, hukumnya tetap haram
    Yg sedang dibahas di sini adalah bagaimana caranya kita bisa mengenal calon tanpa harus melibatkan kegiatan2 yg menyimpang dari syariat

    >>>Kalau kita ulas kembali tujuan dari pacaran, apa sebenarnya tujuan pacaran itu? Untuk saling mengenal? Adakah seorang scientist yang expert dalam bidang psychology atau psychiatry misalnya bisa menjamin anda mengenal betul pasangan anda dalam proses berpacaran yang meskipun itu berlangsung 1 abad misalnya? Kalau ada siapa? I want to know who she/he is and I really want to see her/him. Karena pada kenyataannya pun, extremely impossible kita bisa mengenal seseorang dengan sesungguhnya mengenal selama kita tidak tinggal bersama. Kemudian jika kita melihat tujuan dari ta’aruf, adalah mengenal lawan jenis yang available untuk dinikahi dan proses ini pun ada aturan main berdasarkan hukum syara’ dan bahkan pengambilan keputusan bersedia menikahi atau dinikahi tidak hanya melibatkan faktor akal semata tetapi sangat sangat dianjurkan pula melibatkan faktor kekuasaan Yang Maha Tahu melalui ritual ibadah, istikhoroh.>>>

    Memang ngga ada jaminan mas…pacaran berapa lama ngga akan menjamin seseorang tau semuanya ttg si calon
    Tapi hal yg sama juga berlaku di taaruf…g ada jaminan kita tau banyak hal ttg si calon
    Jadi, kalo anda bilang tujuan taaruf untuk mencari calon yg available dan ada aturannya…hal yg sama berlaku juga untuk pacaran Islami…mereka mencari yg available dan juga ada aturannya. Dan apakah anda berpikir kalau mereka2 yg menjalani pacaran islami tidak beristikhoroh?

    Dari tulisan anda, tampaknya definisi pacaran ~ maksiat masih cukup melekat kuat di benak anda, sehingga penilaian anda terhadap pacaran islami malah blur. mungkin kalau anda mau membaca posting komen dari awal, anda akan memperolah gambaran yg lebih jelas ttg apa itu pacaran Islami

    Benarkah mengingat orang yg kita kasihi (pra nikah) adalah zina?
    Tidak semua mengingat itu zina. Ada batasan2nya.
    Bagaimana?

    Wassalam

    Telah Dituliskan 1 year, 11 months ago
  • Shelling Ford berkata:

    kalau nafsu itu dosa, kenapa manusia diciptakan dengan anugerah nafsu dari Allah?
    nafsu itu buat dikendalikan, bukan buat dipisuhi.
    yang salah adalah jika nafsu disalurkan tidak pada tempatnya. niat jelek selama ga dilakukan bukan termasuk dosa, kan?

    nafsu sama lawan jenis itu wajar. kalo ga punya nafsu, astaga… itu frigid namanya

    Telah Dituliskan 1 year, 11 months ago
  • Helmi anak ingusan berkata:

    Assalamu ‘alaikum
    Sebelumnya saya mohon maaf kepada semua pihak, mungkin pemahaman saya sama dengan saudaru Kaezzar, namun kalau ada jarum yang patah haruskah disimpan dalam laci??? maaf dech? saya jadi malu…,saya hanya ingin mengharapkan saran-saran dari Kaezzar dengan kesalahan komentar saya untuk mengoreksi diri (secara objektif),
    hasil googling tentang Kaezzar (Urutan 1 – 10 dari sekitar 345 hasil penelusuran untuk Kaezzar. (0.03 detik) )
    terima kasih banyak saudaraku, atas ilmu yang diberikan, mungkin saya harus banyak mengontrol diri dari amarah yang tidak terkendali, salam kenal

    Telah Dituliskan 1 year, 11 months ago
  • Grahat berkata:

    Wah.. wah.. wah.. kayaknya kita perlu berdebat yang islami juga nih yah ^^.. hum.. berdiskusi sih boleh saja tapi hati-hati jangan saling mengkafirkan yah..

    Telah Dituliskan 1 year, 10 months ago
  • bangbex berkata:

    assalamualaikum wr.wb

    CMIIW.
    setelah baca 50 lebih komen di BLOG ini, kesimpulan saya mengarah pada pemahaman bahwa Pacaran Islami dan Taaruf itu hanyalah sebuah konsep atau teori tentang etika hubungan pasangan pra-nikah. Bedanya kalau Taaruf itu adalah teori yg telah diwariskan oleh generasi2 sebelum kita, sedangkan Pacaran Islami dirumuskan oleh saudara2 kita yg sezaman dengan kita saat ini dan ditawarkan bagi kita yg merasa kurang puas dengan metode Taaruf.

    Mengenai halal dan haramnya, adalah tergantung dari masing masing kita individu yg menjalani. Yg haram bukanlah Taaruf itu sendiri melainkan ketidak jujuran yg dilakukan ketika Taaruf. Demikian pula bukanlah Pacaran Islami yang haram melainkan tindakan2 yg melanggar ketentuan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

    itu kesimpulan saya.
    –correct me if im wrong–

    Telah Dituliskan 1 year, 10 months ago
  • alia berkata:

    wah…perhelatan yang sangat panjang. sedikit mau niggalin komentar. dalam hadits nabi saw disebutkan: al-halal bayyin, wa-l-haram bayyin, wabainahuma umuurun musytabihat. dst. dalam al-Qur’an disebutkan: Yaa ayyuhal ladziina amanuu…qu…anfusakum wa ahliikum naaro. Saya ingin mengingatkan semuanya, termasuk diri saya. bagi yang ingin menjaga diri dan keluarganya, maka hindarilah hal2 yang mustabihat itu. itulah orang yang waro’.

    Telah Dituliskan 1 year, 10 months ago
  • Salsabillah berkata:

    to kaezzar,fauzansa, n murad…
    Assalamu’alaikum wr.wb..
    Sebelumx afwan jk mnyinggung prasaan antum skalian
    ane cm mw blg” CARILAH KEBENARAN BUKANLAH PEMBENARAN”.
    Scara logika..biasax org2 yg mngatakan ya atau OK2 ja dgn pcaran..biasax a/ org2 yg prnah mlakukan pacaran itu sendiri atw dalam status pacaran..
    Ini bkn masalah fanatiq atau bkn…tp coba lihat dan bandingkan antara orang yg pacaran dan yg tidak,dr segi ibadah,perhatian kpd org laen (cz biasa org yg pacran lbh cenderung prhatian kpd pasanganx n ane jg sudah mndapatkan fakta seperti ini), bandingkan antara org yg slalu mnjaga pandangan dgn yg tidak,antara org yg suka dan tdk suka bersentuhan dgn yg bkn mukrimx…psti dlm hati kecil kalian..akan mengatakan”AMAT JAUH BERBEDA”
    Jujurlah pd hati kalian(yg pacaran)…apakah selama ini ibadah kalian khusyuk??jgnkan yg pacaran..yg g pacran ja kdang2 g bs brkosentrasi dgn baik.Gmn dgn sholat2 sunnah kalian??gmn dgn tadarus kalian???
    jk ingin mndapatkan wanita seperti Aisyah, mk jdilah laki2 seperti Muhammad,demikian pl sebalikx..
    smoga mnjadi renungan bg ane dan antum skalian
    Afwan jk g nyambung..n jk mnyinggung prasaan kalian..ane cm mnuliskan…sgores pengalamanq n apa yg mnjdi jnggalan dhatiq.

    Telah Dituliskan 1 year, 10 months ago
  • kaezzar berkata:

    @Helmi
    Waalaikumsalam
    Sama2 mas Helmi…salam kenal juga ya
    Saya sendiri masih belajar, sama seperti mas Helmi
    Saya sendiri masih juga suka kelepasan n_n
    Mungkin kali ini saya sedang kebetulan, bisa ngga gitu :D
    Lain kali kalau saya salah, mohon diingatkan juga ya

    @Alia
    Betul mba, tapi kita juga harus mempelajari hal2 tersebut
    Jadinya hal2 yg mustabihat semakin sedikit.
    Bukankah Qur’an dan Hadits merupakan GBHN saja
    Permasalahan umat hingga akhir zaman amatlah banyak dan kompleks
    Kalau semua hal2 mustabihat kita tinggalkan, maka permasalahan2 baru tidak akan mampu dicari solusinya…lalu bagaimana dengan nasib umat?
    Mari kita sama2 belajar dan belajar n_n

    @Salsabillah
    Apakah salah jika kita memberikan perhatian lebih ke seseorang?
    Apakah Islam melarang itu?

    Apakah pacaran membuat ibadah tidak khusyuk?
    Apakah orang yg berpacaran, hanya selalu terbayang sang pacar setiap harinya? setiap hamnya? setiap detiknya?
    Apakah yang pacaran, tadarusannya selalu lebih buruk?
    Apakah yang pacaran, shalat sunnahnya selalu lebih buruk?

    Pacarankah yang salah?
    Atau orangnya?

    Oia, ngga usah takut untuk berpendapat…insya Allah disini g ada yg tersinggung. Dalam sebuah diskusi sangat wajar ada pro dan kontra.
    Bukankah dari situ kita justru bisa banyak belajar n_n

    Wassalam

    Telah Dituliskan 1 year, 10 months ago
  • BENTO berkata:

    ASSALAMU’ALAIKUM..,,Ha..ha…ha………….!!!Aku sangat setuju dengan pendapat yang mengatakan,”Islam sa’at ini tertinggal 1000 tahun,.Siapa yang paling bertanggung jawab diantara seluruh umat Islam????Jawabnya…..*********”!!!!!!!
    #Baca:RELIGI DAN RELIGIUSITAS BUNG KARNO#.
    Kenapa sih…,kok masih harus diperdebatkan???
    Judulnya saja jelas PACARAN ISLAMI,bagi saya tidak usah diperdebatkan lagi,tinggal tolong konsepnya PACARAN ALAMI itu seperti apa?
    Nah kalo ada yang meragukan dari konsepnya kita perbaiki,bereskan..!

    Ato…………..
    Ini saya punya usul kepada yang punya ide PACARAN ISLAMI dan para komentator Islam Sejati,sorry..maksud saya kita semua………………….
    Coba Kita bikin konsep PACARAN BERADAB,ya…!!!ganti saja jangan PACARAN ISLAMI!!!

    Terlihatkan betapa KAKU nya cara kita berfikir karena memperdebatkan sebuah IDE yang jelas dari judulnya saja BAIK.
    Sudahlah….,mari kita mengejar ketertinggalan kita!dengan apa???
    Yang pasti Islam itu tidak anti Modern,Lho,Apa pernah Rosululloh SAW naik kapal terbang..??!!!??Pak Kiyai dan Ustadz kok naik turun dari kapal terbang???Kira-kira seperti itu…!!!

    Wassalamu’alaikum wr.wb….!
    Sukses untuk kita semua dengan hal-hal yang membawa kebaikan,amin.

    Telah Dituliskan 1 year, 10 months ago
  • Aldhi berkata:

    Assalamu’alaikum..

    Wah, setelah baca coment diatas,hmmm….
    kesimpulannya nih….
    perbanyak zikir,shalat tahajud,Baca&ikuti Al-Qura’n dan Hadist….
    Isi bumi boleh berubah oleh Zaman tapi Iman dan taqwa kita jgn sampai Berubah…!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    makasih ya semuanya….
    smoga kita semua diberi hidayah AMIEN……..

    Wassalamu’alikum….

    Telah Dituliskan 1 year, 9 months ago
  • yanri berkata:

    \Bisa kirim ini keemail ku…
    \\Sangat bagus

    Telah Dituliskan 1 year, 9 months ago
  • Rie berkata:

    pacaran apaan siiihhhh??? emang ada y pacaran islami……???
    yg ky gmn tuch…..br dgr dech…………….biarpun awam gini tp g rela ah ada istilah “pacaran islami” kesannya islam sdh tercemar

    Telah Dituliskan 1 year, 5 months ago
  • kukuh berkata:

    menurut ana,yang namanya pacaran tu ga da apalagi pacaran islami.pacaran merupakan awal dari kemaksiatan.

    Telah Dituliskan 1 year, 4 months ago
  • Jaisy01 berkata:

    Assalamualaikum. Wew, banyak juga yah yang berkomentar :) Hem, saya kira fauzanza tidak proporsional dalam memahami hadits tersebut. Terminologi dalam memahami ta’aruf juga sempit. Dan saya menganggap Fauzanza belum pernah dita’arufkan oleh Murabbi. :) sabar2 jangan langsung emosi gitu. Perlu diketahui, Rasulullah selalu berkata kepada sahabat2nya. Tentang keimanan, dan siapa orang yang dijaga keimanan serta dijaga dari dosa. Dan itu hanyalah Rasulullah sendiri, sehingga Rasulullah sering mengingatkan tentang bahaya tersebut. Apakah anda juga belum tahu, kenapa Umar diacuhkan oleh Rasulullah karena apa? Atau Sahabat Rasulullah saat melihat (hanya melihat) seorang wanita cantik, sehingga terlihat oleh Rasulullah, dan Rasulullah langsung mengingatkannya.

    Semua itu harus proporsional, tidak boleh diambil atau asal comot hadits dan Al Qur’an tanpa melihat sebab-sebab datangnya hadits Rasulullah, dan sandingkan hadits dengan hadits lainnya. Jadi tidak asal comot.

    Kalau mau lihat di artikel saya, “Panduang untuk menikah, dan tidak adanya pacaran Islami” Silakan di blog saya. Af1 bagi yang punya blog bukan bermaksud iklan :)

    Telah Dituliskan 1 year, 4 months ago
  • Louis Edsar Figo berkata:

    pacaran ya pacaran, islam ya islam, setahu saya yang namanya pacaran itu konotasinya pasti negatif (klo liat realitas yang terjadi saat ini). masak yang negatif disangkut pautkan dengan cara yg Islami (positiv=true way), khan udah ga bener tuh? klo pakai logika pun pacaran islami itu akan memberi efek negatif. tuh liat rumus matematikanya, negatif (pacaran) +positif (islami) = negatif (ngga bener). Pake metode pacaran sebaik apapun (positif) pastinya hasil akan negatif (klo ngga percaya masukin ke rumus matematikanya). Ini mungkin jawaban bagi orang yang berpikir pake logika

    Telah Dituliskan 1 year, 4 months ago
  • susilo budhi raharjo berkata:

    Ass Wr, Wb,……….kaifa haluk!..kami punya radio yang bernuansa islamia nama radio kami radio Syaik abdul Wahid 98,6 FM, Moto ( Radio Untuk Ummat ) letaknya dikota bau-bau sulawesi tenggara. salah satu tujuan kami mendirikan radio tersebut untuk membec’ap ekonomi pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, saya mau minta tolong apakah diantara teman-teman dapat membantu kami untuk mendapatkan fanding?….hingga radio dapat bertahan dalam waktu jangka panjang. hal ini kami sangat membutuhkan bantuan rekan-rekan, karena persaingan radio dikota kami tidak sehat utamanya dalam memperoleh penghasilan dari iklan, mhn bantuannya

    Telah Dituliskan 1 year, 4 months ago
  • Randy berkata:

    Assalamualaikum wr. wb.

    Setelah membaca semua comment diatas.., sy jd ingin menambahkan:

    @Louis: lagi2 generalisasi yang parah..
    Kutipan kata2 anda:
    >>yang namanya pacaran itu konotasinya pasti negatif (klo liat realitas yang terjadi saat ini)

    Konotasi itu berbeda dengan definisi. Dengan mengatakan bahwa itu konotasi, secara logis, anda sendiri yang mengatakan bahwa pacaran itu esensinya tidak negatif. Berarti, ada kata lain yang memiliki denotasi sama dengan pacaran; dengan konotasi yang positif…

    Kutipan lagi:
    >>negatif +positif = negatif
    Ada teorema matematika baru rupanya. Tolong dibuktikan.

    Maaf bila ada yang kata kurang berkenan.

    Wassalamu’alaikum

    Telah Dituliskan 1 year, 4 months ago
  • Louis Edsar Figo berkata:

    klo ga mau dibilang konotasi ya definisi (saat ini). Bukankah definisi (gambaran) pacaran saat ini memang negatif. Dampak negatif dari pacaran itu kan banyak daripada sisi positifnya, sehingga memperburuk citra pacaran itu sendiri. nah klo citra yang buruk ini dihubung-hubungkan dengan sebuah ajaran dien yang mulia khan malah jadi jelek.
    untuk rumus math-nya: klo negatif (lebih besar) + positif (lebih kecil) = negatif, silakan buktikan klo memang anda terpelajar.

    Telah Dituliskan 1 year, 4 months ago
  • Randy berkata:

    Ya iya laah…
    Konotasi ya tetep konotasi,.
    Memang citra pacaran itu buruk.. tapi bukan berarti seluruhnya buruk

    Haduh2.. yang satu bilang pacaran berdampak buruk, ada yg bilang pacaran setelah nikah… masalahnya kita ngk berbicara tentang hal yang sama…

    Kalau memang ga mau pacaran, ga suka ide ttg pacaran seperti yang dibayangkan, ga perlu suudzan dg keinginan pacaran dg baik tanpa melewati batas2. Intinya sepakat bila pacaran dg nafsu sebelum nikah itu tidak baik. Bila sudah ada rasa saling sayang, belum siap nikah, ada kesepakatan utk menikah saat siap nanti, masih menjaga batas2 Islami; utk pacaran yg semacam ini, nggak perlu beranggapan tidak baik..

    Telah Dituliskan 1 year, 4 months ago
  • Louis Edsar Figo berkata:

    tetapi dalam kasus pacaran ini ada baiknya tidak dikait-kaitkan bahwa Islam membolehkan pacaran sebelum nikah dengan kata lain yang namanya pacaran islami jelas tidak ada. Lidah memang tak bertulang tetapi yang kita ungkapkan ini apalagi klo dibaca oleh orang yang berpenyakit dalam hatinya pasti menganggap bahwa pacaran sebelum nikah itu dibenarkan oleh islam, padahal itu sama sekali tidak benar. Maka dari itu ada baiknya klo kita tidak perlu mengkampanyekan apa yang namanya pacaran islami tersebut, karena hal itu tidak benar. Klo memang ada orang yang membuktikan pake dalil, tolong dicek apakah orang tersebut telah memahami dan mempraktekkan Islam secara kaffah (menyeluruh), karena hanya dengan Islam kaffah insyaAllah menemukan kebenaran hakiki.

    Telah Dituliskan 1 year, 3 months ago
  • rizka berkata:

    Saya sering dilanda keraguan karena ‘kebodohan mendadak’ akan syari’at islam yang sangat saya yakini. Terlebih tentang masalah khalwat,pacaran, sms or chating antar lawan jenis…Tapi intinya, kehati-hatian dalam memanage hati itu yang perlu dijaga. Logikanya, kalo sms or chating itu hukumnya mubah aja tapi bikin hati dan pikiran kita ber’zina’ ria, apa bedanya ? So, pacaran dalam bentuk apapun 100% ga banget walo dikemas sedemikian apik n berbau islami…….gitu lhooooo…….

    Telah Dituliskan 1 year, 3 months ago
  • inoex berkata:

    menurut saya sech.. pacaran atau mencintai seseorang tuh bLeh ja.. tapi dengan cara yang bener donk… mencintai khan sama aja menyukai atau mengagumi sesorang tapi g’ bleh klwtn.. pacaran secara islami tuh bsa dengan cara kita mengungkapkan perasaan kita kepada seseorang tapi hanya sekedar mengaggumi ciptaan Allah…

    Telah Dituliskan 1 year, 3 months ago
  • Hamba Allah berkata:

    ana memang tidak banyak menguasai hadist…

    namun ada 1 hadist yang Insya Allah membuat kita berpikir sebelum berbuat/berkata sesuatu…

    عن اميرالمؤمنين ابي حفص عمربن الخطاب رضي الله عنه قال: سمعت رسولالله صلى الله عليه وسلم يقول : انماالاعمال بالنيات ، وانما لكل امرئ مانوى. فمن كانت هجرته الى الله ورسوله فهجرته الى الله ورسوله ، ومنكانت هجرته لدنيا يصيبها اومراة ينكحها فهجرته الى ما هاجراليه.

    Intinya, semua amalan itu tergantung niat nya………

    Buat antum-antum yang pro-pacaran…

    Bisa tolong antum kasih tau alasan / niat yang “Islami” untuk seseorang berpacaran??
    Atau adakah alasan yang ISLAMI untuk seseorang berpacaran??

    Selama ini ana tidak pernah mengetaui ada orang yang memiliki tujuan yang islami dari berpacaran…

    Yang ana tau…
    Kalu niatnya ingin mengetahui karakteristik calon pendamping yang kita kehendaki dan yang akan kita nikahi nantinya, Islam telah mengajarkan dengan cara Ta’aruf, dengan didampingi wali si wanita.
    Dimana ta’aruf itu sendiri sudah di jelaskan oleh saudara kita akh Frian yang mengambil dari Syariah Online.

    Kalau niatnya selain untuk mengetahui karakter pasangan yang akan kita nikahi, sudah dijelaskan oleh saudara kita dari malaysia , Jiwakitamerdeka, bahwa diperlukan hijab.

    (jiwakitamerdeka)
    Dan apabila kalian
    meminta sesuatu kepada mereka (para wanita)
    maka mintalah dari balik hijab. (al-Ahzaab: 53)

    (jangan salah pengertian, (bahasa Melayu) Boleh = Bisa (Indonesia) = can(eng: ) )

    Ya Allah…
    Berilah petunjuk Mu kepada hamba dan saudara-saudara hamba agar mengikuti ajaran Islam dengan sebenar-benarnya.

    Wallahu A’lam…..

    Telah Dituliskan 1 year, 3 months ago
  • okah berkata:

    bismilläh…
    numpang lewat…
    wah rame tenan blog kiye jan. Yang aman ya… pacaran setelah nikah. DIJAMIN, Ya mbok??
    wallohua’lam

    Telah Dituliskan 1 year, 3 months ago
  • Nurhalimah hendaryati berkata:

    assalamu’alaikum wr.wb
    tolong kasih tau saya cowo y kaya gmn yang bener – bener berniat baik,,dan apakah aa cinta yang tidak terbius oleh nafsu??

    Telah Dituliskan 1 year, 3 months ago
  • Syawal berkata:

    Saya setuju dengan pendapat diatas (By Syifa) karena dengan mendekati zina saja kita sudah dilarang. Apalagi berzina yang selalu dilakukan dalam berpacaran. Udah deh kita gak usah munafik, tujuan utama dari pacaran itu adalah melampiakan nafsu walaupun tidak dilakukan secara terang-terangan namun terselubung dengan mengatasnamakan cinta. Bener khan..??Coba tanya nurani masing-masing deh. Oya saya punya solusi bagi para pengusung ideologi Pacaran untuk segera meninggalkan ideologi mereka. Solusi ini juga buat mereka yang akhwat dan ikhwan. Semoga bermanfaat, amin ya Robbal Alamin.Untuk mengenal calon tanpa pacaran dapat kita ketahui melalui cara-cara yang efektif, yaitu :
    1.Bertanyalah kepada orang yang dianggap paling dekat dengan calon tersebut yang dapat dipercaya sehingga Insya Allah informasi yang kita dapatkan cukup objektif. Dari sinilah kita dapat mengenali sifat-sifat yang tidak nampak dalam tampil sekejap dan sifat-sifat ini penting bagi yang ingin membangun
    rumah tangga bersama. Dalam sebuah syair diungkapkan ‘ Jika kamu ingin bertanya tentang seseorang tanyalah kepada orang terpercaya yang paling dekat dengan orang tersebut (sahabat), karena orang yang saling bersahabat itu saling mempengaruhi”. Namun untuk mengetahui penampilan/fisiknya tentu dengan melihat dan cara melihatnya tanpa sepengatahuannya.
    2.Untuk mendapatkan kemantapan, lakukanlah sholat istikharah dan mohonlah kepada Allah karena Dia yang paling tahu mana yang terbaik untuk kita. Rasulullah
    saw bersabda : ”Kalau anda menginginkan sesuatu maka lakukan salat dua rakaat, rakaat awal setelah membaca al-Fatihah membaca al-Kafirun dan pada rakaat kedua
    surat al-ikhlas lalu berdoa…… ( doa istiharah).
    3.Setelah memiliki kecendrungan yang kuat untuk mempersunting maka langkah selanjutnya adalah perkenalan (ta’aruf) antar keduanya secara lebih dekat
    yaitu secara langsung, namun tetap menjaga norma-norma Islam.
    4.Setelah itu, maka diteruskan dengan proses berikutnya sampai akad nikah. Tentu dalam hal ini kedua keluarga memiliki kontibusi yang sangat dominan. Karena keterangan no 1-3 baru menjelaskan bagaimana mengenali sang calon tanpa pacaran.
    5.Kenapa untuk mengenali sifat-sifat calon tidak melalui pacaran terlebih dahulu ? Karena Pernikahan yang diawali dengan pacaran dapat diibaratkan membeli
    buku yang dijadikan contoh(sample) dari jenis buku yang mahal. Umumnya buku yang seperti ini di toko-toko buku dibungkus dengan plastik rapat disertai
    peringatan yang bertuliskan Membuka berarti membeli ’sehingga bagi para pembeli untuk mengenali buku tersebut secara terperinci ada dua pilihan, yaitu pertama, dengan membuka buku tersebut dan membacanya, akibatnya buku tersebut sangat
    lecek dan makin lusuh bila semakin banyak orang yang membacanya. Akhirnya hampir semua pembeli menolak untuk menerimanya sebagai barang beliannya kecuali sangat memaksa. Membeli buku seperti inilah ibarat pernikahan yang diawali dengan pacaran. Pilihan kedua, karena buku tersebut mahal terbungkus rapi dan
    membukanya adalah berarti membeli maka untuk mengetahui isinya sang pembeli bertanya kepada petugas melalui katalog komputer atau terlebih dahulu bertanya
    kepada orang yang telah memiliki dan membacanya sehingga dia memperoleh buku yang benar-benar baru belum pernah disentuh oleh siapapun termasuk pembelinya. Inilah ibarat orang yang menikah dengan tidak proses pacaran tadi.
    Pada interval menanti hingga akad nikah nanti memang sering terjadi rindu kangen dan seterusnya. Rindu yang seperti ini merupakan kerinduan yang menjadi
    kesempurnaan sifat manusia. Kerinduan yang tidak mampu di tolak oleh manusia itu sendiri.
    Imam Ibnu Qoyyim mengkatagorikan sebagai rindu yang sah-sah saja terjadi pada setiap manusia dan manusia tidak mampu memilikinya dan menolaknya, sepanjang
    tidak dibawa oleh kerinduan tersebut kepada ma’siat kepada Allah bahkan kita bersabar untuk menahannya maka hal itu tidak apa-apa dan itulah rindu yang
    karena Allah.

    Telah Dituliskan 1 year, 2 months ago
  • Hengky berkata:

    Pacaran ok siap aja. Nikah ga siap.pikiran sekuler

    Telah Dituliskan 1 year, 2 months ago
  • ukhti berkata:

    bismillah…
    aduh ribut ya,, masalah pacaran,,,
    yang mbela ada yang jelas-jelas menolak juga ada…
    wuihh berat euy pas baca perdebatan sengit antara yang nulis artikel, truz ada feed back dari siapa itu,, fau,, fauzansa ya?? trus ,urad, eh murad,, saya sih cuma mau menetralkan suasana aja… toh ilmu saya juga gak banyak, yah sedikitlah,,
    kalo saya termasuk individu yang ogah buat pacaran, terlepas dari haram atau tidaknya nih,,, bukan karena gak laku atau gimana,, cuma klo dipikir,, gak ada guna, dan kalo sekarang cenderung dalam keadaan gak ada waktu buat yang begituan.. kepikiran lawan jenis aj gak,,, banyak amanah dalam hidup ini yang lebih perlu untuk dilaksanakan,,, tugas kuliah, tugas sebagai anak dalam keluarga, tugas, yah tugas,,,, dan pacaran menurut saya hanya akan menguras waktu dan tenaga untuk berpikir, harusnya buat mikir yang lain (yang lebih utama dari sekedar pacaran) eh kepikiran orang yang belum jadi apa-apa..
    lagian buat saya yang perempuan kayaknya pacaran agak merugikan ya… gimana enggak,, orang kalo pacaran bisa aja tersentuh dan jadi mikirin yang gak-gak, atau kita dibayangkan wajah dan tubuhnyanya sama pacar kita, kayaknya rugi gitu..
    pacarkan bukan apa-apa,, tapi uang, tenaga, pikiran, habis buat orang yang disebut pacar.. padahal cari uang aja belum bisa sendiri. jadi dimana letak kegunaan pacaran ya?? buat penjajakan?? ayah bunda saya tanpa harus pacaranpun bisa membina rumah tangga bahagia dan lahirlah saya, malah artis-artis yang pacaran itu,,, pada cerai,, padahal katanya lewat penjajakan pacarn itu, trus dimana gunanya???
    kalo mau punya pasangan yaa,,, nikah aja,, kalo belum siap ya,, tunggu sabar, ampe siap.. gak usah pacaran kayaknya.. cara cari jodohnya,, yah tak kan lari gunung dikejarkan…
    apa yangsaya ungkapkan diatas kayaknya,, mas-mas udah pada paham tapi mungkin agak sedikit lupa yaa,,,?
    ya,, buat yang setuju sama pacaran, maaf,, saya gak setuju sama antum terlepas dari definisdi panjang yang telah diungkapkan,,, Allah lah yang Maha mengetahui,, Yang tau apa yang terbaik untuk kita,,, netralkan pikiran, tenangkan jiwa, mungkin yang setuju pacaran lagi pacaran ya,, brarti punya pacar ya,,,? yahhh,, Allah punya 2 malaikat yang mencatat apa yang kita lakukan di dunia,, gak usah pake bawa-bawa Rasulullah yang mulia, kalo buat membela pacaran, jadi,,, pikirin lagi d,, apa yang udah diomongin jangan nati nyesel di akhirat karena baru tau kalo salah. see u ya mas,, semoga Allah mebuka hati dan pikiranmu..

    Telah Dituliskan 1 year, 2 months ago
  • gunawan berkata:

    pacaran sih menurut saya sah aja, tetepi harus bisa seimbang (balance) antara si cowok dan sicewek, seperti halnya dalam mentracktir sang pacar.., jangan si cowok melulu..ini akan berdampak negatif karena tidak ada yang dihasilkan dari pacaran tersebut, sehingga si cowok menuntut hal2 yang aneh dari si cewek, misalnya ciuman dan sebagaianya yang bisa mendekatkan zina, yang tidak bisa di tolak oleh si cewek karena ia sudah banyak makan uang sicowok ( ini Fakta yang terjadi dikehidupan di sekitar kita ).

    Telah Dituliskan 1 year, 1 month ago
  • Alifa El-Khansa berkata:

    Hm… Subhanallah, bagus banget neh artikelnya…

    Mo dikit nanggepin temen-temen di atas neh…

    Dipandang dari manapun, pacaran tuh baeknya cuma seperseratus persen… Kalo kita bilang dengan pacaran kita bisa kenal cowok, wups… salah besar deh! Coz pas pacaran, yang ditunjukin pasti sisi baeknya doang kan?! Mana ada seh yang mau nunjukin sisi buruknya ke pacar? Bisa-bisa ditinggalin pacar deh, trus nggak jadi nikah… hehe…Hayo…Masih tetep pengen pacaran?!

    Trus kalo kita mo bilang pacaran buat ngenal kepribadian seorang cowok/cewek, nggak bener juga tuh! Nyatanya, seberapa banyak kita pacaran nggak jadi jaminan kita kenal dengan kepribadian seorang cowok/cewek. Buktinya banyak yang bolak balik pacaran tapi nggak tau tau banget dengan dunia cowok/cewek. Yang ada malah pegang sana-sini terus berdosa deh…

    Ane sebagai seorang sarjana psikologi (fresh graduated, euy!), insyaAllah tau tuh kepribadian cowok walo nggak pernah pacaran. Taunya darimana? Ya dari buku2 lah… Buku itu kan ilmu lagi!!! cari di buku-buku psikologi pasti banyak! Trus kita juga bisa tanya2 ke bokap or sodara cowok kita. Kalo nggak punya juga, cari donk di internet. selama kita mau berusaha, pasti ada jalan. Nggak harus melalui cara-cara yang dibenci Allah kan, kayak pacaran gitu lho!!!

    Kalo mau tau seratus persen kenal cowok ya caranya cuma nikah lagi! udah halal, dijamin kita bakal jadi cowok/cewek dewasa yang bisa nerima orang apa adanya, nggak rese cari-cari tau sebelum merried. Ya nggak?! selain itu, dengan merried you bakal pahala romantis2an dengan suami/istri you. Hm… nikmat bukan?! :) So, sekarang beranikah dirimu menikah?

    The point, stop pacaran before merried :)

    raihlah cinta dengan suci, maka surga juga akan datang kepada kita tanpa diminta.

    -peace-

    Telah Dituliskan 1 year, 1 month ago
  • Muksi berkata:

    Emang kamu gak perneh seneng ama cowok.. Trus solusinya apa dong?

    Telah Dituliskan 11 months, 4 weeks ago
  • NDIEK berkata:

    ” Wahai jiwa-jiwa yang tenang jangan sekali-kali kamu mencoba menjadi Tuhan dengan mengadili dan menghakimi… , Bahwasannya kamu memang tak punya daya dan upaya, serta kekuatan untuk menentukan kebenaran yang sejati ”

    Apa yang kamu yakini sebagai sebuah kebenaran mungkin bukanlah sebuah kebenaran buat yang lainnya….

    Shine on… lets make harmony for a better future

    Telah Dituliskan 11 months, 2 weeks ago
  • CAT'S BOSS berkata:

    kalo saya sih.. yang lurus-urus saja…
    kalo memang merasa sudah mampu melangsungkan pernikahan, ya lebih baik langsung nikah saja .. ya to?. lha kalo belum mampu melakukan pernikahan ya jangan maksain diri tuk menjalin hubungan dulu..itu nekat namanya…
    toh rasul SAW juga menyarankan kita untuk cepat menikah…
    lha terus kalo sudah cinta berat gimana…?
    memang sih, masa muda itu penuh dengan cobaan..
    saat kita merasa suka ( cinta kata orang ), kita selalu ingat pada si doi, ga enak makan gara-gara mikirin si doi..khawatir terus tentang keadaan si doi..
    kalo menurut saya.. dalam islam tidak ada pacaran…
    hubungan yang terbaik untuk usia remaja adalah hubungan persahabatan yang saling menengur.. membantu… menasehati dan hal-hal baik yang lainnya. bukan berarti ini adala istilah lain dari pacaran, tapi, dalam hubungan persahabatan ada batasan-batasan tertentu. pacaran itu berlebihan… ya hubungannya, kata-katanya, perasaannya, dll. kalo menurut anda itu tidak berlebihan.. anda seperti memakan makanan yang uenak.. ga terasa dua piring juga kurang..

    Telah Dituliskan 10 months, 1 week ago
  • noerha berkata:

    Assalamualaikum wr wb

    kyknya seru banget ni debatbya, sampe panjang gni…
    klo bleh q kasih saran buat tmen2 ni mending kita semua ga usah pacaran dlu….org blgnya pcran setelah kawin??
    klo metode itu pasti aman,hehehehe

    tapi yang namanya pacaran islami tu menurut q lebih baik dihindari ja,qt emang bisa sih menerangkan bahwa pacaran islami tu ada dan gak haram bla bla bla, tapi dalam kenyataan apa bisa??coba deh tanya sm dri kalian sendiri?? yakin gak klo kalian menganut sistem pcran islami kalian bisa terhindar dari hal2 yang mendekati zina?
    Kalian tidak bersentuhan, tdk berkhalwat, tdk mojok di taman, dan masih dpt dilihat khalayak, tp apa itu bs jd jaminan bahwa hati dan pikiran kalian terhindar dari perbuatan zina itu??

    Belum lagi klo (mungkin sja) cwo kalian menginginkan (katakanlah ciuman) trz apa bisa kalian menolak mentah2 keinginan pacar kalian yang dlm tanda kutip orang tersayang kalian? Apalagi klo pke rayuan maut, pasti ce2 bkl luluh lantak hatinya dan takluk pada pcrnya,,

    yah, Semua orang pilih amannya kan, bersih pikiran bersih hati (insya Allah) dan bisa terhindar dari segala sesuatu yang tidak baik dalam pergaulan saat ini..

    aq memang tdk bisa menjelaskan dengan dalil2 shahih. toh tmn2 jg sdh menyampaikannya semua..Cuma saran saya buat temen2 yang ingin bnr2 menjaga hati, pikiran dan perbuatan dari zina lebih baik hindarkan diri dari pacaran, baik yang pacaran islami ataupun tidak
    thx,

    enjoy your day with yourself

    Telah Dituliskan 10 months ago
  • pacaranislamikenapa berkata:

    Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Sebagai sebuah wacana.. “pacaran islami” boleh jadi bisa menjadi “jawaban” bagi mereka yang sedang berpacaran, tetapi itupun setelah dijelaskan definisinya, konsep, dalil, metode, dan teknisnya seperti apa.. dengan adil, jujur, dan ilmiah. Misalkan “Pacaran Islami: pacaran setelah menikah”.

    Tetapi kenyataannya, yang terjadi adalah distorsi-distorsi dalam memahami istilah, definisi, dalil2 syar’i, ijtihad para ulama, sehingga yang muncul adalah perkara-perkara syubhat yang satu dan lainnya saling bertentangan.

    Salah satu contoh, membandingkan “silaturahim” dengan “pacaran”. Mereka yang mengatakan ini mengaku menggunakan “logika”, tetapi ntah mereka sendiri paham tentang makna “logika” atau tidak, kenyataannya mereka membandingkan 2 hal yang tidak sejajar untuk dibandingkan. Apakah logis membandingkan 2 hal yang berbeda derajatnya? Sebuah perbandingan seharusnya dilakukan atas dua atau lebih hal yang sederajat. Tidaklah pada tempatnya membandingkan kemampuan matematika seorang yang normal dengan seorang yang terbelakang mentalnya, sama halnya tidaklah pada tempatnya membandingkan silaturahim-yang berarti menyambung tali ksaih sayang dalam arti yang syar’i- dengan pacaran-hubungan percintaan pranikah yang banyak dibumbui perkara mendekati zina-.

    Bagi mereka yang berakal, tentu tidak perlu ragu dan bimbang. Agama kita mengajarkan bahwa yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas, diantaranya ada perkara syubhat yang secara fitrah setiap manusia pasti dapat mengenali perkara itu lebih mendekati ke haram ataukah ke halal. Cuma memang manusia adalah makhluk yang Allah SWT karuniai juga dengan syahwat(keinginan2/ kecintaan), dan ketika syahwat itu lebih banyak mendapat bisikan syetan, maka dia akan berusaha untuk mencari “celah” pembenaran. Jikalau qalbu-qalbu mereka sering disirami dengan air dzikrullah, hati-hati mereka dekat dan memiliki keterikatan dengan orang-orang sholeh, maka mereka akan bertanya kepada ahli agama, mengenyampingkan bisikan “pembenaran” untuk mendapatkan kebenaran.

    Karena bukanlah “pembenaran” yang dapat menenangkan hati, tetapi kebenaranlah yang akan mendatangkan ketenangan. Akhirnya..meski ia “sendiri” dalam perjalanannya menuju pintu pernikahan untuk bertemu bidadari hati yang telah dipersiapkan Allah SWT untuknya, ia akan tetap tegar hingga Allah SWT mempersatukan mereka. Karena janji Allah SWT itu pasti, laki2 yang baik hanya akan menjadi pendamping wanita2 yang baik, begitu juga sebaliknya. wallahu’alam.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Telah Dituliskan 8 months, 3 weeks ago
  • syifa berkata:

    Ihdinash shiratal mustaqiim…Ya Allah, tunjukilah kepada kami bahwa yang salah itu salah dan yang benar itu benar…

    Telah Dituliskan 8 months, 2 weeks ago
  • nDETZ.....CBZ berkata:

    aku juga masih bnung apakah pada jaman Rasul dkenal dengan istlah pacaran…Tapi yang jelas jatuh cinta itu fitrah manusia,lalu untuk menyikapinya kita dianjurkan untuk sesuai dengan Sunnah yang ada dalam AlQuran maupun al hadis..Namun kualitas kita dalam mnanggapi jatuh cinta itu berbeda beda ,,tergantung tingkat keimanan seorang…jadi yang terpenting adalah jadi lbih baik aj lah…….kata guruku Islam itu mudah tapi jangan DIPERMUDAH

    Telah Dituliskan 7 months, 3 weeks ago
  • vijiyan berkata:

    ahahahahahahahahahaha

    Telah Dituliskan 7 months, 2 weeks ago
  • etikush berkata:

    hoiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
    gw bikin artikel tentang pacaran islami,
    trus pengunjung gw berkisar antara 50-80 pengunjung,
    tapi kok gak ada yang koment semeriah ini ya??
    boleh tanya susuknya gak????
    gw juga pengen ada yang perang di blog gw nih…………..

    Telah Dituliskan 3 months, 2 weeks ago
  • etikush berkata:

    oia, 50-80 pengunjung perhari

    Telah Dituliskan 3 months, 2 weeks ago


  • Tinggalkan sebuah Komentar

    (wajib)

    (wajib)



    Atur penampilan komentar anda
    Kembali ke Atas | Area teks Lebih besar | Lebih kecil