Sabtu, 27 Mei
Langit menunjukkan tanda-tanda cerah. Puncak Merapi terlihat jelas mengepulkan asap (awan panas) yang cukup tebal melebihi biasanya. “Kencengin Winamp-nya donk May, mo ikut dengerin neeh…” teriak tetangga kamarku yang sedang menyetrika.
Suasana pagi tiba-tiba gaduh. Kamarku berguncang keras. Teriakan terdengar dari kanan-kiri kontrakan. Gempa! Reflek aku berinisiatif untuk keluar. Ups! Winamp belum kumatikan, coz kusetel dengan volume yang keras lebih dari biasanya. Tapi…. Pet! Lampu sudah padam duluan. “Buruan keluar!” aku tak dapat membedakan siapa saja yang berteriak kebingungan. Aku bergegas menuju lantai satu. Ditangga baru teringat sesuatu. Jilbab! Kembali aku menuju lantai dua dan segera kusambar jilbab kecil yang biasa kupakai dirumah.
Ternyata bukan Cuma aku saja yang kalut. Karena panik, penghuni kontrakan yang saat itu berjumlah enam orang (termasuk aku) masih saja bolak-balik keatas atau mengaduk-aduk kamar temannya mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk menutup aurat. “Pinjam jilbab! Mana jaketku? Buruan pakai rok panjangmu….!” Beberapa menit gempa masih berlangsung. Alhamdulillah aku sudah stand by dipintu keluar, tapi nggak berani keluar beneran, sebab… kaos yang kupakai lengannya pendek!
Gempa berhenti. Kami berenam terkumpul diruang tamu. Beberapa akhwat belum sempat memakai kaos kaki. Malah ada seseorang yang salah memakai sweater di kepala sebab dikira jilbab. Beberapa saat kemudian kami baru berani menuju kamar masing-masing melengkapi ‘kostum’ kami.
Tumben, seumur mengalami gempa di YK, belum pernah ada yang sekeras ini. Sampai-sampai dinding bangunan kos sebelah yang baru dibangun dan masih berupa susunan batu bata runtuh berjatuhan memenuhi gang. Merapi mau meletus kali ya? Banyak komentar keluar dari warga. Alhamdulillah, suasana di kontrakan menjadi agak normal setelah beberapa warga juga kembali ke rumah.
Lebih dari satu jam kemudian, gempa terjadi lagi. Untungnya penghuni Karima sudah lebih siap. Tapi gara-gara gempa yang kedua ini, warga tidak berani kembali masuk rumah, khawatir tiba-tiba terjadi gempa lagi dengan skala yang lebih besar. Akhirnya kami duduk-duduk ditangga depan kos. Kebetulan kontrakan kami tepat berhadapan dengan tanah lapang, sehingga bisa cepat mencapainya jika terjadi gempa. Sementara penduduk lain harus menempuh gang-gang panjang untuk mencapai tanah lapang itu. Bayangkan padatnya pemukiman Blimbingsari, mobil saja sampai tidak bisa menjangkau wilayah yang agak masuk lantaran gangnya yang super sempit jika dibandingkan dengan wilayah kos lainnya.
Setelah gempa yang kedua itu, warga benar-benar enggan masuk rumah. Anak-anak Karima pun untuk sekedar mandi selalu berpesan kepada lainnya. “Kalo ada gempa, ketok pintu kamar mandi yang keras ya biar aku denger.” Dan pagi ini durasi mandi menjadi lebih singkat lantaran takut terjebak di dalam. Kayaknya teman-teman juga sampai bosan mendengar ocehanku tentang ‘segitiga aman’ yang pernah kubaca di milis. Itu lho, jika saat gempa kita terpaksa nggak bisa keluar ruangan, kita disarankan untuk berlindung atau berbaring disisi benda yang kokoh. Disampingnya, bukan dibawahnya. Sebab jika terjadi keruntuhan, kemungkinan benda yang jatuh akan menimpa dengan posisi miring, karena terhalang benda kokoh disamping kita. Dan diantara benda kokoh dan benda jatuh yang miring itu akan tercipta celah segitiga yang aman. Celah inilah tempat kita berlindung tadi. Pokoknya gitu deh….
Iseng aku melongok keluar. Masya Allah! Ada apa ini? Kenapa semua berbondong-bondong keluar? Entah penduduk aseli, entah anak kos. Sebagian dari mereka bahkan menenteng tas seperti hendak bepergian jauh. Persis seperti serombongan besar pengungsi yang kulihat di film-film science fiction. Kutanya seorang tetangga yang juga teman kampusku. Heran juga, kenapa dia nggak ikut ngungsi ya? “Ada apa? Kok pada jalan ke utara?” jawabnya, “katanya ada gempa susulan.” Segera saja aku berbalik memberi tahukan hal ini ke teman-teman yang lain. Lagi-lagi kami stand by sambil duduk-duduk di depan kontrakan. Kalau ada gempa, bisa langsung ngacir ke tanah lapang. Saat duduk itulah terjadi guncangan kecil. “gempa lagi…., buruan tutup”. Jebret!!! Suara ribut-ribut dan pintu garasi yang dibanting cukup mengagetkan warga disekitar kami. Tentu saja. Guncangannya kecil, Cuma dua tiga detik pula, yang ribut malah anak-anak Karima en suara pintu garasi yang digeser paksa en dibanting keras. Semua memandang ke arah kami. “Orang gempanya cuman bentar, kalian aja yang heboh,” kataku sambil menutup muka malu. Beberapa orang cekikikan melihat tingkah sebagian teman-teman yang tadi masih berdiri dekat pintu garasi itu.
Beberapa kali memang terjadi gempa yang lumayan kerasa, tapi memang tidak seheboh yang tadi pagi. Sayangnya, listrik masih mati. Tidak ada informasi yang bisa kami dapat. Operator seluler juga error. Tiba-tiba ada SMS masuk ke handphone ku. “Ass.gimana keadaan disana? Disini semua rumah rusak.” What? Ini SMS dari temanku yang tinggal deket pantai di Kulonprogo. Kok bisa? Bukannya gempa dari Merapi? Aku yakin SMS temanku tadi juga karena mengkhawatirkan keadaanku yang jaraknya lebih dekat ke Merapi.
Padahal kami yang jaraknya lebih dekat tidak ada rumah yang sampai mengalami kerusakan parah. Kami baru ngeh kalau episentrum gempa memang bukan di Merapi. Kekhawatiran muncul, apalagi salah satu dari kami berasal dari Bantul en dekat pantai juga. Tersiar juga isu akan terjadi Tsunami. Ternyata itulah yang membuat warga berramai-ramai mengungsi ke arah utara. Teganya! Mereka sengaja membuat panik untuk memanfaatkan kesempatan ketika rumah warga tak berpenghuni.
Penghuni Karima tinggal empat orang. Satu orang pulang ke kampungnya, begitu keadaan mulai aman, karena ada walimahan teman. Seorang lagi ngacir dengan motornya entah kemana. Siangnya, kami bersama warga menunggu di sekitar halaman Yayasan Wredha Mulya, seratus meter di depan kontrakan. Didepan kami seorang gadis tengah menerima telepon dari keluarganya. Kutaksir usianya sekitar satu-dua tahun diatasku.
“Iya ini, aku terjebak. Bakalan ada Tsunami, makanya aku takut banget! Aku nggak bisa sendirian kayak gini…. Hiks hiks! Iya, tadi kamarku berguncang keras banget. Aku sampai ketimpa barang. Komputerku juga goyang-goyang mau jatuh. Aku takut… Teman-teman kos pada pulang semuanya. Hari ini bandara ditutup hiks… ”
Wah maaf agak lupa persisnya gimana, aku juga kurang bisa mendramatisir biar ceritanya seheboh mbak itu yang bicara dengan air mata bercucuran deras. Perasaan, orang-orang pada biasa aja deh. Lagian, enam komputer di kontrakan kami anteng aja, nggak ada benda-benda di kos yang ‘menari’ seheboh ceritanya itu. Mbak kali yang naro barang en komputer nggak bener sampe goyah gitu, pikirku nakal.
Setiap orang memiliki cara berpikir yang berbeda dalam menanggapi hal yang sama. Diam-diam aku takut juga kalau ada Tsunami. Makanya aku nanya-nanya ke temen dulu tuh jangkauan Tsunami di Aceh berapa kilometer dari garis tepi pantai? Kira-kira nyampe kontrakan kita nggak? Tapi itu hanya akan menambah kekhawatiran sobatku yang anak Bantul.
Dan setiap kita berinteraksi dengan orang lain, kita akan semakin khawatir karena kita akan mengetahui banyak hal yang belum bisa dipastikan sekedar isu atau berita beneran. Misalnya saja serombongan besar manusia yang mengungsi tadi disebabkan oleh isu Tsunami yang memang sudah menjadi opini bersama. Siapa yang nggak takut coba? Sementara anak-anak Karima lantaran ketinggalan info, justru malah tenang-tenang saja di rumah. Atau saat ini ketika kami tanpa sengaja mendengar obrolan orang, jadi ikut khawatir akan terjadi gempa susulan yang lebih dahsyat. Padahal jika kami di rumah saja, kami bisa lebih tenang dan berpikir lebih realistis. Wajarlah kalau warga bingung. Wong sebagian besar mereka Cuma lulusan SD dan SMP yang nggak tau apa-apa. Lha kita ini mahasiswa, harusnya bisa lebih bijak menyikapi.
Biz ashar aku berniat ke kampus. Rencananya pagi itu ada Mubes KMFM, kabar berikutnya Mubes ditunda jam 13.00. Di jalan, aku malah papasan sama akhwat KMFM yang lagi menggalang dana kerumah penduduk. Lho? “Mbak ke Sarjito aja”, kata mereka. Hmm… kupikir, ntar aku kebingungan nggak ya disana mau bantu ngapain? “Dapur umum baru mau dimulai di Mardiyah,” mereka menjawab keraguanku. Ya udah deh, ntar lakukan apa saja yang aku bisa.
Diluar perkiraanku, kondisi di sekitar jalan Kesehatan riuh ramai. Tampaknya terlambat sekali aku baru datang jam segini. Aku juga nggak nyangka seperti ini kejadiannya. Banyak orang yang diungsikan kemari. Mereka adalah para korban. Sebagian besar mengalami patah tulang. Sampai segitunya ternyata. Dapat kubayangkan, disini saja gempa sampai menimbulkan beberapa kerusakan bangunan, bahkan salah seorang tetanggaku meninggal akibat tertimpa benda jatuh. Gempa di lokasi yang lebih dekat episentrum, pasti jauh lebih dahsyat. Di Mardiyah belum ada kegiatan yang berarti kecuali koordinasi dan pengumpulan bantuan. Kuputuskan mengikuti seorang temanku yang menuju Sarjito. Allahu akbar! Pasien ‘bergelimpangan’ disana-sini memenuhi halaman. Sejumlah ikhwan dan sukarelawan lain bolak-balik memindahklan korban dari kendaraan dengan tandu. Sepertinya selain dokter dan perawat, mereka adalah orang yang paling dibutuhkan saat ini. Bau darah yang mulai membusuk tercium jelas di beberapa titik. Aku berada tepat di halaman sebelah selatan gedung baru yang dijadikan posko Merapi. Maha Kuasa Rabbku, ketika manusia menyiapkan segala upaya untuk menyambut Merapi, justru kejutan datang dari arah pantai yang tak pernah terduga sebelumnya.
Aku duduk didekat seorang kakek tua dan seorang anak kecil tujuh tahun. Yanto, nama anak itu, yatim piatu yang diangkat sebagai anak oleh kakek tersebut. Yang membuatku miris, baju Yanto pendek, baik kaus maupun celananya. Di bagian depan kaos-nya terdapat banyak lubang-lubang yang kuyakin sudah ada jauh sebelum hari ini, menggambarkan bahwa mereka adalah penduduk desa yang hidup ‘seadanya’. Tiba-tiba Yanto menggumamkan sesuatu, matanya berkaca-kaca. “Dingin… nanti malam tidur dimana? Kalau hujan gimana? Aku takut sendirian… mbak jangan pergi…” kutenangkan Yanto. Alhamdulillah, aku bawa jaket meski tipis. Kuselimutkan di badan Yanto. Ternyata masih kedinginan juga. Akhirnya aku menghubungi salah seorang akhwat kontrakan untuk membawakanku barang yang kubutuhkan.
Manusia memang beragam. Ada seorang kakek yang belum makan sejak pagi, tapi menolak habis-habisan ketika diberi nasi bungkus ketika diberitahu menunya ayam. Agaknya beliau alergi atau tidak suka ayam. Padahal saat itu pasien lain sudah diangkut kedalam, sementara beliau masih menunggu seseorang yang tadi menungguinya tapi sekarang pergi entah kemana. Luka-lukanya lumayan parah. Beliau akhirnya memilih tidur ditengah keramaian malam yang mulai dingin. Disebelah kakek itu, seorang pemuda bertato memanggil, diam-diam aku berpikir, gaya bicaranya tidak menyenangkan.
“Mbak… mbok ya saya dikasih selimut. Dari tadi saya kedinginan nggak ada dokter yang mau membantu. Saya patah tulang,” ocehnya. “Keluarganya dimana mas?” tanyaku. “Nggak tau keluarga saya kemana. Istri dan anak saya pergi meninggalkan saya. Tolonglah mbak, kalau ada apa saja, saya kedinginan.” Aku tidak suka caranya berbicara dan pandangan matanya, meski aku tahu dia terluka, tapi tidak mencerminkan keprihatinan. Bahkan ketika akan diangkat oleh para ikhwan dan relawan, dia malah protes ini-itu. Astaghfirullah…
Hari sudah amat gelap. Karena hampir semua pasien sudah ditemani korban, aku dan dua temanku merasa tidak enak kalau ‘mengganggu’ mereka. Melihat gundukan sampah diantara pasien yang terbaring di lantai halaman, salah satu temanku berinisiatif untuk menjauhkan sampah-sampah itu dari pasien. Baunya sangat mengganggu. Aku setuju. Masalahnya, peralatannya gimana ya? Nggak mungkin nyapu di tengah keramaian seperti ini. Akhirnya kami menuju unit tranfusi darah untuk meminta kaos tangan. Sekarang tinggal mencari plastik, kami menuju Mardiyah, siapa tahu ada plastik disana. Ternyata kami Cuma mendapati sebuah plastik bekas belanja. Besar memang. Tapi pasti tidak cukup untuk menampung sampah yang begitu banyak. Kuputuskan untuk menghubungi pihak Sarjito, dan kami mendapat beberapa buah kantong plastik super besar yang memang khusus untuk mengumpulkan sampah. Seorang ikhwan yang kukenal menyapa, “mbak mau bersihin sampah?” aku mengangguk, “di dalam ada sampah banyak banget.” Kami memutuskan ke dalam, karena disana pasti lebih mengganggu disebabkan sirkulasi udara lebih terbatas. Sempat agak ragu juga, sebab didalam pasti bau lebih menyengat, dan sarafku sensitif dengan bau-bauan tidak enak yang menyengat. Benar saja, bau darah membusuk sangat terasa. Sampah-sampah yang kami pungut pun banyak yang basah. Terasa sekali di kulit tangan, karena kaos tangan karet yang dipakai memang tipis. Tiba-tiba, “Hueekkk….” Aku menjauhi tumpukan sampah dibawah dipan seorang pasien. Baunya tidak bisa menahanku untuk tidak muntah. Aku kembali keluar, dihalaman ada banyak sampah kering, meski sampah basah juga ada. Sebuah perjuangan bagiku, ketika harus berhadapan dengan bau-bau tidak enak. Aku tidak menyangka bahwa akan membutuhkan slayer sebagai penutup hidung seperti yang dipakai oleh sebagian relawan. Alhamdulillah, beberapa saat kemudian muncul enam ikhwan yang juga ingin mengumpulkan sampah.
Jam di handphone menunjukkan hampir pukul 21.00. Aku memutuskan untuk pulang saja. Aku berpisah dengan teman kontrakan yang menyusulku tadi. Sampai didepan rumah, maksudnya kontrakan Karima, ternyata pintu di kunci. Untungnya kakek-nenek yang punya warung didepan kontrakan masih ada disana. “Tadi pada pergi ke utara. Katanya ke Sarjito,” kata sang nenek. Yang menyusulku Cuma dua orang, lainnya kemana ya? Pulsa terakhir kupakai untuk meng-SMS salah satu dari mereka. Ugh! Ternyata dia sudah mudik ke Wonosari, sepertinya daerah itu juga terkena gempa hebat. Akhirnya aku berinisiatif untuk mencari mereka diantara penduduk yang menggelar tikar di halaman Yayasan. Tidak ada tanda-tanda mereka. Sudah mulai malam, aku harus cepat-cepat mencari tempat. Kalaupun tidak di kontrakan atau bareng teman-teman, minimal ada tempat yang bisa kupakai untuk merebahkan tubuh. Paling parah, aku harus menggelar jaketku sebagai tikar. Alhamdulillah, aku sudah terbiasa tidur tidak dikamar yang nyaman. Mulai dari di karpet atau tikar masjid, sampai tidur di rerumputan beralas mantel tanpa atap atau beralas tikar basah diantara gerimis hujan Kaliurang pernah kujalani. Yah, setidaknya membantuku lebih mudah untuk survive malam ini.
Kuputuskan untuk mengecek kontrakan dulu, siapa tahu ada yang balik kesana. Sebenarnya aku punya kunci kontrakan, tapi dipinjam temenku yang Wonosari itu. katanya sih mau digandakan, tapi nggak tau sampai berbulan-bulan kok belum dikembalikan juga. Karena kupikir belum membutuhkannya, kudiamkan saja. Ternyata malam ini nasibku seperti ini. Dulu juga pernah, hujan-hujan aku pulang ke kontrakan dalam keadaan terkunci, akhirnya aku menunggu di teras sempit sampai datang salah satu penghuni yang membawa kunci. Kalau ada kendaraan sendiri mungkin lebih mudah, tapi yah…. Belum rezekiku (bye, bye… Azkar. Miss U…).
Bapak sebelah rumah menyarankan aku tidur di pos sebelah timur saja, yang dibuat oleh RT, kalau di Yayasan nggak ada atapnya, juga harus bawa tikar sendiri. Disana juga pria-wanita dicampur. Kalau di pos RT nggak. Kuturuti saran bapak itu, siapa tau anak-anak juga berada disana. Sampai disana aku malah bingung. Ada dua pos. ketika kutanyakan pada seorang cowok yang anak kos juga kayaknya, dia menjawab “itu RT-nya beda, jadi posnya juga beda.” Lha, kontrakanku masuk RT berapa ya? Kalau kuperkirakan sih nggak masuk dua-duanya. Kuputuskan untuk mendatangi pos sebelah selatan yang lebih dekat kontrakan, juga karena dari jauh kulihat ada jilbaber. Malam itu, aku memang tidur disana. Meski tidak kutemukan teman-temanku, lumayan bisa dapat teman baru, bisa mengenal ikhwan-akhwat pasutri yang setiap pagi selalu olah raga di sekitar yayasan (aku sih nggak olah raga disana, Cuma ngeliatin dari balkon ?) juga mengetahui kabar wilayah YK yang lain dari tv yang sengaja ditaro disana. Meski malamnya sempat terganggu karena hujan dan harus menunggu para bapak memasang atap rangkap, meski ternyata sebagian bajuku basah karena sebagian tikar yang kupakai terkena air hujan.
Ahad, 28 Mei
Sudah mulai fajar, ayam sudah berkokok. Jam di handphone menunjukkan pukul lima lebih, berarti tadi sudah adzan subuh, tapi belum ada yang bangun. Termasuk ikhwan-akhwat pasutri itu. Sementara akhwat lain teman bicaraku sepertinya memilih tidur dirumah, dia asli YK, yang tidak jauh dari pos. Aku tidak solat. Kuputuskan untuk tetap tidak tidur lagi. Baca al-ma’tsurat saja ah…. Sudah selesai aku membacanya ketika alunan murotal dari masjid Sendowo terdengar. What? Murotal itu biasanya disetel sekitar sepuluh menit menjelang adzan subuh. Wah, agaknya jamku terlalu cepat berputar. Iya sih, aku pakai dua kartu SIM, jadi harus men-set waktu berulang-ulang dan kadang tidak tepat. Tapi masak sampai sejauh itu? Ya sudah, akhirnya kuset ulang dengan waktu yang kira-kira pas, dimundurkan sekitar satu jam lah….
Sampai satu persatu warga sholat, sampai bosan aku bercerita dengan seorang akhwat (sepertinya mahasiswi S2) yang aku tidak tahu namanya, mentari belum muncul juga. Aku khawatir kalau kembali ke kontrakan saat masih gelap, teman-teman belum kembali. Apalagi jika mereka memilih mabit di Mardiyah, pasti menunggu mentari tersenyum di ufuk timur baru mau kembali ke kontrakan. Setelah langit agak berwarna baru aku pamit dan menanyakan nama akhwat itu. Ternyata… teman-temanku lengkap berada di kos dan semalam mereka juga tidur di ruang tamu. Ugh! Sebel juga, senyaman-nyamannya tidur di rumah orang, jelas lebih enak tidur dirumah sendiri. Mereka nggak ngajak-ngajak!
Suasana belum nyaman betul karena khawatir akan ada gempa susulan yang lebih dahsyat. Dari siaran radio dan tv ter-update, baru kami ketahui jumlah korban meninggal sudah mencapai lebih dari dua ribu orang. Ditayangkan juga kondisi rumah-rumah yang ambruk. Sebelnya, TVRI yang stasiun milik pemerintah Cuma menayangkan korban yang ada di Panti Rapih, sementara Sarjito en PKU nggak ditampilin. Kelihatan banget dari para suster yang wara-wiri di depan layar. Padahal kalau mau dapat gambaran yang jelas, Sarjito lebih mewakili sebab sebagian besar korban memilih kesana sampai halaman en pinggir jalan full pasien. Radio Sonora juga, stasiun radio yang paling cepat mengudara usai gempa itu menyiarkan kegiatan en wawancara dari Bethesda dan Panti Rapih doang, kelihatan banget mereka berada di satu grup yang sama.
Pagi-pagi seorang akhwat Karima meminta untuk membantu menemani anak-anak di Nurul Iman. Aku agak malas, coz baru menyalakan komputer untuk nyicil pe-er yang belum terselesaikan. Lagipula temenku itu mau nyuci dulu. Masa sih aku disuruh kesana sendiri? Terbayang suasana Nurul Iman. Akhwat-akhwatnya yang belum kukenal satupun. Dan kultur mereka agak berbeda dengan para aktivis kampus. Ah, itu hanya apologiku saja. Agak siang kami bertiga menyusul ke tempat masak ibu-ibu Blimbingsari yang sedianya akan disalurkan ke lokasi korban. Ternyata sudah hampir selesai, racik-racik hampir beres, tinggal masukin ke wajan saja. Sebenarnya kami bisa memanfaatkan untuk PDKT ke mereka meski terlambat, tapi sepertinya suasana akan terasa berbeda kalo nggak berjalan alamiah. Kami sudah merasa nggak nyaman duluan, “Ya udah, kita ke Mardiyah saja.”
Siang ba’da dhuhur, kami yang tersisa di kontrakan memutuskan untuk bantu-bantu di Mardiyah. Rencananya temanku yang Bantul mau sekalian mudik bareng temennya yang kerja di Sarjito coz bus ke arah sama belum ada yang trayek. Sementara temanku satunya sekalian mau nyari kakek yang kemarin dia temani en membantu mencari keluarganya. Aku sebenarnya lupa dengan tujuan kedua temanku itu. Aku sendiri terutama mo bantuin di dapur umum. Ternyata sudah penuh orang, mungkin ada hal lain yang bisa kulakukan. Akhirnya ngikut bagian pakaian pantas pakai. Mulai dari nyortir sampai distribusi ke pasien. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Disana ada yang nggak berjilbab juga, anak-anak UNY. Subhanallah… hati mereka pun terketuk untuk membantu.
Ada juga pengalaman teman yang mendapati korban tersinggung ketika ditawari pakaian. Lho, mana sempat sih kita kepikiran menghina orang? Niatnya pasti baik lah, buat bantuin nyari ganti baju. Tuh bapak lagi sensi kali ya…
Selama beraktivitas aku tidak melihat kedua temanku, termasuk di dapur umum. Aku lupa tujuan awal mereka, sehingga terpikir bahwa mereka sudah kembali ke kontrakan. Entah kenapa listrik di Mardiyah belum berfungsi sampai petang ini. Sebelum adzan aku telah kembali ke kontrakan. Ternyata lagi-lagi terkunci. Warung depan rumah sudah tutup. Akhirnya Cuma bisa call me ke nomor salah satu dari mereka dan menunggu mereka miscall sambil kuteriakkan “di kost,” atau “di Karima” agar mereka mengerti maksudku. Jadi ingat kebingungan teman-teman en saudaraku yang menanyakan keadaan karena SMS-nya aku cuekin. Maaf ya, bukan maksud untuk membuat kalian bingung.
Sayangnya hujan langsung turun deras. Meski mereka tahu aku tidak bisa masuk ke kontrakan, mereka pasti mengurungkan niat untuk segera kemari. Satu-satunya yang bisa menenangkan jiwaku adalah membaca al-ma’tsurat. Sampai adzan maghrib bergema, hujan masih deras. Sempat terpikir untuk berteduh di Nurul Iman, sebab Al-Mustaqim sepertinya didominasi oleh jamaah pria. Tapi masih hujan. Beberapa menit kemudian hujan reda dan kedua temanku tiba. Aku jadi teringat saat beberapa bulan lalu aku juga meringkuk di depan kos. Kali ini lebih parah karena hujan miring ke arahku sampai aku harus menutupi tubuhku dengan payung (alhamdulillah banget hari ini aku pas bawa payung), sampai tubuhku nggak kelihatan. Cuek saja saat beberapa orang lewat dan mendapati jilbaber meringkuk di depan kontrakannya sendiri. Biarin, emang gua pikirin! Semua sudah berlalu…
Petang ini baru ketahuan gempa kemarin pagi menyisakan bocornya genteng kontrakan. Lantai tangga basah oleh air yang mengalir ke lantai satu. Padahal, siang tadi putri ibu pemilik rumah menanyakan keadaan kami dan rumah yang kami tempati. Kami kira semua utuh, ternyata… yang jelas, kami jauh lebih beruntung daripada saudara-saudara di Bantul, Klaten dan sekitarnya yang terkena musibah.
Besok sepupuku dari Wonosobo akan kesini, bukan untuk apa-apa, Cuma aku minta dianterin jatah finansialku, meski beberapa hari lagi aku juga akan pulang. Kalau bisa bahkan aku mau pulang bareng mereka. Payah! Sepupuku belum punya SIM (driving licence), akhirnya aku harus menunggu keadaan normal untuk mudik. Sebenarnya bukan masalah normal-nggak normal. Tapi jika tetap disini, pasti ada banyak hal yang dibantu untuk meringankan beban para korban. Kalau nggak ngapa-ngapain, mending pulang saja.
Peristiwa ini juga membawa hikmah. Anak-anak Karima jadi lebih akrab, karena terpaksa bareng terus. Biasanya ada yang suka menyendiri di kamar en ogah di ganggu yang lain, atau ada yang berbeda pandangan sehingga jarang ngumpul dengan yang lain. Warung makan banyak yang tutup, terutama hari pertama dan pagi hari kedua, makanan agak susah didapat. Kalau mau membeli sebenarnya ada yang jual sekitar lima belas meter dari kontrakan, dekat banget jika dibandingkan warung yang lain dalam keadaan normal. Tapi momen ini membuat sebagian anak Karima bersemangat untuk memanfaatkan dapur. Ruang mini 1,5 x 2,5 meter itu menjadi pusat aktifivitas kami pada jam-jam makan. Jadi merasa seperti di rumah sendiri.
Anak-anak Karima yang lain memutuskan untuk tetap bersiaga di lantai satu. Sebagian warga juga masih bermalam di luar rumah. Tapi aku terlalu capek seusai mengetik rancangan tata tertib sidang umum mahasiswa yang rencananya akan diselenggarakan 29-30 mei ini. Juga rancangan AD-ART yang harus kuketik dan kususun ulang karena sampai hari ini aku belum memegang draft dari senat tahun lalu, baik hard maupun soft kopi. Dulu aku punya, karena dipinjam teman dan belum mendapatkan gantinya, harus lumayan memeras otak lagi. Malam ini aku tertidur di lantai atas.
Senin, 29 Mei
Sampai hari ini masih terdengar ratusan keluhan di radio. Dari warga yang mengaku daerahnya sama sekali belum terjangkau oleh bantuan logistik, tenda dan penerangan. Beberapa dari mereka kecewa dengan penyikapan Pemda Bantul yang lelet. Nama Bantul menjadi kondang ke seantero negeri akibat peristiwa ini. Ada juga himbauan bagi SPBU supaya nggak mengail di air keruh, menaikkan harga bensin sampai lima belas ribu perliter lantaran sebagian SPBU di wilayah selatan nggak bisa jalan.
Pagi-pagi kedua temanku membuat agar-agar dari bahan yang sudah dibeli hari Sabtu sore. Berwarna-warni dan ada yang memakai santan. Agar-agar itu rencananya akan didistribusikan kepada pasien di Sarjito (Hmm… kapan ya aku punya inisiatif sehebat itu?). Siang baru kami bungkusi dengan plastik sisa acara kemarin. Temanku yang Bantul sudah mudik ke rumah usai membuat agar-agar. Dari kabar yang dikirim, mereka selamat dan dikampung tersebut tidak ada korban jiwa. Tapi sebagian rumah penduduk ada yang roboh. Mereka memilih tinggal di tenda dan tanpa penerangan. Tak pernah ada yang menyangka, gempa tektonik karena patahan lempeng bumi akan mengguncang YK. Termasuk usai kejadian, saat semua mengira itu hanya karena aktivitas Merapi yang pada saat yang sama juga beraksi lebih dari biasanya.
Beberapa teman yang aseli YK juga terkena musibah. Kalau tidak ada keluarga yang meninggal, minimal rumah mereka rusak berat. (ada isu juga kalau UAS FMIPA bakalan di undur. Allahu a’lam, aku belum mengecek langsung ke fakultas.)
Ba’da dhuhur kami berdua menuju Sarjito. Dengan jumlah ‘bawaan’ yang hanya cukup untuk beberapa puluh orang saja, kami harus memilih area mana yang akan di ‘serang’. Setelah survei sana-sini, kami mendapatkan wilayah di bagian dalam yang agak terpisah dari yang lain. Maksudnya biar yang nggak dapat nggak merasa ada kesenjangan.
Usai membagikan, tepat pas adzan ashar berkumandang kami menuju Sarjito, membantu akhwat-akhwat yang sedang meracik bahan. Mardiyah Center, itu nama pusat bantuan en relawan disana. Dapur umum sendiri terbagi menjadi tiga bagian; bagian meracik bahan dan bumbu (dihalaman sebelah utara), bagian memasak, menggoreng dan sebagainya (di depan tempat wudhu putri) serta bagian mengolah adonan dan membungkus (di ruang B).
Kami mendapat jatah mengiris bawang merah. Lima-sepuluh menit bisa tahan. Menit-menit berikutnya air mata sudah mengalir deras terkena uap getah bawang. Jadi ingat judul tulisan di sebuah <a href="http://bayu-pri.web.ugm.ac.id/">web log temanku </a>yang berjudul “Kekecewaan dan Kesedihan Tanpa Air Mata”. Kayaknya nasib kami kali ini berkebalikan menjadi “Air Mata Tanpa kekecewaan dan Kesedihan”. ?
Karena salah satu penghuni kontrakan yang baru mudik ada yang mau balik tanpa membawa kunci, nggak sampai satu jam kemudian kami kembali ke kontrakan.
Sejak hari ini, helikopter wara-wiri diatas kos kami mengantarkan bantuan ke lokasi. Anak-anak Blimbingsari (Karang Taruna, Nurul Iman etc) juga langsung terjun ke lokasi.
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin dan bisa dibantu untuk para korban. Terutama di lokasi gempa wilayah selatan YK. So, kalau teman-teman diberi kemudahan menuju kesana, pliz deh bantuin mereka. Lagian, apa serunya hidup kalau kita Cuma memikirkan diri sendiri.[]
—catatan pribadi delapan halaman times new roman 12 poin spasi 1-
Al-Mustaqim : Masjid dengan pesantren putra Salafy, Sendowo ujung selatan
Bethesda : RS Bethesda, milik yayasan nashara, terletak di Jl Urip Sumoharjo
Blimbingsari : kampung lokasi kontrakan kami, sebelah barat kampus Sekip UGM
Karima : kontrakan muslimah kami, artinya “kemuliaan”, terletak di Blimbingsari ujung utara
Mardiyah : Masjid Mardhiyah, terletak di Jl Kesehatan, selatan RS DR Sardjito
Nurul Iman : Masjid Nurul Iman Blimbingsari, terletak di tengah kampung Blimbingsari
Panti Rapih : RS Panti Rapih, milik yayasan nashara, terletak di Jl Cik Ditiro
PKU : RS PKU Muhammadiyah, terletak di Jl KHA Dahlan
Sarjito : RS DR Satdjito, terletak di Jl Kesehatan, barat FK UGM
Sonora : Radio Sonora, salah satu stasiun radio swasta di YK