Arsip tag akhwat

Beberapa Faktor & Alasan Kenapa Mereka Terlambat Menikah

22 Jun

Oleh : Al-Ustadz Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir

Diantara realita yang sering kita temui banyaknya wanita yang terlambat menikah, atau bahkan laki-laki yang terlambat menikah hal ini adalah sebuah permasalahan yang harus dicarikan penyebab dan solusinya. Apalagi tak jarang sebagian mereka terjatuh dalam perbuatan maksiat. Dibawah ini diantara sebab dan alasan kenapa banyak para pemuda dan pemudi kaum muslimin yang terlambat menikah :

Pertama : Lemahnya pemahaman tentang agungnya syariat menikah Diantara faktor kenapa banyaknya orang yang menunda menikah tanpa alasan syar’i atau terlambat menikah adalah karena lemahnya pengetahuan seseorang tentang agungnya syariat menikah, atau manfaat yang besar yang terkandung didalamnya. Padahal selain merupakan perkara fitrah manusia menikah mempunyai manfaat dan kebaikan yang sangat banyak, baik kebaikan yang sifatnya dalam urusan dunia ataupun akhirat seseorang. Cukuplah jika sendainya setiap orang mengetahui bahwasannya dengan menikah seseorang akan terpenuhi kebutuhan biologisnya secara aman dan halal, menjadi sebab terjaganya dia dari perbuatan maksiat, mendapat ketenangan hidup dan memperoleh keturunan membuat ia tergerak untuk menikah. Banyak dalil tentang hal itu. (lagi…)

Psikologi Suami Istri, Memahami Karakter Dasar Pria dan Wanita

12 Sep

Awal Ramadhan lalu saya sempatkan untuk membaca buku Psikologi Suami Istri milik teman saya. Sudah dua-tiga bulan berada di tangan saya, namun hal lain lebih menyita perhatian saya dari buku itu. Karena buku 700 halaman itu lumayan memakan tempat di rak buku, saya harus segera mengembalikannya, dengan konsekuensi membacanya terlebih dahulu. Rasanya sayang jika ada ilmu dan pengetahuan baru untuk saya lewatkan begitu saja.

 

Sedikit mengikhtisarkan isi buku tersebut, karena memang tidak bisa di sebut resensi. Seratus halaman pertama saya baca dengan susah payah, karena saya teramat jenuh dan bosan membaca pembahasan yang bagi saya berulang-ulang dan bertele-tele. Memang ada beberapa tipe penulis yang seperti itu. Namun memang bukan salah si penulis, karena memang kadang saya merasa memiliki energi lebih untuk memikirkan atau melakukan sesuatu sehingga sering irama saya tidak sama dengan orang lain, dengan penulis buku yang saya baca atau dengan partner aktivitas. Hal ini kadang menjadi sumber kejengkelan saya karena menuduh orang lain terlalu lambat dan sebagainya. Begitu juga untuk selera musik, meski bisa menikmati lagu-lagu melow, saya lebih sering mendengarkan musik dengan beat cepat, diiringi dentum drum yang dinamis dan atraktif, lengkap dengan bass dan suara pelengkap lain dari mixer dan turn table. Lagu jedug-jedug lah… Seorang sahabat sampai berkata, “Tolong kopikan lagu ya, mana aja yang kamu nggak suka,” karena dia lebih menyukai lagu-lagu berirama lembut.

(lagi…)

=oo00 dimulai dengan ilmu 00oo=

20 Agu

Sebuah forum diskusi pada sebuah grup di Facebook menulis topik ini.

Ikhwan Searching For Akhwat: Passive or Active Mode?

“Ada dua ‘mode pencarian’ yang ada saat ini :
Mode 1, Passive Mode. Si ikhwan masih bersikap pasif, saklek mengikuti tata cara umum. Dia nungguin MRnya ngasih alternatif2 biodata2 untuk dipilih, baru dia pilih dari biodata2 yg ditawarin itu.

Mode 2, Active mode. Si ikhwan bersikap aktif dan berinisiatif sendiri dlm mencari akhwat idamannya. Dia cari kesana-kemari melalui berbagai media atau event, inget2 temen lama, dsb. Trus klo udah dapet baru dia laporan sama MR klo dia udah dapet calon idamannya.

“Nah, pertanyaannya, menurut antum mana cara yg paling baik, aktif mode or pasif mode kah? Berikan alasannya, plus minusnya, dsb. Dan jujur, antum sendiri lebih prefer untuk pake cara yg mana?” (lagi…)

Hari Gini, Ga Ngaji?!

18 Apr

Iya, heran juga kalo mendengar pernyataan temen-temen; masa muda (remaja) itu masa mencari jadi diri. So, harus nyoba macam-macam biar tahu mana yang baik, mana yang buruk untuk mencari yang terbaik. Kasihan juga ya kalau harus mengorbankan waktu, tenaga en pikiran hanya untuk sesuatu yang coba-coba. Apalagi kadang sebelum nemuin apa yang kita cari, sangat mungkin kita udah kejebur duluan en ga bisa keluar lagi. Iya kalo kecebur pada aktivitas positif, kalo kecebur di kubangan maksiat?! Rugi, atuh.

Rata-rata usia manusia jaman ini enam puluh lima tahun. Jika kita terlalu sibuk bekerja atau punya kebiasaan ga baik, usia kita bisa kepotong karena berbagai penyakit krnis yang menghampiri. Jika sudah begitu, kemungkinan usia kita sampai empat puluh atau lima puluh tahun saja. Dari usia itu, dua puluhan tahun udah kita jalani. Sisanya akan kita habiskan untuk makan, istirahat dan bekerja atau belajar. Usia kita segitu pendek man! Bete ga seeh bayangin selama puluhan tahun hidup kita berputar-putar pada tiga titik itu? Jika kita mementingkan kepentingan tubuh saja, ga ada bedanya dong sama mesin.

Untuk saat ini mungkin kita ga sebete itu. Masih ada kesempatan tuk having fun. Apalagi tanggungan hidup kita masih dipenuhi oleh ortu.Masih ada kesempatan untuk bersenang-senang. But, tentu saja akan lebih bagus kalo hidup kita berpijak pada pijakan yang pasti. Bukan cuma untuk memenuhi kebutuhan perut. (Kalo dipikir-pikir, suer… apa yang kita kerjakan larinya ke perut juga). Sekolah, kuliah, belajar, bekerja, buat cari makan toh? Dan sama sekali ga membanggakan jika kita hanya mengikuti para trendsetter dunia. Sekali-kali, kita jaadi trendsetter dong. Bikin kek ide baru, sesuatu yang berbeda (yang baek-baek aja lah…) en jadilah pioneer, mengawali mainstream yang diikuti oleh manusia sejagat. Masa kita cuma jadi konsumen, jadi pecundang. Masa seumur hidup kita mo berkiblat sama tren, musik en artis terus. Sekali-kali gantian mereka yang ngikutin kita ya.

Apa yang kita jalani, nilai-nilai yang kita pegang teguh, itu sesuatu yang ga abadi Man! Ga bisa dijaidin pijakan. Jika ga berdasar pada ‘buku panduan’ penciptaan kita. Dan tentu saja ga bisa jamin qta bisa hidup selamet. To the point aja, cuma mau ngajak temen-temen mulai membaca en memahami ‘buku panduan’ itu. Caranya? Belajar lah… baca buku, nyari di internet, tanya Ustadz. Hari gini, ga ngaji?!

Pacaran Islami, Yang Bener Aja!

10 Des

[tanggapan atas tulisan yang dimuat dalam fauzansa.wordpress.com]

Dari judulnya saja pasti sudah bisa diketahui saya berada pada pihak yang berbeda dengan isi tulisan tersebut. Saya rasa, penulis adalah orang sangat rasional dan mementingkan logika. Ya, mungkin saya memang tidak memiliki argumen yang se-ilmiah dia, tapi dengan mengeluarkan pikiran yang ada diotak saya dan bisa berbagi pengalaman dengan teman-teman, tentu bukan sesuatu yang merugikan.

Dalam tulisannya penulis mengemukakan argumen yang membawa kita pada kisah-kisah sahabiah (sayang saat saya menulis ini, saya lupa membawa kopian tulisannya). Penulis mengatakan tidak adanya hadis yang menyatakan bahwa pacaran dilarang secara tegas, sebagai pijakan untuk mengatakan bahwa pacaran bersifat netral. Afwan, saya tidak sedang menganalisa tulisan, jadi mungkin apa yang disampaikan tidak menanggapi poin per poin dari tulisan itu.

Yang saya catat adalah penulis lupa bahwa larangan ber-’pacaran’, selama ini diidentikkan dengan mendekati zina, karena lebih dari satu dua hal yang telah dibantah dalam tulisannya. Secara tegas, Rasullullah telah menyebutkan bahwa manusia pasti akan terbawa ke dalam zina (kecil); zina hati, zina mata, zina telinga, zina kaki. Ini terjadi karena sifat fitrah manusia yang memiliki kecenderungan terhadap lawan jenis. Saat seseorang membiarkan zina-zina kecil bertebaran, bukan tidak mungkin dia akan menganggap remeh terjadinya zina yang sesungguhnya (amargo wis kulino).

Kemudian lebih ekstrim lagi Allah telah melarang kaum muslimin untuk berikhtilat, bercampur baur antara kaum pria dan wanita, meski untuk tujuan yang jelas, misalnya belajar. Apalagi khalwat yang jelas-jelas hanya berdua. Disini saya beranggapan khalwat bukan sekedar berdua di taman yang sepi atau di rumah kosong. Rame-rame, di halaman masjid, kalau berpasang-pasangan tidak ada bedanya, bukan?

Diluar itu sebagai seorang muslim yang sadar diri (insya Allah, kabulkan ya Rabb…) dan cukup paham terhadap Ad-Dien, ada beberapa hal yang dianjurkan untuk dilakukan sebagai mana generasi salafy telah melakukannya (kok jadi seperti tips ya, nggak papalah, saya belum menemukan kalimat yang lebih pas), misalnya tidak berlebihan dalam melakukan sesuatu yang mubah, karena hal itu dapat memperkeruh hati (misalnya mendengarkan musik, rihlah). Apalagi melakukan sesuatu yang subhat, (bagi saya, dalam tulisan tersebut kita diposisikan sebagai seorang yang berada di persimpangan jalan alias ragu-ragu), karena hal yang subhat lebih dekat kepada haram.

Saat membaca tulisan itu, sungguh menurut saya kacau sekali sebenarnya. Meski menggunakan bahasa yang runtut, kisah-kisah yang kasat mata, argumen yang panjang, tetap tercermin ada banyak sisi-sisi lain yang belum diketahui oleh penulis. Semoga bukan karena kita berusaha memandangnya dengan satu frame saja. Semoga bukan karena kita terpengaruh oleh provokator teman-teman Islam Liberal, tetapi ikhlas diniatkan untuk keridhaan Allah semata.

Saya percaya, frens fillah yang merasa bangga sebagai seorang muslim, tidak akan mengambil resiko konyol terpeleset pada hal yang bukan haq. Mudah-mudahan Allah membuka hati kita untuk terus mencari kebenaran. Semoga dengan upaya kita untuk menjaga pandangan, Allah akan mengkeruniai dengan manisnya iman.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.(QS. Al-Ahzab : 36 )

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 77 pengikut lainnya.