~~blinking to the word~~



gaul VS konsumtif

Kalau Anda remaja, apakah Anda masih menjadikan Anyer sebagai tujuan liburan Anda? Jangan lagi! Menurut majalah Seventeen, pantai di Propinsi Banten ini sudah tidak pantas lagi menjadi tempat piknik (itu jika Anda melabelkan diri Anda sebagai remaja gaul). Menurut Seventeen, Anyer masuk kelompok trash (sampah), karena Anyer pantainya memang bagus, sayang lokasi buat hangout kurang dan agak kotor.

Jadi, kemanakah remaja sebaiknya berlibur? Supaya dibilang gaul, tujuan libur yang asyik ada tiga: Bali, Singapura, dan Kuala Lumpur. Seventeen merekomendasikan tiga tempat ini karena:

Bali: pesta, pantai.. wah, nggak akan pernah bosan deh walaupun sudah berkali-kali ke sana!

Singapura: saatnya dugem di the Zouk.

Kuala Lumpur: siap-siap bangkrut karena kita nggak akan pernah bosan belanja barang-barang seru di kota ini.

Selain tempat berlibur, HP (handphone) adalah hal yang tidak dilepaskan dari remaja. Namun, kalau ingin disebut remaja gaul, janganlah lagi memakai HP monophonic dan walkman. Barang-barang itu kini termasuk trash! Menurut Seventeen, remaja harusnya memakai HP polyphonic + kamera, selalu menenteng kamera digital, punya PDA, dan membawa discman. Itu baru namanya gaul!
***
Semuanya itu tertulis di 17 Hip Kamus Gaul, yang merupakan bonus majalah Seventeen edisi Mei 2004. Saya mendapatkan bonus ini dari sekelompok mahasiswa saya di UI. Menurut mereka, tiap tahun Seventeen mengeluarkan bonus semacam ini, semacam panduan bagi remaja tentang apa yang trend dan apa yang kadaluarsa sehingga harus ditinggalkan.

Mahasiswa saya itu bukan kelompok mahasiswa kuper alias kurang gaul. Namun untuk mereka, banyak informasi dalam bonus ini keterlaluan dan menyesatkan. Anyer dan HP monophonic di atas adalah dua hal yang mereka perdebatkan.

Saya setuju dengan komentar mahasiswa saya, karena beberapa hal yang memandu kaum muda untuk menjadi remaja gaul dalam bonus ini memang mengkhawatirkan –kalau tidak mau disebut menyesatkan.

Tetapi sebenarnya bonus Seventeen ini merupakan contoh kecil saja dari serangkaian informasi sejenis yang sering dimunculkan majalah-majalah remaja semacam Gadis, CosmoGirl atau KaWanku. Dalam kemasan yang berbeda-beda, majalah remaja perempuan ini sering menampilkan informasi tentang apa yang tren dan apa yang ketinggalan zaman.

Gaya Hidup
Apa yang ditawarkan oleh Seventeen dan majalah remaja perempuan lainnya itu sesungguhnya adalah gaya hidup. Remaja digiring untuk memasuki gaya hidup tertentu sesuai dengan nilai-nilai yang disampaikan dalam majalah remaja.

Gaya hidup yang ditawarkan oleh majalah-majalah remaja modern ini sebenarnya adalah ajakan bagi khalayaknya untuk memasuki apa yang disebut budaya konsumer. Oleh Lury (1998), budaya konsumer diartikan sebagai bentuk budaya materi yakni budaya pemanfaatan benda-benda– dalam masyarakat Eropa-Amerika kontemporer. Kini, apa yang dinikmati oleh masyarakat Eropa- Amerika kontemporer tersebut “yang notabene adalah negara kaya”ditiru oleh masyarakat dunia lain, termasuk kita.

Budaya konsumer dicirikan dengan peningkatan gaya hidup (lifestyle). Justru, menurut Lury, proses pembentukan gaya hidup-lah yang merupakan hal terbaik yang mendefinisikan budaya konsumer. Dalam budaya konsumer kontemporer, istilah itu bermakna individualitas, pernyataan diri dan kesadaran diri. Dalam hal ini, tubuh, pakaian, waktu senggang, pilihan makanan dan minuman, rumah, mobil, pilihan liburan, dan lain-lain menjadi indikator cita rasa individualitas dan gaya hidup seseorang.

Jadi, majalah seperti Seventeen mengajak remaja untuk punya kesadaran baru sebagai remaja gaul. Untuk itu, mereka dididik untuk mengkonsumsi barang-barang tertentu sebagai indikator bahwa mereka adalah bagian dari remaja gaul tadi. Berlibur atau punya HP poyphonic adalah dua di antaranya. Mereka juga digiring untuk berpikir bahwa barang-barang lama adalah sampah yang tak lagi patut dinikmati. Mengkonsumsinya akan membuat remaja tersingkir dari komunitas remaja gaul tadi.

Apalagi, orang muda adalah kelompok yang mudah dibentuk oleh pasar. Mereka berada pada masa terjadi kontradiksi antara nilai-nilai tradisional “seperti puritanisme, tanggung jawab, dan sikap hemat” versus nilai-nilai baru seperti hedonisme dan konsumsi spektakuler masyarakat makmur.

Masalahnya Apa?
Lantas, masalahnya apa?
Majalah remaja adalah salah satu sekolah tempat remaja belajar sesuatu. Sayang sekali, pelajaran yang ditawarkan oleh majalah remaja semacam Seventeen dan kawan-kawan itu tidak semuanya sehat. Soal gaya hidup konsumtif tadi adalah salah satu contohnya.

Ajaran untuk terus mengkonsumsi barang-barang baru atau menikmati hidup (dengan cara memanfaatkan waktu senggang, berlibur ke luar negeri, dan sebagainya) menggiring kaum muda untuk tidak hemat dan menjauh dari pola hidup sederhana. Sikap ini akan terus terpupuk hingga ia dewasa dan nantinya memiliki uang sendiri. Ini tentu saja dapat menimbulkan masalah sosial yang besar. Ketika jumlah penganut pola hidup konsumtif ini kian besar dan menjadi sikap hidup yang sukar dilepaskan, tumbuhlah masyarakat yang konsumtif.

Apalagi, khalayak yang mengkonsumsi majalah remaja itu tidak semuanya mempunyai cukup uang untuk menikmati segenap tawaran yang disajikan dalam majalah yang dibacanya. Di satu sisi, bisa saja yang terjadi adalah remaja (yang tidak terlalu kaya) harus menguras tabungan atau menuntut orangtua untuk membeli barang-barang konsumtif yang sebenarnya tak terlalu diperlukannya. Si remaja merasa harus memiliki barang karena itu adalah bagian dari gaya hidupnya dan bukan karena fungsinya. Contohnya, seandainya ia telah memiliki HP monophonic, ia tergoda untuk membeli HP polyphonic karena merasa HP monophonic-nya sudah ketinggalan zaman dan tidak lagi sesuai dengan identitasnya sebagai remaja gaul.

Jika si remaja benar-benar tidak mampu, dan karena secara psikologis remaja berada pada keadaan labil dan mudah terpengaruh, bisa jadi yang timbul adalah rasa frustrasi. Secara psikologis, ini potensial menimbulkan akibat yang buruk.
**

tulisan diatas ditulis oleh Nina M. Armando untuk majalah Annida, kebetulan gw nemu pas nyari situs majalah Seventeen. aslinya dah dipublikasikan dua taon lalu. but, kayaknya tetep penting tuk nyadarin kita-kita: para remaja, yang punya adek remaja atau justru dah punya putra/putri seusia remaja. isenk-isenk aku beli beberapa biji majalah remaja terbitan anyar. dan memang, dah banyak bergeser dari beberapa tahun lalu. majalah remaja (esp.majalah cewek) sekarang lebih mirip katalog belanja.dimana tren layout dan konsep semacam itu memang dah lebih dulu ngetren di luar negeri.be carefull! []


Komentar

  1. linda ayu berkata:

    menurut saya pergaulan remaja saat ini di indonesia sudah buruk sekali. lantas gmana cara ngatasi masalah tersebut?

    Telah Dituliskan 1 year, 11 months ago
  2. okano berkata:

    yup gua setuju sebenarnya gaya hidup saat ini bukan berasal dari Indonesia, kebanyakan dibawa negara berkembang.
    mungkin kita harus bersikap selektif untuk menyaring segala sesuatu yang dibawa oleh negara2 maju.
    contohnya kita bisa mencontohi semangat belajar negara2 maju bukan malah mencontoh semangat dalam belanja atau bahkan membeli barang yang tidak dibutuhkan….hehhehe

    Telah Dituliskan 1 year, 5 months ago
  3. ri berkata:

    budaya konsumtif di kalangan remaja saat ni dah parah banget liat aja gaya remaja sekarang yang lebih banyak mengutamakan penampilan daripada isi otak & jiwa.istilahnya biar bodoh yang penting gaya.

    Telah Dituliskan 9 months, 1 week ago


Tinggalkan sebuah Komentar

(wajib)

(wajib)



Atur penampilan komentar anda
Kembali ke Atas | Area teks Lebih besar | Lebih kecil