Arsip tag kampus

Hari Gini, Ga Ngaji?!

18 Apr

Iya, heran juga kalo mendengar pernyataan temen-temen; masa muda (remaja) itu masa mencari jadi diri. So, harus nyoba macam-macam biar tahu mana yang baik, mana yang buruk untuk mencari yang terbaik. Kasihan juga ya kalau harus mengorbankan waktu, tenaga en pikiran hanya untuk sesuatu yang coba-coba. Apalagi kadang sebelum nemuin apa yang kita cari, sangat mungkin kita udah kejebur duluan en ga bisa keluar lagi. Iya kalo kecebur pada aktivitas positif, kalo kecebur di kubangan maksiat?! Rugi, atuh.

Rata-rata usia manusia jaman ini enam puluh lima tahun. Jika kita terlalu sibuk bekerja atau punya kebiasaan ga baik, usia kita bisa kepotong karena berbagai penyakit krnis yang menghampiri. Jika sudah begitu, kemungkinan usia kita sampai empat puluh atau lima puluh tahun saja. Dari usia itu, dua puluhan tahun udah kita jalani. Sisanya akan kita habiskan untuk makan, istirahat dan bekerja atau belajar. Usia kita segitu pendek man! Bete ga seeh bayangin selama puluhan tahun hidup kita berputar-putar pada tiga titik itu? Jika kita mementingkan kepentingan tubuh saja, ga ada bedanya dong sama mesin.

Untuk saat ini mungkin kita ga sebete itu. Masih ada kesempatan tuk having fun. Apalagi tanggungan hidup kita masih dipenuhi oleh ortu.Masih ada kesempatan untuk bersenang-senang. But, tentu saja akan lebih bagus kalo hidup kita berpijak pada pijakan yang pasti. Bukan cuma untuk memenuhi kebutuhan perut. (Kalo dipikir-pikir, suer… apa yang kita kerjakan larinya ke perut juga). Sekolah, kuliah, belajar, bekerja, buat cari makan toh? Dan sama sekali ga membanggakan jika kita hanya mengikuti para trendsetter dunia. Sekali-kali, kita jaadi trendsetter dong. Bikin kek ide baru, sesuatu yang berbeda (yang baek-baek aja lah…) en jadilah pioneer, mengawali mainstream yang diikuti oleh manusia sejagat. Masa kita cuma jadi konsumen, jadi pecundang. Masa seumur hidup kita mo berkiblat sama tren, musik en artis terus. Sekali-kali gantian mereka yang ngikutin kita ya.

Apa yang kita jalani, nilai-nilai yang kita pegang teguh, itu sesuatu yang ga abadi Man! Ga bisa dijaidin pijakan. Jika ga berdasar pada ‘buku panduan’ penciptaan kita. Dan tentu saja ga bisa jamin qta bisa hidup selamet. To the point aja, cuma mau ngajak temen-temen mulai membaca en memahami ‘buku panduan’ itu. Caranya? Belajar lah… baca buku, nyari di internet, tanya Ustadz. Hari gini, ga ngaji?!

Harakah-harakah itu… [sori, iman gw bukan iman logika]

15 Jan

Dua taon lalu sobat akrab gw nawarin sebuah kajian, meski merasa agak ganjil, gw ikutin juga. Apalagi selama ini diantara kami sudah saling mempercayai. Disana, gw di “doktrin”. Yup, kerasa banget ustadnya yang focus ke gw dibanding dua peserta lainnya, salah satunya sobat gw itu. Aneh juga, kajian pesertanya cuma tiga akhwat dengan ustadz seorang ikhwan. Disana gw ditunjukin ayat-ayat Al-Qur’an secara beruntun yang menggiring pemahaman gw tentang afiliasi kepada Islam.

Setiap gw menyanggah, ustadz berargumen sampe gw yakin bener. Saat itu, semangat gw buat berkorban untuk Islam begitu membara. Cuma, ujungnya gw ngerasa ganjil pas ustadnya maksa buat “hijrah” en berinfak sekian rupiah yang bagi gw lumayan gede jumlahnya. Pas gw bilang “kan ga ada paksaan buat berinfak? Apalagi dengan nominal yang ditentukan”, gw disodorin dalil bila gw milih keluarga, harta en orang yang gw cintai dibanding Allahdan rosul-Nya, maka azab akan menimpa gw. Beliau jg bilang mungkin kesempatan itu ga akan datang dua kali ke gw. Selain otak gw belum bisa menerima logika yang terakhir, Allah memang berkehendak belum saatnya gw “berbaiat” kepada mereka, waktu itu gw lagi bokek, mana bisa gw dipaksa infak keesokan harinya? :)
Dikemudian hari gw tahu bahwa mereka adalah salah satu gerakan yang telah dilarang oleh pemerintah lantaran ajarannya yang sesat. [thanx sist, for this experience. Istiqamah yo…]
Sekitar satu semester lalu gw terhenyak, memandangi tulisan-tulisan dalam sebuah buku di kamar kos mantan temen seperjuangan gw (sekarang kita ga pernah berjuang bareng sih) yang isinya tuduhan penipu, pembual, pembohong en ahli bid’ah kepada penulis buku lain en kepada seorang pemikir pergerakan Islam yang gw kagumi.
Belum lama ini gw menemukan seseorang yang belum begitu gw tahu perihal dirinya. Selama gw kuliah di MIPA en ngikut kegiatan sana-sini, gw baru nemuin orang yang se-rasional dia langsung didepan mata gw. Argumentasinya runtut dengan berbagai dalil en nash tapi dengan cara pandang yang berbeda dari yang gw pahami. [I’m sorry for tell about U, but gw percaya ada sesuatu yang ingin Allah tunjukkan ke gw]
Beberapa hari yang lalu gw juga diskusi dengan seseorang yang lagi-lagi belum begitu gw kenal. Mahasiswa seusia gw yang (menurut gw) ekstrim, pernah pindah harakah en tengah bergerilya dengan dakwahnya. Santun cara bicaranya, sabar, membuat gw merasa enjoy meski kadang-kadang gw lupa mo ngomong apa sama dia (kekurangan gw neeh!). Pandangan gw sama dia berubah seelah gw baca profilenya bahwa dia kelak akan menjadi saksi dihadapan Allah tentang kekufuran gw en sodara-sodara gw (dia nyebutin institusi yang identik dengan gerakan Islam dimana gw berada). Dan gw baru tau, dia diskusi sama gw juga ada kaitannya dengan hal itu.
Beberapa hari berikutnya gw chat dengan seseorang karena gw pingin tahu metode dakwah sebuah gerakan, yang gw tau temen gw tuh berafiliasi kesana. Lazim, bila kami saling mengemukaan argumen saat terjadi ketidak-sepahaman. Kadang kami sama-sama ‘ngeyel’ atw mbandel. But alhamdulillah kami masih saling menghormati untuk tidak meninggalkan sebuah noda dihati saat diskusi berakhir.

Subhanallah… betapa bervariasinya kita. Sama-sama bersyahadat, sama-sama sholat. Dari peristiwa-peristiwa itu gw menemukan benang merah tentang sistem dakwah dalam harakah. Kita memang berbeda dalam beberapa hal. Jangankan sekarang, saat Muhammad SAW masih hidup, pernah didatangai dua orang yang bertikai karena selisih pendapat. Dan dengan segala kelapangan hati rosul bersikap diam, dalam artian tidak ada yang beliau salahkan dari kedua pendapat itu.
Yang sering mengambil jatah waktu paling lama dalam diskusi gw adalah tentang salah satu metode dakwah yang gw yakini, masuk ke dalam sistem (politik, ekonomi, hukum etc) yang ada. Sebagian harakah menganggap sistem yang ada saat ini sekuler, buatan orang kafir yang bagi muslim haram terlibat didalamnya. Secara tidak langsung kalau seperti itu berarti kita telah menjauh dari masyarakat. Dari buku yang gw baca, bersikap negatif terhadap masyarakat itu bertentangan dengan tabiat Islam. Fenomena istikhnaf itu, membuat dakwah dan dai tidak mampu mengenal dan menguasai objek dakwah. Ibarat dokter yang tidak memahami penyakit pasien. Bagaimana bisa mengobati? [Istikhnaf, keengganan untuk bergabung dalam masyarakat, instansi atau berbagai organisasi yang ada (Fathi Yakan, 2005)]
Dengan bersikap seperti itu berarti kita memberi kesempatan kepada musuh-musuh Islam menyebarkan opini ditengah masyarakat dan memanfaatkannya untuk memusuhi dan menyerang berbagai pergerakan dakwah dan Islam itu sendiri sehingga memudahkan mereka untuk menduduki negeri-negeri muslim. Pada akhirnya negeri ini dan tanah air umat Islam yang lainnya tidak bisa kembali lagi dipimpin Islam.
Tentu saja gw ga rela , untuk memberi kesempatan bagi musuh-musuh Islam itu untuk menguasai dan menjadi penentu kebijakan di negeri-negeri muslim sehingga mereka semakin mudah memerangi Islam dan umatnya. Gw sama sekali ga rela, jika instansi pemerintahan menjadi sarang musuh-mush Islam dan menjadi pengjalang utama gerak dan laju pergerakan Islam.
Kalau rosul telah melarang kita memilih pemimpin yang dzalim atau bukan dari golongan kita, bukankah sudah saatnya kita mempersiapkan diri untuk memegang tampuk kepemimpinan berikutnya? Hidup, problematika umat dan cita-cita kita untuk menegakkan khilafah, terlalu komplek kalau hanya untuk dipelajari melalui buku-buku, literatur lain atw hanya melalui diskusi dan kajian saja. Kita memerlukan orang-orang pilihan yang teruji dan terasah profesionalitasnya, sebagaimana Allah menyukai bila kita mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Semua itu memerlukan persiapan yang tidak semudah membalik telapak tangan.
Alasan bahwa politik itu kotor dan terlaknat atau alasan bahwa sistem yang ada tidak islami dan alasan lainnya sebenarnya tidak pernah diakui Islam. Pilihan sikap yang diambil selama baru berdasarkan ijtihad yang masih memungkinkan terjadinya kekeliruan. Jika istikhnaf yang kita pilih, maka dakwah hanya menjadi dakwah orang-orang shalih namun tidak bisa memperbaiki masyarakat sekitarnya.

Sodara-sodara yang gw ceritakan itu semuanya hebat. Hafal banyak dalil dalam setiap argumentasinya (gw yang ingatannya lemah, lantaran kena radiasi PC kali ya ?, jelas kalah jauh), menggunakan alur logika yang sangat rasional untuk diterima manusia, analisanya bagus dan wawasannya lumayan.
Sayangnya, buat gw pribadi, (dan mudah-mudahan) tidak bisa menerima argumentasi-argumentasi tesebut. Selama ini gw belajar Islam dan menjadi seorang muslim memang tidak menggunakan rasionalitas. Saat pertama gw berazam, bukan karena gw disodori sederetan dalil dengan alur logikanya. Iya, silahkan tunjukkan ayat en hadis dengan tafsirnya kemudian menghubungkan dengan yang lainnya. Tapi, itukan tafsir versi lu atau versi rujukan lu. Versi rujukan gw mungkin berbeda. Tanpa mengesampingkan dalil-dalil tertulis, gw lebih mempercayai kekuasaan Allah yang langsung gw alami. Lu bilang gw nurutin  nafsu gw (An-Najm:3, Al-Jatsiyah:18, Al’A’raaf:176). Sejauh mana lu bisa liat isi hati gw? Saat protes gw sholat tapi lu nganggap gw kufur, lu tambah memvonis sebenernya gw ga solat, karna bagi lu gw masih berlaku keji dan mungkar lantaran ga sepakat dengan pendapat lu (negasi Al-Ankabut:45) atau lu nganggap sholat gw cuma siulan en tepukan (Al-Anfaal:35). Tentunya gw juga memiliki pemahaman tentang ayat-ayat tersebut yang ga semuanya persis kayak yang lu pahami.
Yang jelas, gw tetep enjoy karena selama gw beraktivitas, gw ga menimbulkan fitnah en mudharat di kalangan kaum muslimin. Apalagi pada dasarnya tujuan kita adalah untuk membangun umat, lillahi ta’ala. Sekaligus gw bangga, jika apa yang gw lakuin akan menyulitkan or menimbulkan kegalauan dihati mereka, musuh-musuh Islam.
Gw lebih percaya dengan tangan Allah daripada mulut manusia. Gw yakin, gw orang baik-baik. Gw juga yakin, dengan keikhlasan en kepasrahan itu Allah akan menunjukkan jalan bwt gw, mana jalan yang baik bagi gw. Jika saat ini gw berada dalam kesesatan kebid’ahan, kekufuran seperti yang lu voniskan, Allah pasti bakal nyelametin gw dari sini. But, untuk saat ini, gw sudah mantap dengan apa yang gw jalani. Jika memang sesat, bid’ah, kufur, bagaimana bisa selama setengah abad ini tetap bertahan bahkan berkembang di berbagai dunia, kalau bukan karena kebesaran dan ridha Allah semata? Gw akui, salut sama lu yang tetep keukeuh buat meyakinkan gw. Gw udah lebih yakin dari yang lu kira kok.
Salah satu keprihatinan gw, saat ini perhatian kita masih terbagi. Sudah jelas tujuan kita menegakkan khilafah Islamiyah, kenapa kita tidak menyegerakannya dan malah bersibuk ria untuk bersengketa dengan sodara harakah yang lain? Dibanding capek nulis artikel, nyusun buku, atw bikin strategi “meluruskan” harakah lain (yang bagi gw lebih tepat dibilang menyudutkan, memvonis, men-judge), ada banyak permasalahan yang lebih layak tuk kita pikirkan. Bukankah kita sama-sama sholat, puasa, berhijab, baca Al-Qur’an. Kenapa kita ga milih buat ngajak mereka yang belum sholat, ngajak yang puasanya masih bolong-bolng, atau yang masih gundulan? Atau kita milih bikin teknologi buat ngebom markas zionis laknatullah? Hal-hal yang lebih pasti dan tidak menimbulkan persoalan baru. Yup, gw salut lu mendakwahi gw, temen-temen gw yang lain, yang belum berhijab, yang enggan ke masjd, yang suka dugem juga berhak buat lu dakwahin juga.

Btw, gw nemu nih, sebuah hadis yang pas banget dengan amanah gw sekarang di Senat Mahasiswa; “Siapa yang menjadi penghubung bagi saudaranya kepada orang yang memiliki kewenangan untuk menyampaikan suatu kebajikan atau memasukkan kebahagiaan, maka Allah mengangkatnya pada derajat yang tinggi si surga.” [HR Thabrani]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 77 pengikut lainnya.