~~blinking to the word~~



sekolah = pembodohan massal?

gini niy, yang namanya nge-blog, pasti seputar pengalaman pribadi. sepanjang menjalani masalah hidup, selalu diiringi pikiran, “tak posting ke blog ah, kayaknya menarik niy…” outputnya kalo ga cerita, curhat ya naro postingan yang agak kontroversial :D tulisan ini terinspirasi dari short chat dengan seseorang.

bisa jadi, sekolah benar-benar menjadi sarana pembodohan yang efektif dalam keadaan dan situasi tertentu. bagi orang seperti saya, sayangnya keadaan dan situasi sekarang memenuhi syarat bagi sekolah untuk saya tuduh sebagai sebuah mesin pembodohan massal. why?

  • kurikulum terlalu general dan menyeluruh, otak anak-anak dan remaja dijejali dengan berbagai hal yang tidak menjadi minatnya.
  • yang didapat disekolah hanya transfer materi yang belum tentu berguna, bukan skill yang dapat langsung diterapkan dalam hidup.
  • hanya mementingkan satu aspek kecerdasan (IQ) dan sebagian dari multiple intelligence (kecerdasan matematis logis dan linguistik saja)
  • siswa/mahasiswa tidak dididik untuk memiliki karakter dan life skill, hanya menjadi robot penghafal dan penghitung yang sebenarnya bisa dilakukan oleh kalkulator dan komputer.
  • dari empat poin sebelumnya, jika diringkas menjadi “hanya mementingkan dan mengembangkan potensi belahan otak kiri”
  • sekolah memperlakukan dan mengajar siswa dengan cara yang sama, padahal ada beberapa tipe belajar yang dimiliki oleh manusia yang dimiliki secara mendasar dan ketidaktepatan ini bertanggungjawab terhadap gagalnya siswa/mahasiswa menyerap pelajaran.
  • mayoritas sekolah saat hanya hanya menjadi legalitas untuk memperoleh ijazah dan pekerjaan.
  • output yang dihasilkan tidak sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan industri negara (indonesia terutama).
  • sebagian pendidik yang kurang terampil dan berkualitas berperan dalam menggagalkan proses pendidikan (lebih tepatnya pengajaran) yang telah memiliki sederet kekurangan diatas.
  • dan akhirnya, kriteria cerdas dan tidak cerdas adalah; seberapa baik nilai sekolahnya, seberapa tinggi derajat pendidikannya.

dan inilah output yang dihasilkan…

  • siswa yang depresi karena tuntutan orangtua yang begitu tinggi tanpa mau mengerti kebutuhan siswa yang sesungguhnya.
  • lulusan yang tetap menganggur dan tidak memiliki life skill sehingga tidak tahu harus berbuat apa.
  • pekerja yang bingung mau melakukan apa. saat bekerja, sebagian besar harus belajar lagi dari nol.
  • orang-orang yang tidak kreatif karena tidak pernah diajari untuk melihat berbagai kemungkinan. saat disekolah, semua hal ”sendiko dawuh“, manut apa yang diajarkan guru.
  • semakin tinggi seseorang menuntut ilmu, semakin semangat untuk melamar pekerjaan, karena hanya sedikit orang yang bersekolah dengan niat thalabul ‘ilmi.
  • semakin bagus nilai ijazah, semakin enggan untuk menjadi bussinesman, padahal 9 dari 10 pintu rezeki ada pada bisnis dan dagang (al hadits).
  • tidak memiliki cita-cita khusus, ya nantilah… dapat kerjanya seperti apa. yang penting sekolah dulu, biarlah walau kadang merasa salah jurusan juga.
  • sampai bertahun setelah lulus, usia kepala tiga dan kepala empat, masih bingung mencari skill yang sesuai dengan minat dan jiwanya.

sebagai salah satu korban yang sedang berusaha insaf, saya betul-betul merasa prihatin. sekolah-sekolah yang sedikit ‘tepat, bagus dan bermutu’ saat ini hanya dapat dinikmati oleh mereka yang memiliki kocek lumayan dalam. saat ini saya hanya bisa bertekad; anak saya akan saya didik dengan cara saya sendiri. tidak perlulah dia sekolah di tempat mahal hanya untuk ‘dibodohi’.

tulisan ini tidak menjadi apologi untuk tidak bersekolah tinggi. bagaimanapun bersekolah (sekolah dasar dan menengah) lebih baik dari pada tidak sama sekali. pencapaian pada level sekolah tersebut, jika ditangani secara tepat dapat dipercepat dalam waktu yang lebih singkat. namun itu juga bukan berarti sejak kecil sudah dijejali dengan materi-materi kelas berat. karena masa anak-anak adalah masa bermain, maka teknis pengajarannya lebih baik jika disesuaikan.

begitu pula materi pengetahuan dan wawasan yang didapat dari bangku kuliah selama 4-5 tahun untuk strata satu, dapat dipelajari dalam waktu 2-3 tiga tahun jika kita bisa mandiri, tekun, dan penuh minat melalui buku, majalah, jurnal, dan interaksi internet.

kadang ada perasaan bersalah juga. mahasiswa, title sakti yang dibanggakan oleh masyarakat, dalam kehidupan sehari-harinya seorang mahasiswa tanpa visi hanya menghabiskan waktu untuk tidur, ngobrol ga jelas, belanja, hang-out tanpa tujuan. tidak ada yang bertambah darinya sejak baru lulus kecuali beberapa hafalan yang diketahuinya, penampilan yang semakin modis, uang yang terbuang tanpa manfaat, sederet nilai kuliah dan usia yang bertambah tua. hmmmh…


Komentar

  1. ben berkata:

    bagaimana lagi dengan program sekolah gratis yach? iklannya “ada dimana-mana” lagi, sedangkan yang bayar saja outputnya persis seperti tulisanmu ini.

    Telah Dituliskan 6 months, 2 weeks ago
  2. djengwidz berkata:

    Bbrp waktu yg lalu aq ke Cilacap, ikut menangani bbrp kasus ‘Syndroma pre UAN” (nampaknya diagnosis baru…)
    Ya aq siy melihatnya miris, masih SMP koQ udah menunjukkan gejala gangguan jiwa, maw bunuh diri segala. Siapakah yg salah…?
    Standar kelulusan 5,5 (yang sebenarnya menurutku rasional) terlalu dibesar2an oleh pihak sekolah & media, ujung2nya siswa jd stres. Bayangkan aja, setiap hari mereka dijejali dgn kata2 “Ingat!!! Kalian harus mampu mencapai nilai rata2 minimal 5,5 klo maw lulus!!!”. Seandainya skrg itu standarnya 2,5, aq rasa tingkat stres mreka pun g jauh beda dgn skrg, karna lagi2 terbebani dgn “Ingat!!! Kalian harus mampu mencapai nilai rata2 minimal 2,5 klo maw lulus!!!”
    Mind-set siswa sudah dikondisikan untuk selalu cemas, takut, panik, dsb. Aq tidak akan menyalahkan guru, karna guru pun akan menanggung beban jika anak didiknya tidak lulus (jd sebenernya guru2 ini panik jg,, malu donk klo anak didiknya g lulus…).
    Yaaa… kmaren itu bs dibilang efek ‘terapeutik’ dr proses terapiku agak ‘kebanting’ karna begitu keluar kelas siswa berpapasan dgn guru yg masih saja berkata “Ayo!!! 5,5!!!”. Aaaahhh… rasanya aq lgsg lemes waktu itu…
    Sebenernya aq ngerasa g adil juga sih kdg2, koq sekolah yang bertahun2 hanya dievaluasi 4 mata pelajaran tanpa mempertimbangkan aspek lainnya. Tapi itulah sistem yang ada, dan ini akan bertahan untuk bertahun2 yg akan datang. Kurikulum metode belajar klo dilihat teorinya cukup bagus. PBL (problem/project based learning) dan SCL (student centered learning) sudah cukup terbukti di bbrp negara bahwa outputnya punya kompetensi yg baik. Tapi penerapan di Indonesia kurang sesuai dgn rule-nya. Bbrp aq jumpai SCL & PBL seakan2 dijadikan ‘alasan’ guru utk tidak mengajar. Ibuku seorang guru, bliau juga bilang belum memungkinkan untuk seluruh siswa menjalani PBL/SCL karena mental siswa awalnya sudah overdependent sm guru. Jadinya beliau pun bertahan untuk mengajar dgn metode yg lebih direktif. Begitu juga dgn guru2ku waktu SMA.
    Metode ‘home-schooling’ dipilih oleh bbrp orang yg mencoba mengeliminasi faktor sistem tadi, tapi menurutku home-schooling bukan pilihan yg tepat. Esensinya home-schooling bukan untuk menggantikan sistem public-schooling untuk alasan itu. Home-schooling adalah PILIHAN TERAKHIR ketika seorang siswa mengalami kendala-kendala yg sulit untuk ditangani dan sudah ‘zero-tolerance’ seperti kendala bahasa, social-anxiety, dsb. Jadi apa solusinya untuk pendidikan Indonesia…? Kalo aq siy ambil sisi positifnya aja. Aq merasakan dgn sebegitu besarnya pressure aq waktu SD-SMA dulu, pressure di perkuliahan jd terasa ‘gak seberapa’. Yaaahhh… itung2 belajar untuk tegar, adaptif, & antisipatif. Makanya perlu dukungan dari keluarga juga, supaya seorg siswa/anak tidak terpapar dgn fenomena & lantas mengambil semua sisi negatifnya.
    Hmmm, ini komen cuma sekedar berbagi cerita aja seputar fenomena pendidikan di Indonesia. Never expected to be this long… hahaha…

    Telah Dituliskan 6 months, 2 weeks ago
  3. rip berkata:

    sekolah pada umunya sekarang hanya memberatkan pada satu sisi yaitu kecerdasan otak kiri ( Intelligent Quotient ). Akibatnya sisi yang lain seperti kecerdasan emosional ( EQ ) dan kecerdasan hati ( SI ) tidak diperhatikan. negera kita agaknya begitu terpanasi dengan tingkat kecerdasan IQ yang tertinggal jauh dengan negara lain, bahkan dengan negara tetangga kita. pemerintah sebegitunya ingin agar anak anak ndonesia pinter, cerdas, kreatif, mandiri. sayangya kecerdasan yang dikejar hanya kecerdasan otak kiri saja. Padahal di negara-negara yang sudah maju, kecerdasan intelektual sudah tidak begitu diunggulkan lagi, tetapi beralih kepada kecerdasan hati dan emosional. Tapi di negara ini masih mengejar kecerdasan intelektualnya..

    hasilnya ya seperti sekarang ini..banyak anak pinter tapi akhlaknya buruk, banyak orang cerdas otaknya tapi mentalnya lembek dan payah..

    Disisi lain ada yang mengutamakan kecerdasan hati dan emosional tetapi kecerdasan otaknya nol. Ada orang yang begitu santunnya, akhlak baik, tetapi bodoh secara keilmuan. akhirnya menjadi korban penipuan dan kelicikan orang-orang yang pinter.

    Idealnya memang sekolah itu mengasah ketiga aspek kecerdasan tersut secara seimbang. Pinter ilmunya, juga cerdas hatinya, kuat mentalnya. intinya jadi generasi andalan banget..

    Dan kalo dilihat justru malah sekolah swasta yang sudah melakukan hal itu. karena saya pernah mengajar di SDIT kayaknya model sekolah seperti ini ( KBIT, TKIT, SDIT, SMPIT, SMAIT ) yang insya Alloh bisa diandalkan. atau juga seperti sekolah muhammadiyah atau NU. Tapi sayangya jalannya masih terseok seok.. makanya yang punya adik, keponakan, atau anak marilah kita sekolahkan di sekolah IT ( islam terpadu) atau muhammadiyah saja… kalo kepepet gak diterima ya dipondookke wae…

    Telah Dituliskan 6 months, 2 weeks ago
  4. fajar2908 berkata:

    Buat Syifa yang mungkin lagi emosi:

    Katamu “sekolah hanya mementingkan dan mengembangkan potensi belahan otak kiri.”
    Kataku “Ya iyalah, otak knan kan berkembangnya nanti di rumah, berhubungan dengan tetangga, berhungungan dengan teman-teman waktu istirahat dsb dsb dsb.”

    katamu “sekolah memperlakukan dan mengajar siswa dengan cara yang sama, padahal ada beberapa tipe belajar yang dimiliki oleh manusia yang dimiliki secara mendasar dan ketidaktepatan ini bertanggungjawab terhadap gagalnya siswa/mahasiswa menyerap pelajaran.”
    Kataku “Kalo tiap siswa diajar dengan cara yang berbeda, maka perlu banyak guru. kalo gurunya banyak, trus yang ngasih gaji siapa? Karena itulah biasanya sekolah mengelompokkan murid-murid yang sejenis atau hampir mirip baik secara kemampuan akademis maupun tingkah laku.”

    Katamu “dan akhirnya, kriteria cerdas dan tidak cerdas adalah; seberapa baik nilai sekolahnya, seberapa tinggi derajat pendidikannya.”
    Kataku “Karena dengan nilai sekolah adalah cara yang paling mudah. Coba kamu mau tahu apakah seorang tahu tentang suatu ilmu, caranya bagaimana. kamu tanya kan? soal ujian adalah cara bertanya yang efektif untuk sekolah mengetahui kemampuan akademis siswanya, daripada ditanya satu satu, kan lama.”

    Dari tulisan kamu diata, saya menambahkan. Di sekolah itu hanya diajari ilmu-ilmu dasar. kata guru matematika saya di sma (Yth. pak Larmin inspirator saya), kalo belajar matematika hanya belajar rumus dan angka itu rugi. di matematika adalah belajar membuat alur berfikir yang jelas, bahwa dengan alur yang berbeda, hasilnya akan berbeda dan salah jika dilihat dari nilai kebenaran. getoo katanya…

    Telah Dituliskan 6 months, 1 week ago
  5. fajar2908 berkata:

    Cuman mau naggapin tulisane djengwidz, bener tinggak strest itu ada, bukan karena patokannya, tapi karena pandangan yang mengalami.
    Dulu nih ya… dulu banget, siswa siswi itu tidak lulus atau tidak naik kelas itu biasa… kerana memang dia dipandang belum memenuhi standar naik kelas. lha sekarang, semua siswa pasti neik kelas, kalo belum mmemenuhi standar kenaikan kelas, gurunya yang membantu menambahi dia nilai. Dia tidak pernah mengalami dag dig dug ketika kelas satu maupun kelas dua. akibatnya, ketika membayangkan bagaimana kalo tidak lulus, dia jadi stres.

    pengalaman rekan saya, sejak kelas awal sekolah sampe lulus SMP, dia mengalami 4 kali tinggal kelas, akibatnya memang ketika SMA dia malah jadi orang yang berprestasi….. sungguh hal yang luar biasa… tapi dia tidak pernah stress, orang tunya tidak pernah menekannya. paling kalo gak naik dibilangi bapaknya, “pancene kowe kuwi durung patut munggh kok le… isih bodo”

    Ayo kita senantiasa berfikir positif.

    Telah Dituliskan 6 months, 1 week ago
  6. dJengWidZ berkata:

    Ho’o je mas fajar2908 (namamu sungguh matematis :p)…
    Tp sekarang itu sudah jarang orang tua sebijak orang tua rekan anda… smoga saya nantinya bisa sebijak itu… ;)

    Telah Dituliskan 6 months, 1 week ago
  7. syifa berkata:

    wah, kok pas ya ni lagi bulan mei, bulan pendidikan, padahal nggak sengaja lho…

    ben : setuju! sekolah gratis digembor2kan oleh pemerintah, dan menjadi bahan kampanye yang menarik pada pilpres lalu. padahal dibalik gratis-nya itu menyimpan segerobak kekurangan yang justru mereduksi idealisme akan makna pendidikan, juga menghambat beberapa tujuan jangka pendek (esp. mengejar nilai dan kriteria lulus). kebetulan tempat kerjaku dulu memungkinkan untuk berhubungan dengan pihak sekolah. dengan gratisnya sekolah, otomatis sekolah tidak mendapat pemasukan dari wali siswa. peningkatan kualitas memang sudah dianggarkan dengan sejumlah dana dari pemerintah yang jumlahnya sangat sedikit (jika dibandingkan dengan kebutuhan yang ada). dengan begitu, bye-bye bye-bye les disekolah, bye-bye seminar/pelatihan peningkatan kualitas pengajaran… karena tidak ada biaya untuk kesana. sementara untuk menarik dana lagi, ada PP (atau peraturannya siapa ya… belum belajar yang ini :) ) yang membuat wali siswa berhak menuntut sekolah bila ada penarikan dana oleh sekolah.

    djengwidz : analisa yang bagus. ga semua sarjana psikologi memahami dan menjiwai psikologi lho… home schoolong memang ada kelebihan dan kekurangan. jika untuk tujuan mendidik dengan lebih baik, pengajarnya harus memahami tujuan dan metode untuk mencapai tujuan itu, kalo cara dia sama kayak di sekolah biasa, ga ada bedanya dunk. salah satu kelemahannya, sosialisai siswa dengan teman sebaya dan masyarakat luas jadi terbatas.

    rip : hmm… jadi inget pengalaman teman2 SD International School. sebagai sekolah yang bervisi international dan berbeda, calon pengajar harus memiliki kriteria tertentu esp. cara mengajarnya. biasanya niy, sarjana kependidikan lebih sulit untuk kreatif atau diajak sedikit berbeda, karena cara pengajaran yang diajarkan di bangku kuliah sudah sinkron dengan sistem pendidikan yang biasa berjalan di indonesia.

    fajar2908 : hidup tanpa emosi ga seru lho… tapi tidak ada alasan bagiku untuk dendam sehingga memposting tulisan diatas.

    “Ya iyalah, otak knan kan berkembangnya nanti di rumah, berhubungan dengan tetangga, berhungungan dengan teman-teman waktu istirahat dsb dsb dsb.”

    ga juga. otak kanan berkembang jika kurikulum dan situasi mendukung. otak kanan berhubungan dengan kreasi, imajinasi, seni (musik, visual; lukisan etc), ketidakteraturan, ingatan jangka panjang dll. jika kamu sama sekali tidak mendapatkan ide dapam bekerja atau membuat sesuatu alias kurang kreatif, itu ciri bahwa otak kirimu berkembang terlalu pesat sehingga tidak seimbang. jika kamu masih ingat banget kata-kata dan saat terakhirmu berpisah dengan teman sebangku SD ketika dia pindah, berarti kamu menggunakan otak kanan yang melibatkan emosi dan bayangan. jika kamu males mandi dan rambutmu gondrong tak pernah disisir karena kamu mahasiswa sekolah seni, itu karena otak kananmu sering kamu gunakan dan lebih berkembang, sementara otak kirimu tidak. “sekolah seni” juga sekolah lho…

    “Kalo tiap siswa diajar dengan cara yang berbeda, maka perlu banyak guru. kalo gurunya banyak, trus yang ngasih gaji siapa? Karena itulah biasanya sekolah mengelompokkan murid-murid yang sejenis atau hampir mirip baik secara kemampuan akademis maupun tingkah laku.”

    ada tiga gaya belajar; auditorial (pendengaran dan suara), visual (penglihatan dan gambar) dan kinestetis (gerak dan pengalaman). setidaknya kalimat terakhirmu sudah menunjukkan sedikit jawabannya. idealnya, saat baru masuk sekolah siswa dites dia masuk tipe yang mana, kemudian dikelompokkan dalam kelas yang sesuai. dan untuk tiga tipe tersebut, cara mengajarnya tidak sama. misalnya niy, saya senang mengikuti kuliah dengan duduk agak didepan, karena kalau dibelakang banyak gangguannya. di depan saya bisa melihat tulisan dan mendengar penjelasan dosen dengan jelas, mungkin karena saya perpaduan dari auditorial dan visual yang hampir seimbang. sementara kawan saya, saat mengulang/belajar sendiri di rumah, dia harus membacanya dengan suara keras, sehingga keributan akan sangat mengganggunya, karena dia tipe auditorial.
    tipe visual cocok bekerja di tempat yang berhibungan dengan gambar; broadcasting bagian teknis, pelukis, desainer grafis etc. kadang dia menggunakan kata “kelihatannya, sepertinya” atau semacamnya. auditorial cocok jadi bagian costumer care kali ya… dia suka bilang “kedengarannya” sementara kinestetis (biasanya cerdas dan badung) tepat jika memilih pekerjaan yang memungkinkan dia mobile atau berada di lapangan. kata yang sering diucapkan “rasanya” dan semacamnya..

    “Katamu ‘dan akhirnya, kriteria cerdas dan tidak cerdas adalah; seberapa baik nilai sekolahnya, seberapa tinggi derajat pendidikannya.’
    Kataku ‘Karena dengan nilai sekolah adalah cara yang paling mudah…’ ”

    ya, karena ada delapan macam kecerdasan (meliputi kecerdasan Visual-Spasial, kecerdasan Musikal, kecerdasan Kinestetis, Linguistik, kecerdasan Matematis-Logis, kecerdasan Interpersonal, kecerdasan Intrapersonal dan kecerdasan Naturalis.) Sangat tidak adil jika yang di elu-elukan cuma sebagian kecerdasan yang juga cuma dimiliki oleh sebagian siswa. kalo tentang nilai, saya sepakat dengan Fajar. cuma mbok ya, yang dinilai aspek kecerdasan lain juga.

    “Di sekolah itu hanya diajari ilmu-ilmu dasar. kata guru matematika saya di sma (Yth. pak Larmin inspirator saya), kalo belajar matematika hanya belajar rumus dan angka itu rugi. di matematika adalah belajar membuat alur berfikir yang jelas, bahwa dengan alur yang berbeda, hasilnya akan berbeda dan salah jika dilihat dari nilai kebenaran.”

    ga juga. kenapa siswa Indonesia sering menang olimpiade ilmu2 sains di nagari? karena di negara lain, matematika, IPA belum sgeitu rumitnya seperti yang diajarkan di sekolah kita. dan sepertinya baru gurumu dan sedikit guru lain yang mengamalkan filosofi diatas. setau saya, kita cuma siajari rumus, tanpa tau kenapa rumusnya bisa begitu. penjelasan yang disodorkan biasanya berupa sederet persamaan yang disederhanakan menjadi sebuha rumus singkat (lihat saja di buku cetak matematika atau fisika). pernahkah ada guru yang mengajarr bagaimana rumus segitiga bisa setengah alas kali tinggi. kita mudah lupa rumus itu karena tidak tahu logika masuk akalnya. rumus tersebut berlaku untuk “segitiga umum” yang diajarkan di SD. betul, masih umum karena ternyata segitiga yang panjang tiap sisinya berbeda rumusnya beda lagi. (hehe…. pernah ngeles privat niy, makanya ingat :D )
    logika yang biasa kuajarkan supaya siswa ingat, rumus segitiga tersebut (yang aselinya segitiga sama kaki) berasal dari bentuk segitiga yang berasal dari persegi yang dibagi-bagi dan ternyata luasnya setara dengan setengah kali luas persegi; 0.5 x panjang x lebar = 0.5 x alas x tinggi.

    Telah Dituliskan 6 months, 1 week ago
  8. satufikr berkata:

    ni komennya agak serius kelihatannya..begitu panjang…. tapi intinya apa ya?

    yang penting adalah bagaimana kita bisa berbuat yang terbaik dalam mengatasi kebodohan dan kebobrokan moral… so nek punya anak jangan disekolahkan di negeri..mending di sekolah berbasis agama saja…

    Telah Dituliskan 6 months, 1 week ago
  9. Ummu Syifa berkata:

    Mbak, mbok menawa sesuk arep gawe sekolah dhewe, calling2 ya, aku gelem dadi gurune ;)

    Telah Dituliskan 6 months, 1 week ago
  10. syifa berkata:

    satufikr : kalo belum mengalami dunia pembelajaran atau berada di komunitas pendidikan (pengelola/pengajar di sekolah etc), memang agak susah untuk mengerti. padahal itu real banget pernah kita alami dan masih terjadi saat ini.

    Ummu Syifa : sip! siapa tau suami atau ipar saya ntar ada minat ke dunia pendidikan. nek orientasi saya belum kesana :)

    Telah Dituliskan 6 months, 1 week ago
  11. 1blackstars berkata:

    Saya tak peduli dgn nasib pendidikan negeri ini, saya hny pedulikan kamu. I still love you Mae. I always belong to you.

    Telah Dituliskan 6 months, 1 week ago
  12. Fajar berkata:

    wah, mbakMae punya penggemar berat nih…
    Mari kita berdoa, agar sistem pendidikan di negri kita mengedepankan moral. Cerdas itu nomer dua. Akhlaq yang pertama.

    Kelinganmotto-ne SMA-ku SMA MTA SURAKARTA. “Berakhlaq-Berilmu-Berprestasi”, yang dikedepankan akhlaq, kemudian baru mengejar mutu, kalau prestasi adalah pertolongan Allah.

    Telah Dituliskan 6 months, 1 week ago
  13. aRdiAn berkata:

    Wow pada serius nih… ikutan serius jg lah….
    Klo menurutku sih…permaslahan output pendikan jwbanya adl keluarga.
    Coba mari kt berpaling sejenak, sebentar saja …utk bercermin demi menyalahkan diri kt sndiri sbg pnyebab ke-eror-an ini…. lalu melakukn sesuatu memprsiapkn agar anak2 kt atau adik2 kt mampu menghadpi kondisi penddkn di negara kt, apapun &bgmnpun itu.

    Krn dr dulu kt cuma menyalahkan materi yg berat,kurikulum,stnd kelulusan dsb dsb dsb yg itu utk saat ini cm bs jd obrolan iseng ekspresi intelektual kt saja krn sampai saat ini realitas itu ga prnh jd bhn utama kajian kebjakan pnddkan para legislator di sberang sono, & sy yakin skali stdknya sampe masa transisi pnddikn kt tjd (yaitu transisi gap generasi tnaga pendidik & transisi globalitas yg jg akn bpngaruh pd dunia pnddkn yg prhitungannya kr2 dr 2010 smpe 2014 bhk mngk sampe 2020) sistem&mindstream pnddkn kt g akn byk berubah.

    Sekolah itu tmpatnya bertanya, dan anak2 yg brskolah shrusnya sll bs mempertnyakn sesuatu, tumbuh minat bljarnya & muncul kehausan br setiap ada informasi br, jk sejak lahir hingga menuju usia skolah dia mndpt “asupan” karakter,mental,budaya,EQ &SQ yg baik mk anak mjd siap & tahu akn melakukn apa ketika slm 5-8 jam berada di sklh. Dgn bgt sblm msk pertama kali kskolah anak hrs sdh dipersiapkn punya karakter & bekal kuat utk menempuh perjalananya slm setdknya 12 thn bersekolh. Jika tdk anak akn kehilangan dirinya,orientasinya, tdk tahu mengapa dia hrs brngkt keskolah, lihat saja …..scr psikologis byk anak brngkat skolah krn ikutan tmn2nya jg berangkat, krn disuruh ortu, mrk keskolah bkn utk menanyakan sesuatu. Dan itu tjd krn sejk kecil klg tdk mempsiapknnya. Kesian anak2 itu disuruh kesklh oleh ortunya tp ortunya sndiri tdk pernah membekali mrk dg persiapan karakter &emosi positif. Hasilnya adl output produk pnddkn yg tdk layak pakai spt yg tlh anti tulis diats.

    Yup!! setuju syifa utk mendidik anak dgn cara sendiri, krn bgmnapun hanya ortulah yg tahu bgm anak kt, bukan guru/sekolahnya. Jd mari kt persiapkan anak kt, adik kt, keponakan kt ketika dirmh dlm penddkn klg yg baik,melatih anak meliht bgm dirinya 10-20 th kdpn,mncarikan role model yg tepat,memberikan tantangan bljr,merngsang bakat,memfsilitasi minat,bdiskusi dg ank ttg pemikiran mrk,memahami perasaannya& melatih mental agr memiliki arah yg stabil &pegangan yg kuat agar tdk terpeleset terjatuh ktk melewati jembatan pndidikan skolah formal yg konstruksinya msh sgt buruk ini…. miring, mudah goyang, berlubang2, rangkanya tdk simetris & banyak sekrup dan baut yg tdk lengkap.

    Merdekaaa….!!! :)

    So, kalau g mau dibodohi oleh skolah ya brti kt hrs lebih pintar dr skolh kan?

    Telah Dituliskan 6 months ago
  14. syifa berkata:

    1blackstar : kemarin lewat RSJ Magelang, coba saya mampir trus dapet oleh2 obat penenang dan semacamnya. pasti banyak berguna buat teman2, kamu salah satunya… btw, ketularan para caleg yang gagal y?

    Fajar : Amin… Ya, gitu deh orang2 yang ketularan sekaligus menulari saya dengan virus gila. ga jelas gitu ngomongnya…. :D

    aRdiAn : iya ya… sekaligus tes pemahaman buat para calon orangtua. hehe.. kayaknya kalo saya ngobrol atw argumentasi ma temen tipe aRdiAn bakal ga selesai2 mpe maghrib.

    Telah Dituliskan 5 months, 4 weeks ago
  15. tugucraft berkata:

    coba liat2 hermawanbs.wordpress.com
    kata org2 sih bagus banget ^_^

    Telah Dituliskan 5 months, 4 weeks ago
  16. Info yang bagus….trim’s

    Telah Dituliskan 4 months, 1 week ago


Tinggalkan sebuah Komentar

(wajib)

(wajib)



Atur penampilan komentar anda
Kembali ke Atas | Area teks Lebih besar | Lebih kecil