Arsip | Agustus, 2006

Pindah Kuadran Ah…

8 Agu

tidak penting berapa kali Anda gagal, yang penting berapa kali Anda bangkit. [Abraham Lincoln]

Lima persen penduduk dunia menguasai lebih dari delapan puluh persen uang yang beredar saat ini. Di tingkat lokal, lima persen penduduk Indonesia menguasai sembilan puluh lima persen peredaran uang. Ini berarti sembilan puluh lima persen dari lebih dari dua ratus juta penduduk hanya memegang dan memperebutkan lima persen uang sisanya.
Sekedar membahasakan ulang teori Kiyosaki, sejak kecil kita diajari untuk menjadi pintar, bersekolah tinggi, mencari kerja dengan penghasilan besar atau jaminan uang pensiun. Sejak lama kita dididik untuk pandai dan menjadi employee bagi orang lain. Hanya sedikit orang yang memahami pengelolaan finansial untuk membuat uang bekerja untuk mereka, bukannya mereka yang bekerja demi uang. Juga yang membuat orang pintar bekerja untuk mereka, bukan mereka yang dipekerjakan.
Teori ini juga memberi gambaran dari Kiyosaki bahwa orang cenderung menganggap liabilitas sebagai aset. Orang kaya (dalam definisi ini, orang kaya adalah pemilik perusahaan besar atau investor profesional) mampu membedakan mana liabilitas, mana aset. Mereka mengembangkan aset agar bekerja untuk mereka dan terus menghasilkan uang. Sementara golongan menengah ke bawah menghabiskan sebagian uang mereka untuk memelihara liabilitas.
Pemilik aset inilah yang berada di kuadran kanan (bussiness owner en investor) yang berjumlah kecil dan menguasai sebagian besar peredaran uang. Sementara kuadran kiri (employee en self employee, segala macam pekerjaan diluar kuadran kanan) menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja pada orang lain dengan gaji yang kecil.
Sejak dulu, sebagian besar dari kita mengikuti alur manusia pada umumnya. Setelah lulus sekolah atau kuliah, lantas menawarkan ijasah dan keterampilan kepada perusahaan milik orang lain. Alangkah enaknya jika kitalah pemilik perusahaan dimana orang lain menawarkan ijasahnya kepada kita. Sayangnya, mengutip kalimat A. Khoerussalim (sarjana Filsafat UGM yang kini menjadi super trainer bisnis, owner Country Donut), orang lebih suka berada pada jalur aman jika sudah menyangkut permasalahan uang. Tidak berani mengambil dan menghadapi resiko untuk mencoba sesuatu. Mereka lebih suka berpenghasilan tetap daripada tetap berpenghasilan. Siapa yang menjamin kita akan terus bekerja untuk perusahaan X? Siapa yang tidak khawatir dengan persiapan hari tua?
Kalo kita punya tabungan atw deposito sekian juta di bank, akan sangat membantu jika digunakan sejak sekarang untuk mulai membangun aset kita, untuk segera berpindah dari kuadran kiri ke kuadran kanan. Keuntungan bisnis dari investasi maupun membangun aset berkali lipat dibanding bunga bank yang hanya beberapa persen. Salah satu jalan kebangkitan ekonomi Indonesia adalah melalui munculnya entrepreneur pribumi yang berani bersaing dengan produk impor.
Kalaupun motivasi kita bukan melulu karena uang, kita dapat melihat bagaimana masa muda Rosulullah saat muda. Beliau seorang entrepeneur dengan istri bussines woman internasional. Sembilan puluh sembilan pintu rejeki ada pada perdagangan, sabdanya [tolong kalo kalimatnya keliru dikoreksi ya...]. Allah lebih menyukai mukmin yang kuat, termasuk dalam hal finansial, dari pada mukmin yang lemah. Dengan menjadi kaya, ada lebih banyak amal yang dapat kita lakukan. Mulai dari rukun Islam kelima, bersedekah lebih banyak sampai membangun bermacam yayasan untuk kemanfaatan umat. Yuks, pindah kuadran en kita kaya bareng-bareng…. []

*Aset, definisi mudahnya sesuatu yang terus bekerja dan menghasilkan uang tanpa keterlibatan/meski ditinggalkan oleh pemilik. Misalnya perusahaan bagi owner dan investasi bagi investor.
**Liabilitas, suatu benda yang mampu bekerja/menghasilkan uang tetapi membutuhkan pemeliharaan yang bisa menimbulkan pengeluaran baru atau mengurangi harga benda tersebut. Misalnya mobil dan rumah.

Ospek Datang Lagi

8 Agu

Ospek menyeramkan, kata maba (mahasiswa baru-pen) penakut.
Ospek ajang pembodohan, komentar maba kritis.
Ospek asyik, kalimat maba yang suka tepe-tepe.
Ospek seru, tutur maba yang suka tantangan.
Ospek ajang balas dendam gw, pikir mahasiswa pendendam.
Ospek sarana gw masukin pemikiran gw ke otak maba, sebagian pemandu tersenyum penuh arti.
Ospek memang memiliki banyak arti di mata mahasiswa.

Teringat setaon lalu saat melihat wajah-wajah inocent maba terbengong, manggut-manggut sambil ber-”Ooh…” ria saat dengan gaya sedekap ala bos sambil mondar-mandir kayak seterika, pemandu kelompok yang kupegang (maksudnya aku sendiri :D ) en partner-ku, mahasiswa KT yang punya tampang lumayan seram (rambut semi gondrong, jins sobek, gaya ala anak kiri, untungnya dia lebih muda dari gw) menceramahi mereka dengan sederetan fakta tentang rektorat dan universitas. Rasanya puas banget bisa bikin mereka bengong kayak gitu.
Atau saat rapat-rapat tim gugus, ada seorang cowok jenggoter yang cukup kritis en pro aktif, kalo dari tampangnya sih jelas ga kukenal, artinya bukan temen pergerakan gw. Gw bersyukur aja ada temen yang sama perjuangan en pemikiran, meski berbeda latar belakang. Belakangan pas rapat dah mau berakhir, sebagai sekretaris gugus dia menutup cuap-cuapnya, ”Kalo ada apa-apa, bisa kirim lewat emailku ayam ka em pe es at yahoo dot com,” uh… langsung ilfil deh…
Ospek selalu menyisakan cerita seru…
”Dasar kobis! Anak wortel!!…” teriak sie tatib Pascal (Ospek-nya MIPA UGM) satu atw dua taon lalu.
Di luar cerita en pengalaman masing-masing individu, Ospek selalu menjadi ajang pembelajaran. Pembelajaran yang betul-betul mendidik (artinya untuk mengenalkan maba pada kampusnya en membuat maba menjadi kritis en peka terhadap kondisi sekitarnya) juga pembelajaran untuk belajar mendendam en melampiaskannya taon depan.[]

Susahnya Menjadi Imajinatif

8 Agu

Imajinatif, bisa membuat seseorang menjadi kreatif. Imaji menciptakan mimpi untuk direalisasikan. Dari impian Edison akan sebuah penerangan tanpa minyak, terciptalah bolam. Dari impian Bill Gates bahwa komputer akan ada disetiap rumah warga, terciptalah PC. Imajinatif juga membuat seorang JK Rowling sukses membuai penduduk dunia dengan eksistensi dunia sihir yang begitu hidup. Imajinasi juga yang membuat tokoh-tokoh ciptaan Walt Disney nyata di tengah kehidupan anak-anak.
Imajinasi yang membuat Joni Ariadinata sukses menjadi seorang sastrawan populer dari kehidupannya sebagai tukang becak tanpa rumah. Impian juga yang membuat Lincoln tak henti mengejar cita-cita sampai menjadi seorang presiden AS yang kegendaris di usia 52 setelah berkali-kali ditinggal orang-orang tercinta, dipecat dari pekerjaan, terjerat hutang, dan berkali-kali gagal mendaftar sebagai anggota parlemen.
Aniway, masih berkaitan dengan imajinasi, kreatif mungkin bukanlah sebuah bakat. Tapi suatu keterampilan yang dapat diasah, suatu hal yang akan cepat berkembang ketika kita dihadapkan pada berbagai kondisi sulit. Kreatif selalu berawal dari impian dan imajinasi. Itu manisnya.
Barangkali sifat (atau sikap) imajinatif yang sedikit kumiliki agak berbeda. Imajinatif memang mampu membuatku terhanyut dalam aliran cerita komik atau novel yang kubaca, imajinatif membuatku larut mendalami cerpen yang kubuat (meski dari sekian yang kukirim, baru satu yang dimuat). Imajinatif juga menolongku memanfaatkan kertas bekas warna-warni untuk membungkus kado ketika merasa sayang untuk membuangnya. Sayangnya, imajinatif yang kupunya belum mendorongku untuk melakukan suatu hal luar biasa yang bisa mengubah hidupku. Mungkin harus menunggu keadaan benar-benar mendesakku sampai pojok kehidupan :) Jeleknya, imajinatif membuatku menjadi penakut. Setiap adegan film, komik, novel atau cerpen yang menakutkan, selalu terbayang-bayang di depan mataku. Dan satu lagi, membuatku kadang tidak bisa membedakan antara realita dan kenyataan (lah iya, wong realita sama kenyataan tuh emang sama). Maksudku, realita dan angan-angan. Imajinasi membuatku banyak berprasangka seperti seorang detektif yang merunut suatu kejadian berdasar potongan fakta yang diketahuinya. Tentu saja sebagian besar kenyataan tidak sesuai dengan rekaanku.
Misalnya saja ni, aku pernah membenci seseorang. Dari hal-hal yang kuketahui, kususun fakta untuk menguatkan argumenku untuk benar-benar membencinya. Saat kuceritakan pada sohibku, ”kamu ni ada-ada aja,” sambil tertawa. Memang aneh kayaknya, masa sih aku membuat skenario sendiri dari kejadian yang sudah terjadi (dengan kehendak Allah tentunya). Sama sekali aku tak menyukai imajinasi yang ini.
Imajinasi juga membuat pikiranku lebih kompleks. Saat ada banyak hal terjadi padaku, melintas di pikiranku, semuanya tak terkendali. Beberapa lintasan pikiran memaksa untuk berimajinasi dengan beberapa runutan kejadian yang berbeda, pada waktu yang bersamaan. Akibatnya… pusink…. sampai-sampai aku merasa harus mengikat kepalaku (ala orang Jepang yang lagi berpikir keras/serius) untuk memastikan bahwa isi pikiranku tidak akan berloncatan kemana-mana (maksudku berpikir, melayang yang enggak-enggak). Sugesti ini cukup efektif, pikiranku jadi lebih tenang. MayB guys en gals ada yang pernah mengalami permasalahan yang sama denganku en mo share gimana penanganannya?[]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 77 pengikut lainnya.